Teuku Saifullah: Jurnalis Murni, Garda Depan Kemanusiaan, dan Suara Lantang Akar Rumput
Foto : Teuku Saifullah | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Teuku Saifullah, S.E., yang lebih akrab disapa Ponlah atau Ampon Tok, merupakan representasi nyata dari sisa-sisa idealisme gerakan mahasiswa yang berhasil mempertahankan integritasnya di era modern. Namanya di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh tidaklah asing, terutama di kalangan kuli tinta, birokrat, hingga elemen masyarakat sipil. Lahir dan besar dalam iklim sosiologis Aceh yang dinamis, ia meniti jalan hidup yang sarat dengan cita-cita perjuangan dalam menyuarakan kebenaran serta berani berdiri di garda terdepan untuk membela kaum termarjinalkan.
Jauh sebelum dirinya dikenal sebagai nakhoda media siber, masa muda Teuku Saifullah diwarnai oleh hiruk-pikuk gerakan jalanan pada akhir dekade 1990-an. Sebagai bagian dari aktivis 98, Ponlah terlibat aktif dalam gelombang pergerakan mahasiswa yang menuntut perubahan struktural dalam sistem pemerintahan Indonesia kala itu.
Keterlibatannya dalam pusaran Reformasi 1998 telah membentuk mentalitas kritis, ketangguhan fisik, serta ketajaman berpikir yang menjadi fondasi karakter kepemimpinannya di masa depan.
Pengalaman menjadi aktivis 1998 memberikan pelajaran berharga bagi Saifullah tentang bagaimana sebuah kekuasaan harus dikawal dan dikritik agar tidak melenceng dari kepentingan publik.
Ketika fajar reformasi menyingsing dan banyak rekan sejawatnya memutuskan untuk beralih haluan memasuki panggung politik praktis atau mengejar jabatan legislatif dan eksekutif, Saifullah memilih jalan yang berbeda. Ia secara sadar menjaga jarak dengan partai politik guna mempertahankan independensi pemikirannya yang murni sebagai seorang pejuang sosial.
Latar belakang pendidikan formal yang ditempuhnya hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) di Unsyiah turut memperkaya sudut pandangnya dalam melihat ketimpangan sosial dan tata kelola daerah. Perpaduan antara pemikiran logis akademis di bidang ekonomi dan semangat berapi-api khas aktivis menjadikannya sosok yang jeli dalam melihat potensi sekaligus borok pembangunan di tanah kelahirannya. Keahlian manajemen inilah yang ia terapkan untuk membangun institusi kemanusiaan dan media di luar sektor pemerintahan.
Menyadari bahwa perjuangan membela hak-hak rakyat tidak lagi harus dilakukan dengan demonstrasi di jalanan pasca-Reformasi, Saifullah bertransformasi dengan memanfaatkan kekuatan pena. Langkah strategis ini ia wujudkan dengan mendirikan dan mengelola portal berita daring lokal Liputan Gampong News. Melalui media siber tersebut, ia memposisikan diri sebagai pembawa suara masyarakat akar rumput di wilayah pedesaan (gampong) di Aceh yang sering kali luput dari radar media arus utama.
Di dalam struktur manajemen Redaksi Liputan Gampong News, Teuku Saifullah mengemban amanah besar dengan menduduki jabatan ganda sebagai Pimpinan Umum sekaligus Manajer HRD. Dua posisi krusial ini menuntutnya untuk tidak hanya jeli dalam mengarahkan kebijakan redaksional yang tajam, melainkan juga harus mampu menyejahterakan serta membina kapasitas moral dan intelektual para jurnalis yang bekerja di bawah naungannya.
Jiwa kepemimpinan Saifullah kembali menemukan wadahnya ketika ia dipercaya oleh rekan-rekan seprofesinya untuk menakhodai Komunitas Jurnalis (KJ) Pidie Jaya untuk periode 2022–2025. Di bawah kepemimpinannya, KJ Pidie Jaya menjelma menjadi rumah bernaung yang solid bagi seluruh wartawan lintas media di daerah tersebut. Ia selalu menegaskan bahwa organisasi pers bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan sebuah instrumen kolektif yang wajib menjaga kekompakan demi mengontrol jalannya roda pemerintahan daerah.
Sebagai jurnalis yang paham betul arti kebebasan berpendapat, Saifullah dikenal sangat vokal dan tanpa kompromi jika menyangkut keselamatan serta hak-hak para jurnalis. Ia kerap kali berdiri paling depan untuk mengecam segala bentuk arogansi, intimidasi, maupun kekerasan fisik yang menimpa wartawan saat bertugas di lapangan. Baginya, menyerang seorang jurnalis yang sedang mencari kebenaran sama saja dengan mengkhianati amanat Reformasi 1998 yang dulunya ia perjuangkan dengan taruhan nyawa.
Selain mendedikasikan diri di dunia pers, kepedulian Ponlah terhadap masa depan daerahnya juga mewujud pada kelestarian alam. Ia dikenal sebagai aktivis lingkungan yang getol menyuarakan isu-isu ekologi lokal demi menjaga paru-paru bumi Pidie Jaya tetap lestari. Komitmen nyata ini ia buktikan dengan menduduki posisi penting dalam roda kepengurusan komunitas lingkungan hidup Pijay Gleeh (Pidie Jaya Bersih), di mana ia aktif mengedukasi masyarakat dan mengadvokasi kebijakan hijau. Sepak terjangnya di bidang sosial bahkan jauh lebih mengakar melalui advokasi kesenjangan sosial yang tak kenal lelah. Saifullah dikenal sebagai motor penggerak yang vokal mendorong pemerintah daerah agar setiap kebijakannya benar-benar berpihak pada masyarakat akar rumput. Ia memimpin berbagai aksi solidaritas nyata, mulai dari penggalangan dana bagi warga miskin yang didera sakit parah, hingga menginisiasi pembangunan rumah layak huni bagi kelompok masyarakat rentan yang selama ini hidup termarjinalkan akibat kemiskinan ekstrem.
Sebagai bentuk pelembagaan misi kemanusiaan tersebut, Teuku Saifullah tampil menjadi salah seorang inisiator utama berdirinya Masyarakat Pidie Jaya Peduli (MPP). Lembaga sosial kemanusiaan ini tumbuh menjadi institusi yang sangat eksis dan tepercaya dalam menjembatani kedermawanan publik di Aceh. Di bawah sentuhan manajerialnya yang transparan, MPP berhasil menggalang ratusan juta rupiah untuk dana bantuan bencana, termasuk menggerakkan bantuan internasional saat tragedi gempa bumi melanda Turki hingga aksi solidaritas global bagi rakyat Palestina.
Keunikan Saifullah dalam melakukan gerakan sosial terletak pada kemampuannya menggalang simpati secara kreatif dari seluruh lapisan masyarakat bawah. Penggalangan donasi yang ia pimpin tidak hanya menerima kontribusi berupa uang tunai, melainkan juga barang-barang bekas layak pakai, bahkan hingga donasi unik seperti sepeda ontel. Melalui jaringan luas yang dimilikinya, Ponlah mengemas barang-barang tersebut ke dalam acara lelang kemanusiaan, di mana seluruh hasil penjualannya dikonversi menjadi dana segar bagi penerima manfaat. Kemudahan dalam menggerakkan aksi filantropi ini didukung oleh kepribadiannya yang ramah, sopan, dan santun dalam bergaul dengan lintas sektoral, baik terhadap kalangan birokrasi, institusi TNI, Polri, maupun pejabat publik lainnya. Sementara di mata masyarakat akar rumput, ia dipandang bukan sebagai sosok berjarak, melainkan kawan dekat yang penuh empati dan cepat tanggap dalam merespons setiap jeritan persoalan sosial.
Di balik kerasnya watak yang ia tunjukkan di ruang publik saat menyuarakan kebenaran, Saifullah tetaplah sosok yang bersahaja dan menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan. Putra dari Teuku Nurdin dan Cut Kartini itu memulai babak baru dalam hidupnya setelah resmi mengakhiri masa lajang dengan menikahi Agus Fitriani pada tanggal 30 Desember 2023 lalu. Kehidupan rumah tangganya yang tenang menjadi penyeimbang di tengah kerasnya dinamika perjuangan sosial dan dunia jurnalistik lokal yang penuh tantangan.
Secara keseluruhan, perjalanan hidup Teuku Saifullah, S.E. membuktikan bahwa status sebagai mantan aktivis bukanlah sekadar label masa lalu, melainkan api ideologi yang terus menyala sepanjang hayat. Konsistensinya menjauhi panggung politik praktis mempertegas posisinya, bahwa perjuangan menjaga demokrasi, melestarikan lingkungan, dan menyelamatkan kaum yang termarjinalkan bisa dilakukan dengan terhormat melalui komitmen pergerakan swadaya dan ketajaman pena dari balik meja redaksi. (Red)






