26 Februari 2026
Kisah
BANJIR ACEH UTARA

Nuansa Sore Menjelang Berbuka di Huntara Paya Rabo Lhok

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Suasana sore menjelang waktu berbuka puasa di hunian sementara (Huntara) korban banjir bandang Paya Rabo Lhok, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (25/2), menghadirkan pemandangan yang sarat makna. Langit perlahan berubah jingga, menyelimuti deretan bangunan sederhana yang berdiri di atas tanah yang belum lama ini dilanda amukan air bah. Anak-anak tampak berlarian di lorong sempit huntara, sementara para orang tua duduk di teras kecil, menanti detik-detik azan magrib dengan wajah tenang namun menyimpan cerita panjang.

Di antara bangunan berdinding asbes  dan beratap seng itu, aktivitas sore berjalan sederhana. Sejumlah ibu-ibu  menyiapkan hidangan berbuka ala kadarnya, nasi hangat, sayur bening  sederhana, dan segelas air putih yang disiapkan dalam gelas plastik. Aroma masakan yang mengepul tipis menyatu dengan semilir angin senja, menghadirkan kehangatan di tengah keterbatasan. Ramadhan tahun ini terasa berbeda, sebab mereka menjalaninya bukan lagi di rumah sendiri, melainkan di hunian sementara yang dibangun pasca bencana.

Bagi para penyintas, waktu menjelang berbuka bukan sekadar momen melepas lapar dan dahaga, tetapi juga saat merenung tentang perjalanan hidup yang berubah drastis. Banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu tidak hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam. Meski demikian, raut wajah mereka memancarkan keteguhan, seolah ingin mengatakan bahwa musibah tak mampu memadamkan harapan.

Anak-anak tampak paling cepat beradaptasi. Tawa mereka pecah di sela-sela bangunan huntara, bermain tanpa memedulikan keterbatasan ruang. Di sudut lain, beberapa remaja membantu orang tua menata tikar untuk berbuka bersama. Kebersamaan menjadi kekuatan utama di tengah kondisi serba terbatas. Setiap senyum dan sapa menjadi penguat bahwa mereka tidak sendiri menghadapi cobaan ini.

Ketika azan magrib berkumandang dari meunasah terdekat, suasana seketika hening. Warga berbuka dengan khidmat, menengadahkan tangan memanjatkan doa. Air putih yang diteguk perlahan terasa begitu berarti, seolah menjadi simbol syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan. Ramadhan di huntara mengajarkan arti kesederhanaan dan ketabahan yang sesungguhnya.

Senja di Paya Rabo Lhok bukan sekadar penutup hari, melainkan saksi bisu perjuangan para korban banjir bandang untuk bangkit. Di balik bangunan sementara yang berdiri rapat, tumbuh keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik akan datang. Harapan itu tetap menyala, sebagaimana cahaya jingga yang perlahan tenggelam di ufuk barat, membawa doa-doa yang terbang bersama angin petang. (**)