17 September 2026
Kisah

Riyal, Rindu & Jalan Dakwah: Sunar Aditya Sopir Bus di Tanah Suci Mengantar Tamu Allah Menyusuri Mekkah

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi negeri para raja, tempat jutaan langkah manusia dari berbagai penjuru dunia bertemu dalam satu tujuan, Sunar Adytia (40), lelaki asal Pasuruan, Surabaya, menemukan jalan rezekinya. Sudah tiga tahun ia menetap di Mekkah, Arab Saudi, bekerja sebagai sopir bus pada perusahaan Kafilat Al Hijaz dengan sistem kontrak tahunan. Setiap hari, kemudi bus menjadi bagian dari ikhtiarnya, sementara doa dan tawakal menjadi teman perjalanan.

Kamis (17/9), Adit, sapaan akrabnya, kembali menjalankan tugas sebagai sopir Bus, tangannya mantap memegang kemudi bus yang membawa sekitar 38 jamaah asal Aceh, Indonesia, menuju Thaif. Perjalanan itu bukan sekadar perjalanan biasa. Dibalik deru mesin dan panjangnya jalan menuju kota pegunungan tersebut, ada puluhan tamu Allah yang hendak mengenang jejak sejarah Islam sekaligus menikmati suasana Thaif yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

"Alhamdulillah, saya sudah tiga tahun bekerja di Mekkah. Bekerja di sini menyenangkan, penghasilannya lumayan, Alhamdulillah cukup dan bisa disisihkan untuk keluarga di Indonesia," ujar Adit kepada awak media, Kamis (17/9), sambil tetap fokus mengemudikan bus menuju Thaif.

Sebagai pekerja migran, Adit tidak setiap tahun dapat pulang ke tanah air. Ia mengaku biasanya kembali ke Indonesia dua tahun sekali untuk menjenguk keluarga. Saat pulang, bukan hanya kerinduan yang dibawanya, tetapi juga hasil keringat selama bekerja di Tanah Suci. Riyal yang dikumpulkan di Mekkah menjadi bagian dari ikhtiar untuk keluarga di kampung halaman.

Namun, bagi Adit, bekerja di Mekkah memiliki makna yang jauh lebih luas dari pada sekadar mencari penghasilan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika setiap hari ia berkesempatan melayani jamaah dari berbagai daerah dan negara. Mengantar jamaah menuju Masjidil Haram, Madinah, maupun berbagai tempat bersejarah membuat pekerjaannya terasa dekat dengan ibadah.

"Yang membuat saya nyaman bekerja di sini karena bisa membantu jamaah. Kita membawa tamu Allah untuk beribadah, kemudian mengantar mereka berziarah ke tempat-tempat bersejarah. Rasanya senang, ada kepuasan tersendiri," katanya. Kalimat itu terucap sederhana, namun menggambarkan bagaimana seorang pekerja migran asal Indonesia memaknai pekerjaannya di tengah hiruk-pikuk kota yang setiap tahun didatangi manusia dari berbagai penjuru dunia.

Dibalik kemudi Bus yang melaju menuju Kota Thaif, Adit seperti sedang menjalani sebuah perjalanan kehidupan, dia bekerja untuk keluarga, merawat kerinduan kepada tanah air, sekaligus menjadi bagian kecil dari perjalanan para tamu Allah. Tiga tahun di Mekkah mengajarkannya bahwa rezeki tidak selalu datang dalam bentuk angka. Kadang, rezeki itu berupa kesempatan berada di Tanah Suci, bertemu jamaah dari tanah kelahiran sendiri, dan ikut mengantarkan mereka menapaki jejak sejarah para nabi dan orang-orang saleh.

Alhamdulillah, bagi Adit, menjadi sopir di Mekkah bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga sebuah jalan untuk ikut melayani tamu-tamu Allah. (**)