Tingginya Persentase Pengangguran Sarjana, Siapa yang Bertanggung Jawab
Oleh: Rohabdo M Pazlan
OPINI - Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi mewujudkan transformasi pada berbagai aspek kehidupan. Banyak ihwal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikir tentang keberadaannya, namun kini hadir dan menjadi kebutuhan bagi masyarakat luas, semisal kuota internet. Dan perkembangan teknologi juga sangat membantu manusia untuk melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang relatif singkat. Praktis, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil merubah banyak hal dan memberikan stimulan kepada manusia untuk lebih adaptif dan mulai menyadari bahwa peran ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sesuatu yang mustahil untuk dinegasikan dari kehidupan.
Dibalik seluruh hal positif yang tampak sebagai hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata harus mulai kita refleksikan bersama. Penulis melihat keadaan yang miris dari pesatnya perkembangan IPTEK, yakni terjadinya gap yang membedakan golongan tertentu dengan golongan lainnya dalam hal memanfaatkan laju IPTEK tersebut. Perbedaan kesempatan untuk mengakses sumber-sumber yang ada, menjadikan kelompok tertentu terbilang stagnan untuk dapat menyesuaikan diri dengan tatanan dunia baru. Tatanan dunia baru yang menjadikan IPTEK sebagai basis dari sistem kehidupan.
Sistem kehidupan yang dapat berimplikasi kepada dehumanisasi serta menurunnya harkat martabat kemanusiaan. Fungsi signifikan IPTEK, menjadikan kelompok yang gagal beradaptasi harus termarjinalisasikan dari kehidupan normal. Kemudian, laju IPTEK juga berpotensi membuka lebar pintu masuknya tindakan-tindakan yang melanggar aturan, moral dan norma. Bahkan mirisnya lagi, dengan perkembangan IPTEK ini, kita juga tidak ragu untuk menormalisasikan hal-hal yang kontras dengan nilai, moral dan norma yang berlaku.
Tersedianya platform perjudian adalah salah satu contoh konkrit dari demoralisasi yang dinormalisasikan.
Deskripsi di atas hanya pengantar dari tulisan ini. Sejatinya penulis ingin mengungkap fakta dan realitas dalam dunia pekerjaan di balik laju IPTEK yang tak terbendung. Hari ini, perkembangan dunia industri kian pesat, dan menjadikan aktivitas perekonomian menjadi lebih kompleks. Namun, pesatnya perkembangan dunia industri tersebut tidak sepenuhnya menjanjikan kebaikan bagi dunia pekerjaan.
Nyatanya, para pekerja kini harus dihadapkan dengan realitas di mana teknologi mempunyai peran signifikan. Teknologi sangat mungkin mempersempit lowongan pekerjaan. Banyak sekali peran yang dahulunya diisi oleh tenaga manusia kini dialihkan ke mesin. Bahkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dahulunya menyerap banyak SDM kini harus dialihkan ke fungsi mesin. Situasi di atas menjadi sebab musabab meningkatnya persentase pengangguran di Indonesia.
Sebagaimana penulis sebutkan sebelumnya bahwa tidak semua kelompok masyarakat berhasil beradaptasi dengan tatanan dunia baru yang menjadikan teknologi sebagai basis sistem. Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan kelompok yang gagal beradaptasi tidak mampu untuk bersaing dalam dunia pekerjaan. Adapun kemungkinan mereka dapat bekerja, hanyalah pada pekerjaan-pekerjaan informal dengan upah yang rendah. Bahkan mirisnya, tidak sedikit dari sarjana yang termasuk dalam golongan yang gagal beradaptasi tersebut. Dapat kita lihat dari data pengangguran sarjana per 2022 yang mencapai angkat jutaan. Mereka yang berintelektual dan berhasil melewati dunia akademik hingga memperoleh gelar sarjana harus dihadapkan dengan situasi yang menyakitkan sebagai seorang penganggur.
Angka yang menunjukkan jutaan penganggur bukanlah masalah yang sederhana, ini adalah masalah besar yang mengakar kuat sebagai masalah dalam sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih dengan bonus demografi yang ada, mampukah masalah pengangguran ini dapat diatasi, atau malah terus berkembang persentasenya dan berubah menjadi sesuatu yang merusak tatanan berbangsa dan bernegara.
Pengangguran sarjana adalah suatu kenyataan yang menyakitkan. Mereka yang berhasil meraih gelar sarjana telah melewati proses yang sangat panjang dalam dunia pendidikan. Setidaknya enam belas tahun mereka habiskan waktu untuk berkutat dengan ilmu pengetahuan. Enam belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Terlebih jika kita memperhitungkan jumlah materi yang mereka habiskan hingga memperoleh gelar sarjana, bukanlah jumlah yang sedikit. Hemat penulis, seharusnya dengan waktu yang begitu lama, para sarjana ini dapat menjadi potensi sumber daya yang potensial.
Para sarjana adalah sumberdaya yang niscaya memiliki peran strategis dalam dunia pekerjaan. Namun, kita harus tetap menerima data yang menyebutkan bahwa ada jutaan sarjana yang gagal bersaing dalam dunia usaha dan harus menerima kenyataan sebagai seorang pengangguran.
Timbullah pertanyan di benak penulis, siapakah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kegagalan para sarjana untuk bersaing di dunia pekerjaan. Apakah benar bila kita hanya menyalahkan perkembangan ilmu pengetahun dan terknologi yang menghambat para sarjana untuk bisa bersaing dan bekerja. Teknologi hanyalah alat yang tidak mungkin mengerti tentang kenyataan yang tengah diderita oleh para sarjana penganggur. Atau, mungkinkah kita menyalahkan sistem pendidikan yang gagal mengantarkan para sarjana berhasil bersaing dan bekerja. Enam belas tahun Para sarjana berkutat dengan sistem pendidikan, namun kenyataannya mereka gagal bersaing dengan sumber daya yang hanya beberapa tahun mengenyam pendidikan.
Ataukah kita hanya menyalahkan para sarjana penganggur sepihak, mengolok dan mencemooh mereka tanpa berempati dan mencoba memberikan ide dan jalan keluar atas kenyataan pahit yang tengah mereka hadapi.
Opini penulis, fenomena sarjana penganggur adalah suatu masalah yang sistemik. Sehingga untuk mengatasinya kita butuh untuk melihat dan memperbaikinya dari multi aspek. Ada beberapa hal yang seharusnya kita perhatikan, mulai dari sistem pendidikan, kurangnya pemberdayaan, minimnya pelatihan kerja, tidak adanya motivasi yang memberikan rangsangan kepada para sarjana untuk mau belajar dan beradaptasi dengan IPTEK dan banyak hal lainnya yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Pengangguran adalah masalah sistemik yang membutuhkan jalan keluar berupa perbaikan sistem. Masalah ini harus menjadi pembahasan prioritas oleh pemerintah dan pihak legislatif agar kiranya ditemui jalan keluar berupa pembuatan regulasi dan kebijakan yang relevan untuk mengatasi persoalan yang sangat serius tersebut. Penulis belum mengetahui secara pasti bagaimana strategi untuk memberikan jalan keluar bagi persoalan sarjana penganggruan ini. Namun, satu hal mendasar yang harus kita perbuat untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan membangun kesadaran bahwa pengangguran sarjana adalah masalah krusial yang dapat menghambat bahkan menghancurkan maturasi dan pembentukan peradaban yang ideal.