Selamatkan Produksi Padi, Plt Kadistanpang Pidie Jaya Gerak Cepat Tangani Serangan Tikus
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Menindaklanjuti laporan masyarakat terkait serangan hama tikus di lahan persawahan produktif, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, SP, M,Si turun langsung ke Gampong Pohroh dan Gampong Kudrang, Kecamatan Meureudu, Jumat (8/5).
"Kunjungan lapangan tersebut dilakukan atas arahan Bupati Sibral Malasyi guna memastikan kondisi riil pertanaman padi yang mulai terdampak Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) jenis tikus pada sejumlah hamparan sawah petani di Kecamatan Meureudu."
Diketahui sebelumnya, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Pidie Jaya bersama petugas POPT Kecamatan Meureudu telah lebih dahulu melakukan identifikasi lapangan untuk memetakan tingkat serangan. Hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas hama tikus pada areal persawahan yang berpotensi mengganggu produktivitas tanaman padi pada fase vegetatif hingga generatif awal.
Muhammad Nur, SP, M.Si menjelaskan, berdasarkan data lapangan di Gampong Pohroh, luas tanam padi mencapai 45 hektare dengan umur tanaman berkisar 40 hingga 65 Hari Setelah Tanam (HST). Dari total hamparan tersebut, luas serangan hama tikus tercatat sekitar 2 hektare dengan intensitas serangan 10 hingga 15 persen. Meski demikian, ekosistem alami di kawasan itu masih ditemukan sejumlah musuh alami seperti capung, Paederus, kumbang, dan karabit yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan agroekosistem.
Kondisi serupa juga ditemukan di Gampong Kudrang, Kata Muhammad Nur pada areal tanam seluas 45 hektare dengan umur tanaman yang sama, serangan tikus juga mencapai sekitar 2 hektare dengan intensitas 10 hingga 15 persen. Kadis Pertanian Pidie Jaya menilai kondisi tersebut masih dapat dikendalikan apabila penanganan dilakukan secara cepat, terpadu, dan berbasis pengendalian hama ramah lingkungan.
Usai melakukan pengecekan lapangan bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL), Muhammad Nur mengakui bahwa serangan tikus memang terjadi akibat beberapa faktor teknis budidaya dan lingkungan. Menurutnya, keberadaan lahan kosong yang tidak diolah di sekitar sawah menjadi habitat ideal bagi perkembangan populasi tikus. Selain itu, pola tanam yang tidak serempak pada satu hamparan turut memicu tingginya mobilitas hama antarpetak sawah. Ia juga menyoroti kerusakan rubuha atau rumah burung hantu yang selama ini berfungsi sebagai sarana konservasi predator alami tikus.
Plt Kadistanpang Pidie Jaya yang dikenal aktif turun langsung ke sawah bersama petani itu segera mengambil langkah responsif untuk menekan eskalasi serangan. Alumnus Fakultas Pertanian tersebut langsung menginstruksikan petugas POPT melakukan distribusi umpan beracun rodentisida sesuai dosis anjuran teknis. Bahkan, apabila stok di lapangan terbatas, ia memerintahkan petugas segera mengambil persediaan dari LPHP Keumala guna memastikan pengendalian tidak terlambat dilakukan.
Tak hanya fokus pada penanganan cepat, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Pidie Jaya bersama POPT Keumala serta jajaran penyuluh pertanian juga telah melakukan sosialisasi teknik pengendalian hama tikus berbasis Pengendalian Hama Terpadu (PHT) kepada petani. Edukasi tersebut meliputi sanitasi lahan, gerakan gropyokan massal, penanaman serentak, pelestarian musuh alami, hingga penggunaan rodentisida secara bijak dan terukur. Langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi padi serta melindungi ketahanan pangan daerah sesuai arahan Bupati Pidie Jaya. (**)



.jpg)


