27 Oktober 2026
Kisah

Ketuk Hati CEO Shella Saukia Group! Keluarga Miskin di Pidie Jaya Berharap Rumah Layak Huni

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Dibalik rumah kayu yang lapuk dimakan usia, tersimpan kisah pilu keluarga Safriadi (35) dan Erni (35), warga Gampong Beurasan, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Kemiskinan, keterbatasan kesehatan, dan kondisi rumah yang tak lagi layak huni membuat kehidupan mereka semakin berat. Bersama tiga buah hati, pasangan ini pernah bertahan di rumah peninggalan orang tua Safriadi yang tiangnya mulai miring, lantainya terlepas, dan atapnya bocor. Kini, rumah tersebut tak lagi aman untuk ditempati. Di tengah keputusasaan itu, Erni menaruh harapan kepada Shella Saukia (SS), pengusaha sukses, influencer, dan selebgram asal Aceh yang dikenal dengan julukan Crazy Rich Aceh, agar berkenan mengulurkan tangan membantu keluarganya keluar dari kesulitan.

Penderitaan keluarga ini semakin berat setelah Safriadi mengalami kecelakaan sekitar dua tahun lalu yang menyebabkan kedua kakinya patah. Meski telah menjalani operasi dan kondisinya mulai membaik, pen yang terpasang pada kedua kakinya belum dilepaskan karena keterbatasan biaya transportasi dan pendampingan untuk menjalani pengobatan lanjutan. Padahal, biaya operasi pelepasan pen ditanggung BPJS Kesehatan. Sebelum kecelakaan, Safriadi bekerja sebagai buruh harian di kebun milik orang lain untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Kini, ia tak lagi mampu bekerja maksimal. Tubuh yang belum pulih membuatnya kehilangan sebagian kemampuan mencari nafkah, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan tanpa menunggu keadaan membaik.

Di sisi lain, Erni terus berjuang menjalani kehidupan. Selama empat tahun, ia mengabdikan diri sebagai tenaga bakti di Kantor Camat Bandar Dua dengan penghasilan yang tidak menentu. Di tengah keterbatasan tersebut, ia tetap berusaha membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan mendampingi suaminya menghadapi masa sulit. Namun, keadaan semakin memilukan ketika rumah yang mereka tempati tak lagi layak dihuni. Erni bersama ketiga anaknya terpaksa menumpang di rumah orang tuanya di kawasan Simpang Tambue, Samalanga, sedangkan Safriadi tinggal di rumah kakaknya. Suami, istri, dan ketiga anak yang seharusnya berkumpul setiap hari kini harus menjalani kehidupan secara terpisah karena keadaan yang tak mampu mereka atasi sendiri.

Keluarga Safriadi telah dikunjungi dan menjalani asesmen kelayakan sosial oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Pidie Jaya. Namun, asesmen sosial tersebut berbeda dengan penentuan penerima bantuan rumah pemerintah yang menjadi kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Berdasarkan informasi yang diterima, program bantuan rumah tersebut mensyaratkan usia minimal 40 tahun.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keluarga tersebut akan kesulitan mendapatkan bantuan melalui program pemerintah. Padahal, mereka termasuk keluarga desil 1 yang menghadapi persoalan nyata, yakni rumah tak layak huni, kepala keluarga dengan keterbatasan fisik, dan penghasilan yang tidak mencukupi. Keuchik Gampong Beurasan, Suhaimi, membenarkan kondisi keluarga itu dan berharap mereka mendapat perhatian serta bantuan yang sesuai dengan kebutuhan.

Disaat harapan yang belum pasti, Erni mengetuk pintu hati Shella Saukia. Sebagai pengusaha sukses, influencer, dan selebgram asal Aceh yang dikenal dengan julukan Crazy Rich Aceh, Shella Saukia diharapkan berkenan memberikan perhatian kepada keluarga yang sedang menghadapi kesulitan hidup ini. Erni berharap kisahnya dapat menggugah kepedulian Shella untuk membantu mewujudkan rumah layak huni bagi dirinya, Safriadi, dan ketiga anak mereka.

Bagi Erni, rumah sederhana yang kokoh bukanlah kemewahan, melainkan tempat agar keluarganya bisa kembali hidup bersama. Ia juga berharap adanya dukungan modal usaha agar suaminya dapat membuka kios kecil di kampung dan memperoleh penghasilan tanpa harus memaksakan diri bekerja berat di kebun.
Kini, di balik keterpisahan keluarga dan rumah yang ditinggalkan dalam kondisi memprihatinkan, Erni hanya bisa berharap masih ada tangan yang bersedia membantu.

Keluarga miskin itu, tidak meminta kehidupan mewah, hanya kesempatan untuk kembali berkumpul bersama suami dan anak-anaknya di tempat tinggal yang aman. Ada seorang ayah yang ingin kembali bekerja, seorang ibu yang tak berhenti berjuang, dan tiga anak yang membutuhkan rumah untuk tumbuh dalam kehangatan keluarga. Semoga kisah ini sampai kepada Shella Saukia dan menggerakkan hatinya untuk memberikan perhatian. Sebab, bagi Safriadi dan Erni, uluran tangan bukan sekadar bantuan materi, melainkan secercah harapan agar keluarga yang terpisah oleh keadaan dapat kembali bersatu dan menatap masa depan dengan lebih baik. (**)