02 Februari 2026
Kisah

Di Antara Bantal Lusuh dan Lumpur, Bocah Pidie Jaya Terlelap di Tanah Basah

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi atas tikar tipis yang dibentangkan di tanah lembap, seorang bocah terbaring lemah. Ia adalah seorang anak, warga Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Tubuhnya yang mungil menjadi saksi bisu betapa banjir tidak hanya menghancurkan rumah, tetapi juga merenggut rasa aman sang bocah kecil, tempat untuk beristirahat. Dinding rumah di belakangnya masih berlumur lumpur, warna cokelat keabu-abuan itu seperti luka yang belum sempat sembuh.

Bantal-bantal lusuh berserakan di sekelilingnya, bukan sebagai lambang kenyamanan, melainkan tanda darurat kehidupan pascabanjir. Sepasang sandal kecil tergeletak di dekat kepalanya, seolah menunggu kaki mungil itu kembali menapak di tanah yang kering dan aman. Namun realitas di Meunasah Raya berkata lain, anak-anak harus belajar tidur di tanah terbuka, menghadapi kedinginan tanpa kepastian esok hari.

Wajah polos bocah itu menatap kosong, bukan dengan tangis keras, tetapi dengan kelelahan,. Ia terlalu kecil untuk memahami mengapa rumahnya rusak, mengapa lantai berubah menjadi lumpur, dan mengapa orang-orang dewasa di sekitarnya hanya bisa menenangkan dengan kalimat “SABAR”. Di balik tatapannya, tersimpan pertanyaan yang tak pernah terjawab, kapan hidup kembali normal?

Banjir mungkin telah surut dari Meurah Dua, tetapi penderitaan masih menetap. Lumpur masih menempel di dinding rumah, di perabotan, dan di ingatan warga. Bantuan belum sepenuhnya menjangkau semua yang membutuhkan. Anak-anak seperti dia menjadi potret paling jujur dari krisis kemanusiaan ini, mereka tidak tahu cara menuntut, tidak paham prosedur penanganan bencana, dan tidak mengerti mengapa hak dasar mereka terasa begitu jauh.

Kondisi ini bukan sekadar foto  dokumentasi, melainkan peringatan nurani. Ia mengabarkan bahwa di Pidie Jaya, pasca banjir bukan berarti pasca bencana. Selama masih ada bocah yang tidur di atas tanah berlumpur, selama itu pula luka bencana belum benar-benar sembuh. Dan di situlah kemanusiaan kita diuji, apakah kita hanya melihat, atau benar-benar peduli. (**)