Bukit Kasih Sayang Jabal Rahmah, Cinta Menunggu Setelah Perpisahan
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Enam hari menapakkan kaki di Kota Mekkah, jamaah umrah Travel Mitra Hasanah (MH) mendapat kesempatan menyusuri Jabal Rahmah, sebuah bukit kecil di Padang Arafah yang selama berabad-abad lekat dengan sebutan Bukit Kasih Sayang. Di tempat itu, langkah kaki seakan membawa jamaah keluar dari hiruk-pikuk dunia, memasuki ruang perenungan tentang cinta, perpisahan, kesalahan, taubat, dan pengampunan.
Bagi Jumaidi Umran dan istrinya, Jabal Rahmah memiliki daya tarik emosional tersendiri karena dikaitkan dengan kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa. Dalam kisah yang masyhur itu, keduanya diturunkan ke bumi di tempat berbeda setelah dikeluarkan dari surga, kemudian memohon ampun kepada Allah SWT. Doa taubat mereka diabadikan dalam Surah Al-A'raf ayat 23. Kisah itu kemudian menjadi simbol tentang dua manusia yang dipisahkan, menyesal, berdoa, hingga akhirnya dipertemukan kembali.
Ada sesuatu yang terasa begitu manusiawi ketika berdiri di kawasan Arafah. Jabal Rahmah tidak lagi sekadar sebuah bukit dengan tugu putih di puncaknya. Ia seperti menghadirkan cermin besar bagi kehidupan manusia, bahwa tidak ada hubungan yang selalu sempurna, tidak ada hati yang luput dari salah, dan tidak ada perjalanan cinta yang bebas dari ujian. Yang membedakan adalah kesediaan untuk mengakui kesalahan, memohon ampun, dan berusaha kembali menemukan jalan yang benar.
Barangkali itulah alasan tempat ini begitu dekat dengan perasaan banyak orang. Sebagian datang membawa doa untuk pasangan, sebagian memendam kerinduan kepada orang yang jauh, sementara yang lain mungkin hanya ingin menemukan ketenangan setelah perjalanan hidup yang panjang. Dibawah langit Arafah, doa-doa itu bertemu dalam keheningan. Tidak semua harapan harus diucapkan dengan suara keras, karena ada doa yang justru paling jujur ketika hanya Allah yang mendengarnya.
Reza Muttaqin mengatakan kisah pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa di Jabal Rahmah merupakan kisah yang masyhur di tengah masyarakat.
Perjalanan ke Jabal Rahmah lebih tepat ditempatkan sebagai perjalanan sejarah dan renungan spiritual. Apalagi kawasan Arafah sendiri memiliki kedudukan sangat agung dalam ibadah haji karena menjadi tempat pelaksanaan wukuf. Seluruh kawasan Arafah merupakan tempat wukuf, sehingga jamaah tidak perlu meyakini bahwa naik ke puncak Jabal Rahmah memiliki keistimewaan ibadah tersendiri.
Namun bagi para jamaah MH travel, justru di situlah keindahan perjalanan ini. Jabal Rahmah mengajarkan bahwa cinta tidak selalu harus dicari dalam kisah-kisah besar. Ia bisa ditemukan dalam kesediaan seorang suami meminta maaf, seorang istri belajar memaafkan, anak yang kembali mengingat orang tuanya, atau dua manusia yang memilih memperbaiki hubungan setelah pernah saling melukai. Di tanah suci, manusia seperti diajak berhenti sejenak dari ego dan bertanya kepada diri sendiri, sudahkah cinta yang kita miliki membawa kita semakin dekat kepada Allah?
Akhirnya jamaah meninggalkan Jabal Rahmah, bukit itu perlahan mengecil dari pandangan. Tetapi maknanya justru terasa semakin besar. Para, jamaah membawa pulang sebuah kesimpulan sederhana bahwa cinta sejati bukan tentang menemukan manusia tanpa kesalahan, melainkan tentang menemukan keberanian untuk bertaubat, kerendahan hati untuk memaafkan, dan keteguhan untuk kembali berjalan bersama dalam jalan yang diridai Allah SWT.
Di Jabal Rahmah, cinta akhirnya bukan hanya tentang Adam dan Hawa, tetapi tentang kita semua yang sedang belajar mencintai, kehilangan, memaafkan, dan kembali kepada-Nya. (**)







