15 Juni 2024
Opini
Artikel populer

Problem Malas Belajar Pada Remaja

Foto : Ojatul Halawah, Mahasiswi Prodi Gizi-FKM, Universitas Teuku Umar - Meulaboh | LIPUTAN GAMPONG NEWS

Oleh: Ojatul Halawah (2305902020137)

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Rasa malas merupakan hal yang manusiawi dan semua orang pasti pernah mengalaminya, terlebih lagi pada remaja. Ketika anak dihadapkan oleh banyak tugas dan materi yang harus ia pelajari, tak jarang rasa malas ini menghambat mereka untuk melaksanakan kewajibannya.

Namun, problem malas belajar bukan persoalan sederhana. Masalah ini harus dipahami secara menyeluruh terutama mencari faktor-faktor penyebab sekaligus dicarikan jalan keluar. Malas belajar khususnya pada remaja tidak bisa dibiarkan karena memiliki dampak yang serius. 

Dalam hidup ini, sesungguhnya manusia selalu belajar. Belajar, bukan saja melibatkan penguasaan kemampuan akademik semata, tetapi melibatkan emosi, interaksi sosial, dan perkembangan kepribadian.

Menurut  Nini Subini (2012: 85), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar antara lain faktor: kesehatan, kecerdasan, bakat, kematangan, motivasi, kelelahan, sikap, perhatian, guru, orang tua, teman, dan keadaan lingkungan    

Faktor-faktor Malas Belajar

Anak atau remaja yang fisiknya sehat, tidak berarti mereka tidak memerlukan tes psikologis atau medis.

Ketika meneliti anak yang rendah prestasinya, para ahli menyarankan agar dilakukan penelitian secara menyeluruh, menyangkut edukasi, psikologi, sosiologi dan neurologi.

Bahkan prosentasi yang menyangkut neurologi mencapai 17-27%, dan kemungkinan untuk sembuh pada anak-anak dan remaja lebih besar dari pada orang dewasa.

Cara mengatasi

Orang tua sebagai peran pertama yang mendorong dan memotivasi anak supaya lebih rajin belajar. Cara yang dapat dilakukan adalah:

  1. Mengawasi anak saat belajar dirumah dengan cara mengontrol aktivitas anak tersebut agar   bisa disiplin dan tau dimana waktu bermain dan belajar.
  2. Membatasi pergaulan anak di lingkungan dengan cara memberikan kesibukan yang positif kepada anak didalam lingkungan rumah agar anak tersebut tidak tertarik dengan lingkungan luar.
  3. Mengontrol anak di sekolah melalui guru yang ada di sekolah dengan cara memberitahukan guru tersebut agar bisa mengawasi anaknya dan menegurnya apabila berbuat salah. 

Peran utama orang tua sangatlah mempengaruhi perkembangan diri anak,  dalam penelitian, ada anak yang malas belajar bahkan tidak mau mengerjakan tugasnya di sekolah maupun di rumah.

Keinginan dari pada anak ini berfokus pada makan dan bermain. Sehingga anak tidak fokus untuk belajar, maka peran orang tua sangatlah penting untuk kedisiplinan anaknya agar lebih giat belajar kedepannya.

Dan bukan hanya orang tua saja, melainkan strategi yang dilakukan guru sebagai pendidik merupakan siasat atau cara untuk mengatasi anak tersebut bisa tertarik akan apa yang gurunya ucapkan. Hal  ini berarti sejumlah langkah yang direkayasa sedemikian rupa oleh guru untuk mencapai tujuan tertentu.

Strategi secara umum dapat diartikan sebagai suatu garis-garis haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Jadi seperti yang sudah dijelaskan di atas yang bahwa pengaruh orang tua dan lingkungan sekitar sekolah itu sangatlah berpengaruh penting terhadap siswa, karena apabila itu baik, maka siswa tersebut akan lebih nyaman, dan apabila buruk maka mereka akan merasakan depresi atau kesehatan mental mereka juga akan berpengaruh.

Maka oleh sebab itu orang tua dan guru disekolah adalah peran penting bagi anak tersebut agar mereka menjadi lebih baik kedepannya dan tidak malas lagi. (**)

 

 

Daftar referensi:

https://sg.docworkspace.com/d/sIFveqqrsAfC_vrEG

https://sg.docworkspace.com/d/sICDeqqrsAafNvrEG

https://sg.docworkspace.com/d/sIIzeqqrsAeXfvrEG