14 September 2026
Budaya

Musik Aceh, Vibes Modern! ORIGON Tebar Meusare ke Panggung Digital

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDAda musik yang sekadar terdengar, ada pula musik yang mengajak pendengarnya mengingat dari mana mereka berasal. Origon memilih jalan yang kedua. Grup musik asal Aceh ini menjadikan nada, lirik, dan denting instrumen sebagai ruang untuk merawat ingatan tentang Tanah Rencong dan pesan-pesan indatu yang perlahan berhadapan dengan derasnya perubahan zaman.

Sejak terbentuk pada 2022, Origon tidak sekadar mengejar bunyi dan komposisi musik. Mereka mencoba menemukan identitas dalam setiap karya. Yogi pada vokal, Sahar pada gitar, Rian pada bass, dan Robi di balik drum membangun karakter musik yang memadukan warna pop-rock modern dengan lirik yang berpijak pada kehidupan dan kebudayaan Aceh.

Terbaru, Origon memperkenalkan “Meusare”, sebuah karya yang berbicara tentang sesuatu yang sederhana, tetapi semakin terasa mahal di tengah kehidupan modern: kebersamaan. Dalam bahasa Aceh, meusare bermakna bersama-sama atau bergotong royong. Dari sana, Origon merangkai cerita tentang masyarakat Aceh yang sejak dahulu terbiasa menyelesaikan pekerjaan dengan semangat kebersamaan.

Lagu tersebut diperkenalkan kepada publik pada malam Anugerah SMSI Aceh Award di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026) malam. Bagi Origon, panggung itu bukan sekadar tempat memperdengarkan karya baru, tetapi menjadi momentum membawa pesan kebudayaan Aceh ke ruang dengar yang lebih luas.

“Selain diperkenalkan pada malam anugerah SMSI Aceh Award, karya terbaru di bawah naungan label musik Langitbiru Kreatif ini juga sudah dapat dinikmati di berbagai platform musik digital,” kata Robi, drumer Origon, di Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).

Meusare bukanlah langkah pertama Origon dalam menyusuri lorong kebudayaan. April lalu, mereka lebih dulu meluncurkan “Reusam”, lagu yang mengangkat nilai adat dan aturan yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa kerajaan. Jika Reusam membawa pendengar menengok aturan dan adat masa lalu, Meusare mengajak mereka melihat kembali semangat hidup bersama yang masih relevan hingga hari ini.

Robi menyebut, sejauh ini Origon telah melahirkan lima karya musik Aceh, yakni Wasiat, Calitra Senja, Bungong, Reusam, dan Meusare. Namun, baru dua lagu terakhir yang secara resmi diluncurkan dan diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai platform musik digital.
Bagi Yogi, Meusare bukan sekadar judul lagu. Di dalamnya terdapat pesan tentang persatuan, kepedulian, dan kekuatan untuk saling menopang. Nilai tersebut dianggap semakin penting ketika kehidupan modern membuat manusia semakin sibuk dengan dunianya sendiri.

“Proses pembuatan Meusare memberikan kesan tersendiri bagi kami. Lagu ini adalah pengingat bahwa sebesar apa pun tantangan yang dihadapi, semuanya terasa lebih ringan jika kita melangkah bersama-sama,” ungkap Yogi.

Dalam aransemen, Origon tetap mempertahankan karakter pop-rock yang menjadi warna mereka. Namun, musik tidak dibiarkan berjalan sendiri. Lirik menjadi jantung yang menghidupkan pesan. Vokal Yogi, permainan gitar Sahar, bass Rian, serta pukulan drum Robi berpadu membentuk lanskap musik yang modern, tetapi tidak tercerabut dari akar budaya Aceh.

Origon menemukan identitasnya, mereka tidak ingin menjadikan budaya sekadar ornamen dalam sebuah lagu. Budaya justru ditempatkan sebagai ruh yang menghidupkan karya. Musik menjadi semacam jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

“Keberadaan Origon ini bisa menjadi jati diri kami sebagai putra Aceh untuk menjaga marwah budaya. Kalau bukan kita yang peduli terhadap budaya kita sendiri, siapa lagi,” kata Rian, bassis Origon.

Kini, Meusare dan Reusam telah tersedia di sejumlah layanan streaming musik digital, termasuk Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan berbagai platform lainnya. Video musik resmi Meusare juga telah tayang melalui kanal YouTube resmi Langit Biru Production.

Origon mungkin baru menapaki perjalanan panjangnya, namun, dari lima karya yang telah mereka lahirkan, arah musik itu mulai terlihat jelas, mereka membawa suara Aceh dengan bahasa generasi hari ini. Sebab bagi mereka, menjaga budaya tidak selalu harus melalui pidato atau seremoni. Kadang, ia cukup dinyanyikan, alu dibiarkan menemukan jalannya sendiri dari telinga ke telinga, dari satu generasi ke generasi berikutnya. (**)