18 Februari 2026
Daerah

Keuchik Pusing Tujuh Keliling, Bantuan Presiden Macet, Desa Dipaksa Ngutang Sapi

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Tradisi Meugang yang seharusnya menjadi penguat solidaritas jelang Ramadan justru berubah menjadi sumber kecemasan. Bantuan sapi senilai Rp19,5 miliar dari Presiden RI, , untuk warga penyintas banjir di Aceh Utara tersendat di simpul birokrasi. Di tingkat desa, para geuchik kini pontang-panting mencari jalan keluar, sementara waktu menuju pemotongan hewan kian menipis.

Hingga Selasa sore (17/02/2026), dana Rp17 juta per desa dilaporkan belum masuk ke rekening Kelompok Masyarakat (Pokmas). Ironisnya, Meugang tinggal hitungan jam. Ketika rakyat berharap daging sebagai penghibur luka pascabanjir, yang datang justru ketidakpastian administrasi. Dana besar diumumkan, tetapi eksekusi di lapangan tersendat, sebuah ironi klasik antara retorika dan realisasi.

Plt Ketua Forum Keuchik Aceh, Al Halim Ali, mengakui kegelisahan itu. Prosedur perbankan dan momentum libur disebut menjadi tembok penghalang. “Dana belum kami terima, Meugang besok. Bank baru buka besok. Ini sangat mepet,” ujarnya. Akibatnya, geuchik dipaksa memainkan skema darurat: berutang sapi ke peternak dengan jaminan dana akan cair kemudian. Sebuah praktik yang jelas berisiko dan jauh dari tata kelola keuangan publik yang sehat.

Situasi ini memunculkan enam catatan merah. Pertama, kas desa kosong hingga H-1. Kedua, kegagalan antisipasi jadwal libur bank. Ketiga, budaya “ngutang dulu” yang berpotensi menciptakan celah moral hazard. Keempat, alokasi rata Rp17 juta per desa tanpa mempertimbangkan skala dampak banjir desa padat dan terdampak parah seperti Riseh Tunong dan Krueng Geukueh diperlakukan sama dengan desa berpenduduk kecil. Kelima, dugaan selisih anggaran sekitar Rp5 miliar dari total perhitungan 852 desa yang belum terjelaskan detailnya. Keenam, minimnya transparansi data desa penerima alokasi lebih dari satu ekor sapi serta indikator penentuannya.

Bagi warga, ini bukan sekadar soal daging. Meugang adalah simbol martabat dan kebersamaan. Pasca banjir, banyak keluarga kehilangan harta benda. Harga daging di pasar melonjak, daya beli merosot. Harapan mereka hanya pada bantuan ini. Jika sapi tak kunjung tersedia, Meugang tahun ini akan menjadi penanda pahit bahwa birokrasi lebih lambat dari kebutuhan rakyat.

Sebelumnya, Bupati Aceh Utara menyebut bantuan tersebut dialokasikan untuk 1.109 ekor sapi dan akan disalurkan melalui rekening Pokmas demi transparansi. Namun saat dikonfirmasi terkait dana yang belum cair dan keharusan berutang, jawabannya singkat: “Iya, karena bank libur.” Kini publik menunggu, apakah persoalan ini sekadar soal teknis perbankan, atau cermin lemahnya perencanaan. Jika bantuan datang setelah pisau Meugang terlanjur tumpul, yang tersisa hanyalah rasa getir dan kepercayaan yang ikut tergerus. (**)