Jejak Swadaya, Aceh Tak Pernah Berhitung: Mulai Dari Sayap Garuda Hingga Jembatan Enang-Enang
OPINI - Di negeri yang sering mengukur pengabdian dengan angka-angka anggaran, Aceh sejak dahulu mengajarkan bahwa cinta kepada Indonesia tidak selalu lahir dari kekayaan, melainkan dari kerelaan berkorban. Ketika republik ini masih tertatih berdiri, rakyat Aceh telah memberi tanpa banyak meminta. Mereka menyumbangkan emas, padi, beras, ternak, bahkan hasil panen yang menjadi satu-satunya penyangga kehidupan keluarga. Mereka percaya, jika negara tegak, maka rakyatlah yang akan menikmati hasilnya.
Sejarah mencatat bagaimana rakyat Aceh menjadi salah satu penopang lahirnya armada awal maskapai nasional Garuda. Saat republik belum memiliki kemampuan membeli pesawat, masyarakat Aceh bergotong royong mengumpulkan dana dari hasil kebun, sawah, perdagangan, hingga perhiasan yang dimiliki. Tak sedikit keluarga yang rela melepas emas simpanan demi menghadirkan sayap bagi Indonesia. Pengorbanan itu tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari keyakinan bahwa kemerdekaan harus dijaga bersama.
Semangat itu pula yang menjulang di kubah emas puncak Monas. Emas yang menghiasi simbol kebanggaan bangsa itu berasal dari bumi Aceh. Seolah ingin berkata kepada seluruh rakyat Indonesia, Aceh selalu hadir dalam setiap tonggak perjalanan republik. Dari langit melalui pesawat Garuda, hingga berdiri tegak di jantung ibu kota melalui kilau emas Monas, jejak Aceh tak pernah absen dalam membangun Indonesia.
Semangat yang sama masih hidup hingga hari ini. Ketika jembatan di kawasan Enang-Enang, Kabupaten Bener Meriah, putus diterjang bencana, masyarakat tidak memilih menunggu. Dipelopori Syahrial Abadi, warga bergotong royong membuka kembali akses jalan dan membangun jembatan darurat dengan kemampuan sendiri. Tidak ada seremoni, tidak ada proyek bernilai miliaran rupiah, apalagi baliho ucapan terima kasih. Yang ada hanyalah tekad agar roda kehidupan masyarakat kembali berputar. Ketulusan itulah yang kemudian mendapat apresiasi langsung dari Menteri Pekerjaan Umum.
Ironisnya, di saat rakyat di berbagai pelosok masih rela mengumpulkan padi, beras, telur, tenaga, dan waktu untuk kepentingan bangsa, negeri ini masih terus diguncang kabar tentang oknum pejabat yang tega mengorupsi uang rakyat. Dana bantuan sosial untuk masyarakat miskin diselewengkan, anggaran pembangunan dipermainkan, sementara di sudut-sudut desa masih ada rakyat yang bergotong royong menutup lubang jalan dengan uang sendiri. Kontras ini bukan sekadar ironi, melainkan luka bagi rasa keadilan.
Aceh telah berkali-kali membuktikan bahwa nasionalisme bukan sekadar pidato dalam upacara. Nasionalisme adalah ketika petani rela menyumbangkan hasil panennya untuk negara, ketika seorang ibu mengikhlaskan perhiasannya demi republik, ketika masyarakat mengangkat kayu dan besi membangun jembatan agar anak-anak tetap bisa pergi ke sekolah. Pengabdian seperti itu tidak pernah menghitung untung dan rugi.
Sudah saatnya negara membalas ketulusan rakyat dengan pemerintahan yang bersih dan amanah. Pengorbanan masyarakat tidak boleh dibalas dengan korupsi, penyalahgunaan jabatan, atau pemborosan anggaran. Setiap rupiah uang negara sejatinya berasal dari keringat rakyat, termasuk dari tangan-tangan petani Aceh yang sejak awal republik telah mengajarkan arti pengorbanan.
Aceh tidak pernah meminta dikenang sebagai daerah yang paling berjasa. Namun sejarah akan selalu mencatat bahwa ketika Indonesia membutuhkan, Aceh hadir. Dari pesawat Garuda yang mengangkasa, emas yang berkilau di puncak Monas, hingga jembatan sederhana di Enang-Enang yang dibangun dengan gotong royong, semuanya mengirim pesan yang sama: rakyat Aceh tidak pernah berhitung untuk Indonesia. Pertanyaannya kini, sudahkah Indonesia berhitung untuk membalas ketulusan rakyatnya?
Oleh : Teuku Saifullah
Warga Pidie Jaya, Aceh







