04 Juni 2026
Opini

Sindrom Psikologis Burnout tidak Bisa Disembuhkan dengan Liburan Akhir Pekan

Oleh : Yara Zatil Hulwan - Mahasiswi Prodi Psikologi, UIN Ar-Raniry Darussalam - Banda Aceh

OPINI - Kalian pasti pernah merasa sangat lelah secara fisik maupun secara mental psikologi, setelah seminggu penuh bekerja, lalu memutuskan untuk istirahat seharian atau pergi berlibur di hari weekend, tetapi saat Senin tiba, rasa lelah itu masih ada kan? Jika ya, Kalian mungkin tidak sedang mengalami kelelahan fisik biasa tapi sedang mengalami salah satu permasalahan psikologi yaitu burnout.

Baru-baru ini, psikolog klinis Kasandra Putranto mengingatkan publik melalui media “Kelelahan fisik biasa dan burnout sering dianggap sama, padahal keduanya beda secara psikologis,” kata Kasandra ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Jumat. Kelelahan fisik bisa hilang hanya dengan istirahat. Akan tetapi, jika mengalami burnout jauh lebih kompleks yang membutuhkan penanganan yang lebih serius, seperti pengaturan ulang beban kerja, menjaga batas antara pekerjaan dan waktu pribadi, serta memperhatikan kesehatan mental. Sayangnya, masyarakat sering kali menyamakan keduanya. Kita dipaksa percaya bahwa "kurang tidur" itu sumber masalah, dan "tidur cukup" adalah solusinya.

Untuk memahami mengapa burnout tidak bisa disembuhkan hanya dengan mendapatkan cuti dua hari, kita harus membedahnya dengan teori psikologi klinis oleh Christina Maslach. Menurut Maslach, burnout bukanlah respons kelelahan satu dimensi, melainkan sebuah sindrom psikologis yang terdiri dari tiga hal:
1. Kelelahan Emosional: Dimana energi mental yang terkuras habis hingga kita merasa lelah secara emosi.

2. Depersonalisasi: Munculnya sikap sinis, tidak peduli, dan menjaga jarak terhadap pekerjaan maupun rekan kerja.

3. Penurunan Capaian Pribadi: Timbulnya perasaan bersalah, merasa tidak kompeten, dan memandang diri sendiri gagala dalam mencapai sesuatu.

Ketika seseorang berada pada fase ini, tubuh dan otaknya tidak lagi merespons istirahat fisik dengan cara yang sama. Mengapa? Karena yang rusak bukan sekadar otot yang pegal, melainkan sistem regulasi emosi dan kognitifnya. jadi menyarankan pekerja yang mengalami burnout untuk "pergi liburan" atau "tidur yang cukup" sama saja dengan memberi plester luka pada luka yang terjadi dari dalam.

Jadi kita harus berhenti menyamakan "lelah fisik" dengan "lelah mental". Kelelahan fisik adalah sinyal bahwa tubuh butuh jeda. Burnout adalah alarm darurat bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungan kita.

Sudah saatnya kita, baik sebagai individu maupun pemberi kerja, memperlakukan burnout dengan pendekatan klinis yang serius. Pengenalan dini terhadap tiga dimensi Maslach dan penyediaan ruang kerja yang sehat secara psikologis adalah salah satu hal yang sangat penting. Jangan tunggu sampai pekerja kalian mengalami mental breakdown, karena jika sudah sampai di tahap itu, tidak ada jumlah waktu tidur atau liburan di dunia yang bisa langsung menyembuhkannya.