15 September 2026
News

217 Tahun Wakaf Habib Bugak Asyi, Warisan Aceh yang Tetap Mengalir di Mekkah

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDLebih dari dua abad silam, ketika Mekkah belum menjelma menjadi kota dengan gedung-gedung pencakar langit seperti sekarang, seorang ulama sekaligus saudagar asal Aceh menorehkan jejak yang melampaui zamannya. Habib Bugak Asyi mewakafkan hartanya di Tanah Suci pada 1809 M, sebuah amanah yang kelak berkembang menjadi Wakaf Baitul Asyi dan hingga kini manfaatnya masih dirasakan masyarakat Aceh.

Jejak sejarah itu kini dapat ditemukan di antara hiruk-pikuk Kota Mekkah, tanah yang dahulu diwakafkan untuk kemaslahatan orang Aceh berkembang menjadi aset produktif, termasuk bangunan hotel dan properti yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satunya adalah Hotel Elaf Mashaer, yang berada di kawasan Ajiyad Mushafi, tidak jauh dari Masjidil Haram.

Selain itu, adalah hotel yang berada di kawasan sekitar Masjidil Haram, seperti bangunan Al Massa Dar Al Faizeen yang tampak berdiri di tengah kawasan hotel dan pemukiman jamaah. Kehadiran aset-aset tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pengelolaan wakaf yang berasal dari tanah dan harta yang dahulu diperuntukkan bagi kemaslahatan orang Aceh di Tanah Suci.

Baitul Asyi dalam perkembangannya tidak berhenti sebagai aset yang pasif, namun pengelolaan dilakukan secara produktif melalui berbagai properti, termasuk hotel dan bangunan komersial. Selain hotel di kawasan sekitar Masjidil Haram, aset wakaf juga mencakup properti di kawasan Ajiyad Mushafi dan Aziziah, serta sejumlah bangunan lainnya yang diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Wakaf Baitul Asyi tidak berhenti pada satu bangunan, pengelolaannya berkembang mencakup sejumlah aset properti di berbagai kawasan Mekkah. Di antaranya Hotel Elaf Mashaer, Hotel Ramada di kawasan Ajiyad Mushafi, aset bangunan dan hotel di kawasan Aziziah, serta properti lainnya yang dikelola untuk menghasilkan manfaat berkelanjutan.

Dibalik dinding hotel dan bangunan modern itu, tersimpan cerita tentang sebuah konsep wakaf yang jauh melampaui zamannya. Harta yang diwakafkan bukan sekadar disimpan, tetapi dikelola agar terus menghasilkan. Nilai ekonominya kemudian dikembalikan dalam bentuk manfaat kepada mereka yang menjadi bagian dari amanah wakaf tersebut.

Bagi jemaah haji asal Aceh, manfaat itu bukan sekadar cerita sejarah. Setiap musim haji, hasil pengelolaan Wakaf Baitul Asyi dibagikan kepada jemaah Aceh yang berada di Mekkah. Dana tersebut menjadi bentuk nyata dari amanah yang telah diwariskan Habib Bugak Asyi sejak lebih dari 200 tahun lalu.

Pada musim haji 2026, jemaah haji Aceh menerima dana manfaat wakaf sebesar 2.000 riyal Arab Saudi per orang. Sebelumnya, besaran manfaat yang diterima jemaah mengalami perubahan dari tahun ke tahun, mengikuti hasil pengelolaan aset wakaf. menariknya, penerima manfaat hari ini adalah generasi yang hidup sangat jauh dari masa Habib Bugak Asyi. Namun, sebuah ikrar yang lahir pada awal abad ke-19 masih mampu menjangkau mereka.

"Inilah kekuatan wakaf, ketika dikelola secara produktif dan amanah, sebuah harta dapat terus memberikan manfaat meski orang yang mewakafkannya telah lama tiada."

Ditengah kemegahan Mekkah modern, kisah Wakaf Baitul Asyi menjadi sejarah pengelolaan harta wakaf yang dikelola dengan baik oleh lembaga yang amanah. Aceh pernah menanam sebuah jejak yang sangat jauh di Tanah Suci. Habib Bugak Asyi meninggalkan wakaf, bukan sekadar harta, ia meninggalkan mata rantai kebaikan yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dua abad berlalu, tetapi doa dan manfaat dari tanah wakaf itu masih pulang kepada orang-orang Aceh yang datang ke Kota Mekkah sebagai tamu Allah. (TS)