30 November 2025
Kisah
BANJIR PIDIE JAYA

Perjalanan Haru Lettu Kadet Cut Annisa Salsabila untuk Membantu Korban Banjir Pidie Jaya

Foto : Lettu Kadet Cut Annisa Salsabila, S.Ked | LIPUTAN GAMPONG NEWS

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDLettu Kadet Cut Annisa Salsabila, S.Ked., berdiri tegak dengan senyum tenang dan tatapan penuh keyakinan. Besok pagi, ia bersama 73 dokter muda dari Universitas Pertahanan akan terbang dari Bandara Halim Perdana Kusuma menuju Aceh. Mereka dikirim untuk memperkuat layanan kesehatan bagi ribuan warga yang terdampak banjir. Namun bagi Cut, penugasan ini bukan sekadar rutinitas kemiliteran atau praktik kedokteran, ini adalah perjalanan yang menyentuh akar hatinya.

Penempatan tenaga kesehatan dibagi ke dua titik strategis: Lanud Malikussaleh dan Lanud SIM. Di antara ratusan nama yang terlibat, Cut mengajukan satu permohonan sederhana namun sarat makna: ia ingin ditempatkan di kampung halamannya sendiri, Pidie Jaya. “InshaAllah besok pagi kami berangkat. Saya minta ditempatkan di Pidie Jaya,” ujarnya. kepada awak media LiputanGampongNews.id, Sabtu (29/11). Permintaan itu bukan tanpa alasan, di sana, rumah masa kecil, kenangan keluarga, dan sejarah darahnya menunggu untuk disentuh kembali.

Bagi keluarganya, kepergian itu membawa haru tersendiri. Ibunda dan ayahnya Teuku Syamsul Aly, menitip pesan kepada masyarakat Pidie Jaya “Mohon bantuan syedara-syedara sekalian nanti bila ananda sudah di Aceh,” ucapnya, seolah mengirimkan doa agar langkah anaknya dipermudah dan dilindungi. Dalam senyum tegar sang perwira muda, orang bisa merasakan rindu yang dipendam rapat-rapat, rindu kepada tanah di mana ayahchik dan leluhur mereka dimakamkan.

Selain memenuhi panggilan kemanusiaan, Cut menyimpan tujuan pribadi yang begitu dalam, ia ingin berziarah ke makam Ayahchik dan Kakeknya, Teuku Haji Yaqub Aly, di Manyang Cut Meureudu, Pidie Jaya. Nama-nama itu adalah pilar keluarganya, sosok yang membentuk jati dirinya sebelum ia mengemban identitas sebagai seorang prajurit sekaligus calon dokter. “Saya merasa harus pulang, untuk membantu saudara saya korban banjir Pidie Jaya, sekaligus untuk berziarah ke makam ayahchik dan kakek,” kata Cut dengan suara yang tergetar

Di tengah hiruk-pikuk persiapan, Cut tetap menjaga ketenangannya. Ia memahami bahwa tugas ini bukan sekadar distribusi medis dan tenaga. Ada wajah-wajah masyarakat yang kehilangan rumah, anak-anak yang sakit karena air kotor, para lansia yang kelelahan, dan ibu-ibu yang memebutuhkan ketenangan. Di sanalah ia ingin hadir, tidak hanya sebagai perwira UNHAN, tapi sebagai anak daerah yang kembali untuk merawat tanah kelahirannya.

Keputusannya pulang membawa kebanggaan tersendiri. Banyak yang melihatnya sebagai wujud nyata cinta seorang anak kepada kampung halaman, cinta yang tidak ditunjukkan melalui kata-kata, tetapi melalui pengabdian nyata. Cut datang bukan dengan tangan kosong, melainkan membawa ilmu, kemampuan, dan ketulusan untuk meringankan beban saudaranya sendiri.

Besok pagi, ketika pesawat dari Halim mengudara membawa rombongan tenaga kesehatan itu, Cut akan berdiri di antara mereka dengan doa yang berlapis-lapis. Doa keselamatan, doa pengabdian, dan doa untuk leluhurnya. Ia terbang bukan hanya sebagai bagian dari misi kemanusiaan, tetapi membawa kisah pulang seorang anak yang merindukan tanah yang melahirkannya.

Dan ketika ia akhirnya menginjakkan kaki di Meureudu, udara lembab pascabanjir itu akan menyambutnya, sebagaimana Aceh selalu menyambut anak-anaknya yang kembali dengan niat pengabdian. (**)