Di Kaki Bukit itu, Mereka Menemukan Alasan untuk Tetap Hidup
Foto : Komplek Dayah Madinatuddiyah Miftahussalam tampak dari Udara (tangkapan layar akun ig dayah_miftahussalam) | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Matahari pagi menyelusup di antara rimbun bambu. Cahayanya jatuh di jalan berbatu menuju sebuah kawasan Gampong Sagoe, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Kawasan itu dahulu nyaris tak diperhitungkan. Sepi, jauh dari keramaian, dan bagi sebagian orang tak lebih dari lahan yang belum banyak dimanfaatkan.
Kini, dari tempat yang sunyi itu, tumbuh sebuah harapan.
Di sana berdiri Dayah Madinatuddiniyah Miftahussalam.
Bangunannya sederhana. Tetapi orang-orang yang datang ke tempat ini membawa cerita yang tidak sederhana.
Ada anak yang kehilangan kasih sayang orang tua. Ada keluarga yang pecah dan meninggalkan luka. Ada pemuda yang pernah terseret penyalahgunaan narkotika. Ada pula mereka yang hidup dengan disabilitas, autisme, maupun gangguan jiwa.
Mereka datang bukan dengan masa lalu yang bersih.
Mereka datang karena masih ingin memiliki masa depan.
Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Pulang
Bagi sebagian santri, Miftahussalam bukan sekadar dayah untuk belajar agama.
Tempat itu menjadi rumah ketika rumah sebelumnya tak lagi mampu menerima mereka.
Di sinilah sisi lain pendidikan dayah terlihat. Ia bukan hanya soal kitab, pengajian, atau hafalan. Di tempat tertentu, dayah juga menjadi benteng terakhir bagi anak-anak muda yang nyaris terlepas dari lingkungan sosialnya. Serta juga tempat bagi para orang dewasa yang ingin memperdalam ilmu agamanya.
Dayah Miftahussalam berada di Gampong Sagoe dan didirikan oleh alumni Dayah Al-Madinatuddiyah Babussalam, Blang Blahdeh Kabupaten Bireuen.
Beroperasi setelah gempa bumi mengguncang Pidie Jaya pada 2016. Perkembangannya berlangsung di tengah proses pemulihan masyarakat yang trauma pascabencana.
Lembaga pendidikan itu tumbuh di sudut kampung dan membuka ruang bagi mereka yang membutuhkan pembinaan.
Berbeda dengan pola penerimaan santri di banyak dayah salafi, Miftahussalam juga menerima pemuda yang pernah terjerumus penyalahgunaan narkotika, penyandang disabilitas atau autisme, serta ODGJ untuk mendapatkan pembinaan.
Kini, 265 santri tinggal dan belajar di sana.
Sebanyak 173 santrwan dan 92 santriwati.
Angka itu menggambarkan besarnya tanggung jawab yang dipikul dayah tersebut.
Mereka Datang Membawa Luka
Tidak semua santri datang dari keluarga yang utuh.
Sebagian tumbuh dalam keluarga broken home. Sebagian kehilangan perhatian orang tua. Sebagian pernah berada dalam lingkungan yang membuat mereka semakin jauh dari kehidupan yang sehat.
Narkotika menjadi salah satu persoalan yang pernah menyeret sebagian dari mereka.
Namun Miftahussalam memilih tidak menjadikan masa lalu sebagai hukuman seumur hidup.
Di tempat itu, mereka diberi ruang untuk berubah.
Prosesnya tidak mudah.
Membina seseorang yang pernah kehilangan arah membutuhkan waktu. Tidak cukup dengan nasihat. Tidak cukup pula dengan aturan.
Ada pendampingan. Ada kesabaran. Ada hari-hari ketika perubahan mungkin terasa begitu lambat.
Tgk. Amri bin Nasruddin Ali, yang akrab disapa Waled Amri, memilih tetap berada di tengah proses tersebut.
Ia membina para santri satu per satu, berusaha mengembalikan kepercayaan diri mereka dan menanamkan keyakinan bahwa hidup tidak berhenti pada kesalahan masa lalu.
“Kadang saya sedih melihat keadaan mereka. Ada yang datang tanpa tempat pulang, ada yang sudah lama terjerat narkoba. Tapi saya percaya mereka masih punya masa depan,” ujar Waled Amri.
Keyakinan itu bukan sekadar kalimat penghibur.
Beberapa santri yang sebelumnya memiliki persoalan dengan penyalahgunaan narkotika kini telah mampu menata hidup. Bahkan, ada yang kemudian dipercaya menjadi bagian dari dewan guru.
Mereka yang pernah dibimbing kini ikut membimbing.
Di situlah perubahan menemukan bentuknya.
Dayah yang Memilih Tidak Menutup Pintu
Dayah Miftahussalam pada akhirnya bukan hanya tentang pendidikan agama.
Ia berbicara tentang kesempatan kedua.
Ketika keluarga tak mampu lagi menjadi tempat bertahan, ketika lingkungan sosial mulai menjauh, dan ketika seseorang dicap berdasarkan kesalahan masa lalu, masih ada ruang yang memilih untuk membuka pintu.
Namun, membuka pintu memiliki konsekuensi.
Semakin banyak santri yang datang, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi.
Fasilitas masih terbatas. Biaya operasional tidak ringan. Kebutuhan sehari-hari harus terus berjalan agar proses pendidikan dan pembinaan tidak terhenti.
Di titik inilah keberadaan masyarakat dan pemerintah menjadi penting.
Perjuangan tersebut perlu mendapat perhatian dari semua pihaknyang peduli terhadap pendidikan agama islam.
Boleh dikatakan keberadaan dayah yang memberikan ruang bagi anak-anak dengan latar belakang persoalan sosial tersebut patut menjadi perhatian bersama.
“Anak-anak ini juga punya hak untuk bermimpi dan mendapatkan masa depan yang baik. Jangan biarkan mereka merasa sendiri,” ujarnya.
Pernyataan itu menyentuh persoalan yang lebih luas.
Anak-anak yang pernah jatuh tidak semestinya hanya dilihat dari kesalahannya.
Mereka juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, lingkungan yang layak, dan kesempatan memperbaiki hidup.
Yang Mereka Minta Hanya Kesempatan
Di ujung Gampong Sagoe, bambu masih berdiri di sisi jalan berbatu.
Kawasan itu mungkin tetap sunyi. Tidak ada kemewahan yang menyambut orang yang datang.
Tetapi di balik kesederhanaan itu, ratusan santri sedang menjalani pertarungan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengejar ijazah atau status.
Mereka sedang berusaha memenangkan kembali hidupnya.
Waled Amri tahu perjuangan itu tidak mungkin ditanggung sendirian.
Ia berharap pemerintah, masyarakat, dan para dermawan ikut membantu memenuhi kebutuhan dayah agar pembinaan terhadap para santri dapat terus berjalan.
Harapannya sederhana.
“Kami tidak meminta banyak. Kami hanya ingin anak-anak ini punya kesempatan untuk berubah dan hidup lebih baik,” kata Waled Amri lirih.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi mereka yang pernah ditolak, kesempatan adalah sesuatu yang mahal.
Di Miftahussalam, kesempatan itu coba diberikan.
Satu pintu dibuka. Satu kehidupan diselamatkan. Lalu satu harapan ditanam kembali.
Sebab, terkadang masa depan seseorang tidak membutuhkan tempat yang megah untuk tumbuh.
Ia hanya membutuhkan satu tempat yang tidak menyerah untuk percaya bahwa seseorang masih bisa berubah.







