01 September 2026
Kisah
Potret Kemiskinan

Kompor Gas Jadi Barang Mewah, Anak Tak Lagi Sekolah: Kisah Humaira Janda Miskin di Pidie Jaya Bertahan Hidup

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDisebuah rumah sederhana di Gampong Keude Panteraja, Kecamatan Panteraja, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, hidup seorang perempuan bernama Humaira (40). Sejak berpisah dari suaminya pada 2017, ia menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal dengan tiga anak yang harusnya masih menikmati bangku sekolah. Namun, kemiskinan memaksa keluarga itu menukar masa kanak-kanak dengan perjuangan mencari sesuap nasi.

Hari-hari Humaira berjalan dalam kesunyian yang panjang. Tidak ada penghasilan tetap yang dapat diandalkan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, perempuan itu menelusuri lorong-lorong dan pekarangan rumah warga, mengumpulkan barang-barang bekas dan rongsokan yang masih memiliki nilai jual. Dari pekerjaan itu, dalam sehari ia terkadang hanya memperoleh sekitar Rp20 ribu. Uang yang bagi sebagian orang mungkin tidak seberapa, tetapi bagi Humaira menjadi penopang hidup keluarganya.

Kemiskinan bahkan terasa dari dapur rumah mereka. Untuk memasak, Humaira dan anak-anaknya masih mengandalkan kayu bakar. Kompor dan tabung gas bukan sekadar benda biasa bagi keluarga ini, melainkan sesuatu yang terasa mahal dan sulit dijangkau. Ketika kebutuhan makan harus dipenuhi setiap hari dengan uang yang terbatas, membeli kompor, tabung, sekaligus gas menjadi beban yang tidak mudah mereka pikul.

Ditengah kondisi itu, tiga anak Humaira pun perlahan ikut terseret ke dalam kerasnya kehidupan. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan bagi mereka untuk meraih masa depan terpaksa ditinggalkan. Bukan karena mereka tidak ingin sekolah, tetapi keadaan membuat mereka harus memilih antara belajar di ruang kelas atau membantu ibunya bertahan hidup.

Anak sulungnya, Munawarah (16), bahkan harus meninggalkan kampung halaman dan merantau ke tanah Deli, Medan, Sumatera Utara. Di sana ia bekerja di sebuah pabrik tahu dengan penghasilan yang pas-pasan. Jauh dari ibunya dan dua adiknya, gadis itu menjalani hari-hari dengan keringat dan kelelahan. Namun, dibalik pekerjaan beratnya tersimpan satu tujuan sederhana, yakni membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara itu, Maulida (13) memilih bertahan di kampung. Setiap hari ia membantu orang berjualan di pasar. Dari pekerjaan tersebut, Maulida biasanya membawa pulang sekitar Rp20 ribu. Uang itu kemudian diserahkan untuk kebutuhan keluarga. Di usia ketika anak-anak lain masih sibuk bermain dan belajar, Maulida justru belajar mengenal kerasnya kehidupan dari lorong-lorong pasar.

Namun, ujian terbesar keluarga itu kini datang dari Muhammad Zubair (10), anak laki-laki Humaira. Di usia yang masih sangat muda, Zubair sebelumnya ikut bekerja di kapal nelayan untuk mencari ikan. Ia mengarungi laut demi membantu ibunya. Tetapi sebuah musibah membuat perjuangannya terhenti. Kakinya mengalami patah tulang dan kini ia hanya bisa terbaring lemah di atas kasur lusuh di rumah bantuan yang ditempati keluarganya.

Kondisi Zubair membutuhkan penanganan medis dan operasi di Banda Aceh. Namun, biaya menjadi persoalan besar bagi keluarga tersebut. Karena keterbatasan ekonomi, bantuan warga secara sukarela menjadi salah satu harapan agar Zubair bisa mendapatkan pertolongan. Keluarga sempat mengupayakan pengobatan tradisional, tetapi kondisi kaki Zubair justru dikhawatirkan semakin memburuk. Kini, harapan mereka tertuju pada uluran tangan orang-orang yang memiliki kepedulian.

Kondisi anaknya yang sakit, Humaira tidak berhenti berjuang. Pagi hingga sore, ia tetap keluar mencari barang bekas. Rongsokan dikumpulkan satu per satu, lalu dijual untuk mendapatkan uang. Hasilnya yang terkadang hanya sekitar Rp20 ribu harus dibagi untuk membeli makanan, memenuhi kebutuhan rumah, sekaligus disisihkan demi biaya pengobatan Zubair. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain terus berjalan, mencari, dan berharap.

Kisah Humaira adalah potret sebuah keluarga yang sedang berhadapan dengan kemiskinan dalam bentuk paling nyata, kelurga ini kehilangan akses pendidikan, sulit memenuhi kebutuhan dasar, hingga tidak berdaya menghadapi biaya pengobatan. Namun ditengah kondisi itu, masih ada kesabaran yang membuat mereka bertahan. Humaira berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Sosial Pidie Jaya, bersama para dermawan dapat melihat kondisi keluarganya dan memberikan bantuan yang tepat. Bukan hanya untuk operasi Zubair, tetapi juga agar ketiga anaknya suatu hari dapat kembali memperoleh hak atas pendidikan dan kehidupan yang lebih layak. Sebab bagi keluarga kecil itu, bantuan bukan sekadar pemberian, melainkan kesempatan untuk kembali menatap masa depan.

Keluarga Humaira membutuhkan penanganan terpadu, bukan hanya bantuan sesaat, mulai dari akses operasi dan pengobatan Zubair, bantuan kebutuhan dasar, dukungan pendidikan agar anak-anak dapat kembali bersekolah, hingga pemberdayaan ekonomi bagi Humaira agar keluarga ini memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan. (**)