03 Februari 2026
Kisah

Dari Derasnya Banjir Menuju Rahmat Ilahi: Kisah Abizar Balita Pidie Jaya yang Menggetarkan Hati

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID
Minggu malam itu, 1 Februari 2026, sekitar pukul 22.00 WIB di RSUZA, tangis lirih pecah di sudut ruang perawatan. Muhammad Abizar, balita 18 bulan yang menjadi cahaya hati Amiruddin dan Fitriani, akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Kalimat “Innalillahi wainna ilaihi raji’un” terucap dengan suara bergetar, mengiringi kepergian putra semata wayang warga Dusun Lam Geundrang, Desa Meunasah Mancang, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya itu kembali ke pangkuan Ilahi.

Dua bulan sebelumnya, banjir besar yang menerjang desa pada 26 November 2025 telah mengubah segalanya. Malam itu, air datang tanpa ampun, merangsek masuk dan mengepung rumah kayu sederhana tempat Abizar dan ibunya berlindung. Ketika lantai rumah mulai hilang ditelan arus, keduanya bertahan di atas atap, memeluk harap di tengah gelap dan derasnya air yang menggulung.

Namun takdir berkata lain. Terjangan berikutnya merobohkan bangunan yang mereka pijak, menyeret ibu dan anak itu bersama puing-puing kayu yang tercerabut. Beberapa jam kemudian, mereka ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri. Sejak saat itu, lorong rumah sakit menjadi saksi perjuangan panjang seorang balita kecil melawan sesak di dadanya, paru-parunya dipenuhi cairan dan lumpur yang terbawa banjir.

Hari-hari berikutnya dipenuhi doa yang tak pernah putus. Di sisi ranjang perawatan, sang ayah dan ibu menggenggam tangan mungil Abizar, menatap wajah polos yang sesekali meringis menahan sakit. Setiap tarikan napasnya adalah harapan, setiap denyut nadinya adalah doa. Mereka percaya, selama masih ada napas, di situ pula ada peluang keajaiban.

Hingga akhirnya malam itu tiba. Dalam sunyi yang terasa panjang, Abizar pergi dengan tenang. Duka menyelimuti keluarga, menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan di hati orang tuanya. Namun di balik air mata yang jatuh, terselip keikhlasan yang perlahan tumbuh, keyakinan bahwa Allah telah menyembuhkan Abizar dari segala rasa sakitnya dan memilihnya untuk tempat yang lebih indah.

Kini, yang tersisa adalah kenangan,  tawa kecil yang pernah memenuhi rumah, langkah mungil yang baru belajar berjalan, dan panggilan lembut “Nak” yang tak lagi terjawab. Amiruddin dan Fitriani menahan rindu dengan sabar, berserah pada takdir yang telah digariskan. Dalam kesedihan yang dalam, mereka belajar menerima bahwa cinta sejati tak pernah hilang, ia hanya berpindah tempat, menunggu pertemuan kembali di keabadian. (**)