18 Januari 2026
Sosial
BANJIR ACEH

Banjir Menghancurkan Rumah, Gotong Royong Menyelamatkan Martabat Pidie Jaya

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -

Gotong Royong Rakyat Pidie Jaya Melawan Luka Bencana

Tidak semua bencana meninggalkan kehancuran semata. Di Pidie Jaya, banjir bandang 26 November 2025 memang merobohkan rumah, menutup jalan, dan memadamkan rasa aman. Namun, dari lumpur yang mengering perlahan, tumbuh sesuatu yang jauh lebih kokoh, yakni  persaudaraan. Di saat air surut, justru semangat kebersamaan bangkit tanpa diminta.

Pemandangan itu terlihat jelas di Kompleks Masjid Agung Tgk Chik Pante Geulima, Minggu lalu. Ratusan orang berkumpul bukan untuk berdoa semata, tetapi untuk bekerja. Mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry, kader organisasi kemasyarakatan, warga dari berbagai gampong, hingga unsur pemerintah daerah berdiri sejajar. Tak ada protokoler. Tak ada sekat sosial. Semua larut dalam satu irama gotong royong.

Tangan-tangan itu menyapu lumpur, mengangkat karung bantuan, dan menata kembali sisa-sisa kehidupan yang tercerai. Namun yang sebenarnya mereka bangun bukan hanya bangunan fisik. Di balik peluh dan lumpur, mereka sedang menegakkan kembali martabat dan harapan masyarakat yang sempat runtuh diterjang air bah.

Pesan sederhana namun menggugah datang dari Toke Land Pijay 2 Prabot, relawan sekaligus korban dari Gampong Dayah Usen. “Janganlah kita menjadi cicak dalam kondisi kritis ini,” ujarnya. Sebuah peringatan bahwa di saat genting, keselamatan bersama harus didahulukan dari pada kepentingan diri sendiri. Setiap tenaga, sekecil apa pun, memiliki arti.

Semangat itu diperkuat oleh teladan para keuchik, salah satunya Mukhlisuddin dari Gampong Ulee Gle, yang mengajak desa-desa tak terdampak untuk ikut turun tangan, bahkan hingga wilayah terparah. Gerakan ini diinisiasi Masyarakat Pidie Jaya Peduli (MPP), didukung dermawan lokal, WNI Aceh di Australia melalui Pengajian MTRI Sydney, serta bantuan logistik dari Asar Humanity, membuktikan bahwa jarak tak pernah menjadi penghalang kemanusiaan.

Kini, Pidie Jaya tidak berdiri sebagai daerah yang meratap, melainkan sebagai wilayah yang memanggil nurani. Gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan napas yang menjaga masyarakat tetap tegak. Sebab selama persatuan hidup di hati rakyatnya, tidak ada bencana yang mampu menenggelamkan harga diri Pidie Jaya. (**)