Tiga Tahun Menumpang di Gedung TPA, SDN Cipar-Pare Timur Menanti Gedung Sekolah Layak
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Sekitar 40 siswa SD Negeri (SDN) Cipar-Pare Timur, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, hingga kini masih menjalani proses belajar mengajar di gedung Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPA) milik desa. Kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga tahun, Sabtu (1/8).
Di tengah keterbatasan fasilitas, kegiatan pendidikan tetap berjalan dengan semangat para guru dan dukungan masyarakat. Namun, warga berharap Pemerintah Kota Subulussalam, Pemerintah Aceh maupun Pemerintah Pusat dapat segera menghadirkan gedung sekolah permanen yang layak bagi para siswa.
Kepala Desa Cipar-Pare Timur, Saipul, mengatakan keterbatasan sarana pendidikan menjadi salah satu persoalan yang hingga kini masih dihadapi sekolah tersebut. Meski belum memiliki gedung sendiri, proses belajar mengajar tetap dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas TPA sebagai ruang belajar sementara.
“Selama ini honorarium guru saya bayarkan menggunakan dana pribadi. Alhamdulillah sekarang sekolah sudah menerima Dana BOS, sehingga saya tidak lagi terbebani untuk membayar honor guru,” ujar Saipul.
Menurut Saipul, Pemerintah Desa Cipar-Pare Timur telah menunjukkan komitmen dengan menyiapkan lahan sekitar satu hektare di Dusun Mekarsari untuk pembangunan gedung sekolah. Lahan tersebut bahkan telah diratakan dan dinilai siap digunakan apabila pembangunan sekolah direalisasikan.
“Kami selaku pemerintah desa sudah menyiapkan lahan seluas satu hektare di Dusun Mekarsari. Lokasinya sudah diratakan dan siap digunakan untuk pembangunan ruang kelas baru SDN Cipar-Pare Timur. Kami berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Cipar-Pare Timur membenarkan bahwa kegiatan belajar mengajar hingga kini masih berlangsung di gedung TPA. Menurutnya, penggunaan gedung tersebut merupakan langkah sementara agar proses pendidikan tetap berjalan meski sekolah belum memiliki bangunan sendiri. “Benar, kami masih menggunakan gedung TPA sebagai fasilitas belajar mengajar untuk SD Negeri Cipar-Pare Timur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada Tahun Ajaran 2026/2027, SDN Cipar-Pare Timur memiliki sekitar 40 siswa dengan dukungan tiga orang guru, satu operator sekolah (OPS), dan satu kepala sekolah. Sekolah tersebut kini telah memiliki tiga rombongan belajar (rombel), namun seluruh kegiatan pendidikan masih berlangsung di fasilitas TPA.
Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Sejumlah fasilitas pendidikan yang semestinya tersedia di sebuah sekolah belum dapat dipenuhi secara optimal karena kegiatan belajar masih menumpang di bangunan milik desa.
“Untuk sarana dan prasarana kami masih banyak kekurangan karena masih menumpang di gedung TPA. Jadi kami menggunakan fasilitas yang tersedia di gedung tersebut untuk mendukung proses belajar mengajar,” jelasnya.
Pihak sekolah menyebutkan, usulan pembangunan ruang kelas dan kantor sekolah telah disampaikan kepada pemerintah terkait. Namun, hingga kini pembangunan gedung sekolah tersebut belum terealisasi dan pihak sekolah masih menunggu tindak lanjut.
“Kami sudah mengusulkan agar segera dibangun ruang kelas dan kantor sekolah. Sampai sekarang kami masih menunggu realisasi pembangunan tersebut,” katanya.
Sebagai tenaga pendidik, pihak sekolah berharap perhatian pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang masih dalam tahap pengembangan dapat terus ditingkatkan. Terlebih, keberadaan sekolah tersebut menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak di wilayah Cipar-Pare Timur.
“Harapan kami, Pemerintah Kota Subulussalam dapat memberikan perhatian terhadap pembangunan sekolah, khususnya bagi sekolah yang baru memulai. Saat ini SD Negeri Cipar-Pare Timur sudah memiliki tiga rombongan belajar, namun masih menumpang di gedung TPA. Kami berharap pembangunan gedung sekolah dapat segera direalisasikan,” harapnya.
Harapan serupa disampaikan masyarakat. Warga tidak sekadar menginginkan bangunan fisik, tetapi juga berharap anak-anak mereka dapat belajar dalam lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik.
Bagi masyarakat Cipar-Pare Timur, pembangunan gedung sekolah bukan hanya persoalan infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak mereka. Karena itu, warga berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi terbaik melalui pembangunan gedung sekolah permanen beserta ruang kelas dan fasilitas pendukung lainnya.
Masyarakat pun mendoakan agar ikhtiar tersebut segera mendapat jalan keluar. Dengan hadirnya gedung sekolah yang layak, proses belajar mengajar diharapkan semakin optimal dan para guru dapat menjalankan tugasnya dengan lebih nyaman dalam mendampingi anak-anak menuntut ilmu.
Pada akhirnya, gedung sekolah yang dinantikan bukan sekadar dinding dan ruang kelas. Di tempat itulah anak-anak Cipar-Pare Timur akan menulis cita-cita, mengenal dunia, dan menyiapkan diri menjadi generasi penerus yang kelak menentukan masa depan daerah dan bangsa. (**)






