04 September 2026
Kisah

Tak Tamat SD, Pria ini Menantang Rentenir, Membuka Jalan bagi Petani

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPanen semestinya menjadi saat paling membahagiakan bagi petani. Namun bagi sebagian petani di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, hasil panen justru kerap menjadi jalan pulang bagi utang. Sebelum gabah sampai ke rumah, sebagian hasilnya sudah berpindah tangan untuk membayar pinjaman. Musim tanam berikutnya pun dimulai dengan persoalan yang sama: membutuhkan modal, tetapi tidak memiliki agunan untuk mengetuk pintu bank.

Ditengah lingkaran itulah Masril Koto merasa gelisah. Ia melihat petani bekerja dari pagi hingga petang, mengolah sawah dengan tenaga sendiri, tetapi tetap kesulitan keluar dari kemiskinan. Ketika bank menolak, rentenir menjadi tempat bergantung. Pinjaman yang tampak seperti pertolongan sesaat perlahan berubah menjadi beban yang menggerus hasil kerja petani.

Masril bukan orang yang datang dari dunia perbankan. Pendidikan formalnya bahkan hanya sampai kelas 4 SD. Tetapi ia memahami satu hal yang sering luput dilihat orang, petani bukan tidak mampu membayar pinjaman, mereka hanya tidak memiliki akses terhadap modal yang sesuai dengan kehidupannya.

Tahun 2006 menjadi titik awal perjuangannya. Masril mendatangi petani dari rumah ke rumah, mengajak mereka mengumpulkan iuran. Jumlahnya tidak besar. Hanya uang yang mungkin terasa kecil bagi seseorang, tetapi menjadi berarti ketika dikumpulkan bersama. Dari recehan itulah sebuah gagasan besar mulai tumbuh: petani harus memiliki kekuatan keuangan sendiri.

Tanpa gedung megah dan tanpa modal besar, mereka membangun lembaga keuangan mikro agribisnis yang dikelola untuk kepentingan petani. Yang menjadi modal awal bukan kekayaan, melainkan kepercayaan. Petani menabung, petani meminjam, dan petani pula yang menjaga agar lembaga itu tetap berjalan.

Banyak yang meragukan gagasan tersebut. Sulit membayangkan kelompok petani yang selama ini ditolak bank mampu mengelola lembaga keuangan sendiri. Namun waktu perlahan membuktikan sebaliknya. Petani mulai memiliki pilihan ketika membutuhkan modal. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada rentenir untuk membeli bibit, pupuk, atau memenuhi kebutuhan usaha.

Bagi Masril, kemenangan sesungguhnya bukan ketika lembaga itu berkembang besar. Kemenangan itu terjadi ketika seorang petani yang dahulu datang kepada rentenir mulai berani datang kepada lembaganya sendiri. Ada perubahan kecil di sana, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari rasa takut terhadap utang menuju keberanian mengelola modal secara bersama.

Dari gerakan sederhana itu, gagasan yang kemudian dikenal sebagai Bank Tani berkembang dan menjangkau lebih banyak petani. Apa yang dimulai dari iuran kecil berubah menjadi gerakan ekonomi kerakyatan. Masril tidak sekadar mengumpulkan uang, tetapi berusaha mengembalikan kepercayaan diri petani bahwa mereka mampu mengelola kekuatan ekonominya sendiri.

Kisah Masril Koto pada akhirnya bukan kisah tentang seorang lelaki yang tidak tamat SD lalu berhasil membangun lembaga keuangan. Ini adalah kisah tentang keberanian melihat ketidakadilan di depan mata dan memilih untuk melawannya dengan cara yang nyata. Ketika pintu bank tertutup bagi petani karena mereka tak punya agunan, Masril memilih membuat pintu lain, pintu yang dibangun dari uang kecil, kepercayaan, dan gotong royong. Dibalik pintu itulah ia menanam harapan, agar petani tidak lagi bekerja keras hanya untuk membayar utang. (**)