25 Mei 2026
Opini

Stigma Anak Tunggal Lebih Beruntung dan Realitas yang tidak Sederhana

Oleh : Sarah Vionisa Siregar
Mahasiswi Prodi Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh


OPINI - Anak tunggal sering dianggap sebagai sosok yang “paling beruntung”. Masyarakat melihat mereka tidak perlu berbagi kasih sayang dan perhatian orang tua, serta kebutuhan selalu tercukupi karena hanya untuk dirinya sendiri. Namun, di balik stigma itu ada beban dan kenyataan yang tidak selalu terlihat. Persepsi ini semakin lama semakin menguat, sehingga anak tunggal sering dilabeli hidupnya lebih enak dibandingkan orang lain.

Padahal, kenyataan anak tunggal tidak sesederhana itu. Mereka tumbuh dalam ruang yang lebih sunyi karena tidak ada saudara di rumah untuk berbagi cerita atau dijadikan panutan. Akibatnya, anak tunggal terbiasa menghadapi banyak hal sendirian dan belajar mandiri sejak kecil.

Menurut penelitian Pratama & Rahayu (UNIKA Soegijapranata), banyak anak tunggal dewasa mudah merasa kesepian. Kesepian itu muncul bukan hanya karena tidak ada saudara, tetapi juga karena rasa kurang percaya diri dan minim interaksi dengan orang lain. Untuk mengatasinya, mereka biasanya mencoba mengenal diri lebih baik, memperbaiki cara berkomunikasi, dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan.

Situasi bisa semakin berat apabila figur ayah kurang hadir. Kehadiran ayah penting untuk membentuk rasa aman, kepercayaan diri, dan kemampuan mengatur emosi. Jika peran ini tidak optimal, anak bisa mengalami kebingungan emosional yang tidak selalu terlihat dari luar.

Selain itu, anak tunggal sering mendapat ekspektasi besar dari orang tua karena hanya mereka satu-satunya harapan. Harapan yang terpusat ini bisa menimbulkan tekanan dalam akademik maupun masa depan.

Penelitian di IAIN Kediri tentang anak tunggal dengan orangtua otoriter menunjukkan bahwa mereka cenderung merasa tidak nyaman dengan statusnya, enggan bersosialisasi, dan terlalu bergantung pada zona yang dibentuk orang tua. Tekanan ini dapat memicu rasa takut gagal.

Stigma sosial bahwa anak tunggal “pasti lebih enak” justru membuat mereka merasa tidak dipahami. Ketika mengalami kesulitan, lingkungan sering meremehkan karena menganggap anak tunggal tidak punya alasan untuk merasa lelah. Akibatnya, mereka terbiasa memendam masalah sendirian.

Namun, tidak semua pengalaman anak tunggal negatif. Banyak yang tumbuh menjadi pribadi mandiri dan mampu beradaptasi dengan baik. Penelitian kuantitatif di MTI Canduang (Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai) menemukan bahwa meski anak tunggal cenderung pemurung dan mencari perhatian, aspek emosi mereka tetap tergolong baik karena terbiasa beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Kesendirian justru bisa menjadi ruang untuk berkembang dan mengenal diri lebih dalam.

Hal ini menunjukkan bahwa kondisi anak tunggal tidak selalu berdampak buruk. Semuanya bergantung pada dukungan keluarga dan lingkungan.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk melihat setiap individu secara lebih utuh, tanpa terjebak pada persepsi bahwa anak tunggal selalu lebih beruntung.