22 Juli 2026
Opini

Hukum Jante: Ketika Kerendahan Hati Menjadi Kekuatan

Oleh: Fakhrurrazi, S.ST., M.Si - Ketua DPD PPNI Pidie Jaya

OPINI  - Di era ketika setiap orang berlomba menunjukkan siapa yang paling hebat, paling kaya, paling pintar, dan paling sukses, masyarakat Norwegia justru mengenal sebuah nilai budaya yang disebut Hukum Jante (Janteloven). Salah satu pesannya yang paling terkenal berbunyi:

«"Jangan berpikir kamu lebih baik daripada orang lain."»

Kalimat ini bukanlah ajakan untuk mematikan ambisi, mengubur potensi, atau melarang seseorang berprestasi. Justru sebaliknya, Hukum Jante mengingatkan bahwa keberhasilan adalah amanah yang harus melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan. Prestasi adalah buah dari ikhtiar dan karunia Tuhan, bukan alasan untuk merasa lebih mulia daripada sesama.

Dalam pandangan tasawuf, kerendahan hati bukan sekadar sikap sosial, melainkan jalan untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Para ulama sufi mengajarkan bahwa akar dari banyak keburukan adalah ujub, yaitu kekaguman terhadap diri sendiri, yang kemudian melahirkan kesombongan (kibr) dan merasa lebih baik daripada orang lain. Padahal, seseorang yang merasa dirinya sudah baik sering kali justru berhenti memperbaiki diri.

Ada sebuah nasihat yang diwariskan oleh para ulama tasawuf yang sangat indah untuk menjaga hati. Ketika melihat seseorang yang lebih muda, katakanlah dalam hati, "Ia lebih sedikit dosanya daripada aku." Ketika bertemu dengan seseorang yang lebih tua, katakanlah, "Ia telah lebih lama beribadah dan mengabdi kepada Allah daripada aku." Ketika melihat orang yang berilmu, katakanlah, "Ia mengetahui apa yang tidak aku ketahui." Ketika melihat orang yang kurang berilmu, katakanlah, "Boleh jadi ia lebih ikhlas dan lebih dekat kepada Allah daripada aku." Bahkan ketika melihat seseorang yang tampak bergelimang dosa sekalipun, seorang sufi akan berkata dalam hatinya, "Aku tidak tahu bagaimana akhir hidupku, tetapi bisa jadi ia akan bertaubat dan meninggal dalam keadaan lebih mulia di sisi Allah daripada diriku."

Cara pandang seperti inilah yang membunuh kesombongan sejak masih berupa benih. Bukan karena kita merendahkan diri, tetapi karena kita menyadari bahwa hanya Allah yang benar-benar mengetahui nilai seseorang. Yang tampak mulia di mata manusia belum tentu mulia di sisi-Nya, dan yang tampak biasa saja belum tentu rendah derajatnya di hadapan Allah.

Kerendahan hati adalah tanda kedewasaan. Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk memamerkan ilmunya. Orang yang benar-benar kaya tidak merasa perlu mempertontonkan kekayaannya. Orang yang benar-benar kuat tidak menggunakan kekuatannya untuk menindas. Sebaliknya, mereka lebih memilih menjadi manfaat bagi orang lain daripada menjadi pusat perhatian.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai orang yang merasa paling benar, paling berjasa, atau paling penting. Padahal, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Hari ini kita berada di atas, esok bisa jadi kita membutuhkan uluran tangan orang yang selama ini kita pandang sebelah mata. Hidup berputar, dan Allah mampu membolak-balikkan keadaan dalam sekejap.

Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi. Kesombongan bukan hanya soal cara berpakaian atau berbicara, tetapi juga ketika hati merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya, tawaduk bukan berarti rendah diri, melainkan kemampuan menempatkan diri secara proporsional sambil tetap menghormati martabat setiap manusia sebagai ciptaan Allah.

Masyarakat yang dipenuhi orang-orang yang rendah hati akan lebih mudah membangun kerja sama, saling menghargai, dan menciptakan kehidupan yang harmonis. Sebaliknya, kesombongan hanya melahirkan iri hati, perpecahan, serta persaingan yang kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi ia berdiri di atas orang lain, tetapi dari seberapa banyak ia mampu mengangkat orang lain tanpa merasa dirinya lebih tinggi. Sebab, semakin seseorang mengenal Tuhannya, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Yang Maha Besar.

Prestasi boleh tinggi, jabatan boleh naik, harta boleh bertambah. Namun hati harus tetap membumi. Sebab padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Dan barangkali, orang yang kita anggap biasa hari ini justru lebih mulia di sisi Allah daripada diri kita. (**)