Foto : Muzammil & Rasya, Dua Siswa MIN 1 Pidie Jaya Melakukan Aksi Gotong Royong Pembersihan Halaman Sekolah | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di tengah puing harapan yang tersisa pascabanjir bandang, semangat itu justru menyala dari tangan-tangan kecil di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Minggu (11/1), dua siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pidie Jaya terlihat ikut bergotong royong membersihkan lumpur dan sisa kerusakan yang menenggelamkan sekolah mereka. Di saat sebagian orang dewasa masih berkutat dengan trauma, dua bocah ini memilih bangkit dengan ketekunan dan keikhlasan.
Muzammil, siswa kelas 3, dan Rasya, siswa kelas 4, tampak tak canggung memegang skrop kecil dan gerobak sorong. Dengan pakaian seadanya dan wajah penuh lumpur, mereka membersihkan halaman sekolah yang rusak parah akibat banjir bandang yang melanda Kabupaten Pidie Jaya. Bencana itu menghancurkan ruang kelas, fasilitas belajar, dan menyisakan lumpur tebal yang menghambat proses belajar mengajar hingga kini.
Tak hanya di lingkungan sekolah, Rasya juga bergabung bersama ratusan relawan mahasiswa dan masyarakat membersihkan halaman Masjid Tgk Chik Pante Geulima serta Panti Asuhan Yayasan Darul Aitam Meureudu. Bagi bocah seusianya, ini bukan sekadar gotong royong, tetapi bentuk cinta pada lingkungan dan tempat mereka menimba ilmu serta nilai kehidupan.
Ketekunan dua siswa ini menjadi pemandangan yang menggetarkan. Di saat anak-anak lain mungkin masih larut dalam ketakutan atau memilih menjauh dari lokasi bencana, Muzammil dan Rasya justru hadir dengan kesadaran sederhana, sekolah mereka harus kembali bersih agar pelajaran bisa kembali dimulai. Sebuah sikap yang lahir dari kepedulian tulus, bukan paksaan.
Di sela-sela gotong royong, Muzammil dengan polos menyampaikan niatnya kepada awak media. “Saya tidak punya apa-apa selain tenaga. Ini yang bisa saya sumbangkan. Tekad saya, sekolah kami harus bersih seperti sedia kala,” ujarnya lirih. Bocah yang bercita-cita menjadi dokter itu berharap suatu hari bisa membantu banyak orang, seperti halnya ia membantu sekolahnya hari ini.
Sementara itu, Rasya menuturkan bahwa ia merasa sedih melihat sekolah dan tempat ibadah dipenuhi lumpur. “Kalau sekolah bersih, kami bisa belajar lagi. Saya ingin sekolah kami kembali seperti dulu,” katanya. Siswa yang bercita-cita menjadi jenderal TNI seperti Panglima Angkatan Darat itu mengaku ingin belajar disiplin dan pengabdian sejak kecil.
Dua siswa MIN 1 Pidie Jaya ini bukan sekadar tentang membersihkan lumpur, melainkan tentang karakter yang tumbuh di tengah keterbatasan. Di balik tubuh kecil mereka, tersimpan keteguhan, rasa tanggung jawab, dan keikhlasan yang sering kali luput dari sorotan kebijakan dan angka-angka laporan bencana.
Di sinilah harapan itu seharusnya mengetuk nurani para pemangku kebijakan, terutama para pejabat di lingkungan Kementerian agama dan Pendidikan. Di Pidie Jaya, semangat belajar masih hidup meski sekolah porak-poranda. Anak-anak seperti Muzammil dan Rasya telah memberi teladan, mereka tak menunggu segalanya sempurna untuk bangkit, mereka memulainya dengan keberanian dan ketulusan. Sebuah pesan yang layak didengar hingga ke pusat negeri. (**)






