09 Agustus 2026
Opini

Saudaraku Para Perambah Hutan, Jangan Salahkan Hujan: Ada Jejak Kerakusan di Balik Banjir Bandang

OPINI - Jangan terlalu cepat menyalahkan hujan ketika banjir datang. Jangan pula setiap bencana hanya dijelaskan sebagai takdir, seolah-olah manusia sama sekali tidak memiliki peran dalam menciptakan kerentanan ekologis. Banjir bandang yang menerjang sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025 semestinya menjadi pelajaran bagi kita semua. Air bah datang membawa kayu gelondongan, batu, tanah dan lumpur, menerjang rumah-rumah warga, memutus jalan dan jembatan, menghancurkan irigasi serta memaksa ribuan manusia meninggalkan kampung halamannya. Di balik bencana itu, ada alam yang sedang memberi peringatan kepada manusia.


Pidie Jaya adalah salah satu daerah yang merasakan pahitnya bencana tersebut. Rumah warga hancur, lahan pertanian tertimbun lumpur, jaringan irigasi rusak, sementara petani kehilangan sumber penghidupan. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sawah, kerusakan itu bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ketika sawah tertimbun material banjir, yang rusak bukan hanya tanah, tetapi juga harapan untuk menanam, memanen dan menghidupi keluarga. Ketika jembatan putus, yang terputus bukan sekadar akses kendaraan, melainkan rantai kehidupan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Yang lebih mengusik nurani adalah material yang dibawa arus, seperti kayu-kayu gelondongan berukuran besar, bercampur tanah dan lumpur yang di sejumlah tempat mencapai dua hingga tiga meter. Pertanyaan kemudian tidak boleh berhenti pada, “Mengapa hujan begitu deras?” Kita juga harus berani bertanya, “Dari mana kayu-kayu itu berasal? Bagaimana kondisi hutan di kawasan hulu? Apakah kawasan tangkapan air masih dijaga? Siapa yang mengawasi? Dan jika ada kerusakan hutan, mengapa bisa berlangsung begitu lama?” Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tuduhan. Itu adalah pertanyaan publik yang layak dijawab secara terbuka.

Kepada saudaraku yang masih merambah hutan, saya ingin berbicara dengan kepala dingin dan hati terbuka. Saya memahami bahwa hidup membutuhkan biaya. Saya memahami ada keluarga yang harus diberi makan dan anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Tetapi jangan pernah kita menganggap hutan sebagai ATM yang boleh ditarik terus-menerus tanpa batas. Pohon yang kita tebang hari ini mungkin menghasilkan uang dalam hitungan hari, tetapi fungsi ekologisnya membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh. Ketika satu batang pohon jatuh, kita mungkin melihat uang. Alam melihat hilangnya penahan air, hilangnya tempat hidup satwa dan terbukanya tanah terhadap erosi.

Namun persoalan ini juga tidak adil jika hanya dibebankan kepada para pekerja lapangan. Kita harus berani melihat lebih jauh. Jika ada perambahan dalam skala besar, siapa yang menyediakan modal? Siapa yang membeli hasilnya? Siapa yang mengangkutnya? Siapa yang menikmati keuntungan paling besar? Dan siapa yang selama ini memastikan kawasan hutan tetap aman? Jangan sampai orang kecil hanya menjadi wajah yang terlihat, sementara aktor yang memperoleh keuntungan justru bersembunyi di balik rantai bisnis yang panjang. Di sinilah aparat penegak hukum dan pemerintah harus bekerja serius, transparan dan tanpa tebang pilih. Jika benar ditemukan pelanggaran, jangan hanya menangkap tangan yang memegang kapak, telusuri juga rantai modal dan pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari kerusakan hutan.

Bencana juga harus menjadi momen untuk mengevaluasi tata kelola lingkungan di Aceh. Jangan menunggu banjir berikutnya untuk kemudian sibuk menghitung rumah yang rusak, jembatan yang ambruk dan hektare sawah yang tertimbun lumpur. Pemerintah harus memperkuat pengawasan kawasan hutan, membuka informasi perizinan, menindak pembalakan liar dan memastikan setiap aktivitas pemanfaatan kawasan hutan berjalan sesuai aturan. Masyarakat sipil, jurnalis dan aktivis lingkungan juga harus diberi ruang untuk mengawasi tanpa diintimidasi. Hutan terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada laporan administratif di atas meja.

Kita boleh berbeda dalam kepentingan, tetapi kita tidak boleh berbeda dalam satu hal, yakni keselamatan manusia dan keberlanjutan alam. Jangan sampai keuntungan hari ini menjadi bencana untuk generasi berikutnya. Jangan sampai anak-anak kita kelak hanya mengenal hutan melalui gambar di buku, sementara mereka hidup di antara sungai yang dangkal, bukit yang gundul dan banjir yang datang setiap musim hujan. Rezeki memang harus dicari, tetapi rezeki yang berkah semestinya tidak meninggalkan kehancuran bagi orang lain.

Karena itu, kepada saudaraku para perambah hutan, kepada pemodal yang mungkin berada di belakang rantai perdagangan kayu, kepada pemerintah yang diberi amanah menjaga kawasan hutan, dan kepada aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan menindak pelanggaran, mari berhenti sejenak dan membaca pesan dari lumpur yang datang dari hulu. Banjir tidak pernah memilih rumah siapa yang akan diterjang. Ia tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Tetapi dampaknya paling berat selalu dirasakan oleh mereka yang paling lemah. Jangan tunggu bencana berikutnya untuk mencari siapa yang salah. Saatnya kita mencari siapa yang bertanggung jawab, memulihkan hutan yang rusak, menegakkan hukum secara adil, dan mengembalikan alam kepada fungsi sejatinya. Sebab hutan bukan milik kita untuk dihabiskan. Ia adalah titipan—dan setiap titipan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. (TS)