28 November 2021
logo
Opini

Sampah dan Masa Depan Kita

OPINI - Setiap kali melewati Jalan Layang Pidie Jaya, kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan: hamparan sawah, Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, pegunungan membiru di arah selatan disertai garis putih kecil air terjun Malem Diwa, dan . . . sampah yang bertebaran di sepanjang Jalan Layang. 

Jelang pukul tujuh, seorang lelaki bersama seorang perempuan akan berkeliling antara Jalan Layang sampai depan Gedung Dewan Rakyat Pidie Jaya. Keduanya membawa sapu. Dan entah sampai pukul berapa mereka membersihkan ruang jalan di seputaran Istana Pidie Jaya.


Apa yang saya saksikan mungkin bagi banyak kita bisa jadi hanya sesuatu hal yang biasa saja. Sesuatu yang lumrah terjadi. Mentari beranjak naik ke langit di pagi hari dan tenggelam perlahan di ufuk barat. Ombak yang menghempas pantai tak mengenal lelah. Daun-daun yang gugur berganti tunas-tunas yang muda. Alam telah diatur dengan suatu sistem yang demikian sempurna. 

Barangkali si bapak dan si ibu yang membawa sapu juga masuk kategori itu juga. Mereka akan datang setiap pagi, pulang setelah ruas jalan di seputar Istana Pidie Jaya bebas dari sampah, dan di awal bulan mereka akan menerima bayaran setimpal dengan keringat yang mereka keluarkan. Sampai sekarang saya tidak pernah tergerak untuk mencoba bertanya bagaimana pendapatnya tentang sampah di Jalan Layang sampai Gedung Dewan Rakyat. 

Saya bayangkan seandainya beberapa pertanyaan harus diajukan kepadanya barangkali ia akan heran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pernakah ia merasa marah setiap pagi karena harus melihat sampai berserakan di ruang jalan dekat rumah Yang Mulia? Adakah terbersit di hatinya pertanyaan mengapa orang-orang berpakaian necis dan bersepatu licin yang datang dari berbagai penjuru menuju Komplek Pemkab Pidie Jaya untuk memikirkan solusi sampah terbebas dari jalan-jalan yang dibersihkannya? Ataukah pikirannya malah menginginkan yang sebaliknya; semoga tidak ada dari bapak-bapak atau ibu-ibu itu mengupayakan satu solusi agar tidak ada lagi sampah di sana. Sebab, jika itu terjadi, kemungkinan ia akan dipurnatugaskan sebagai pramusampah. 

Tentu saja banyak kemungkinan lain yang dipikirkan orang-orang di Pidie Jaya untuk menanggulangi masalah ledakan sampah yang juga terjadi di banyak negara berkembang (alih-alih untuk tidak mengatakan negara miskin). Beberapa pemuda bahkan mendirikan Pijay Gleeh dengan program membersihkan sejumlah kota kecamatan pada hari-hari tertentu, khususnya hari Minggu. Para pemuda ini telah melihat negeri-negeri jauh barangkali melalui YouTube. Betapa surgawinya perkampungan-perkampungan di Swiss, Swedia, Sardinia, dan lainnya yang kalau dilihat dari struktur alamnya jelas masih kalah jauh dengan kawasan tropis milik kita. Namun, karena mereka mampu mengelola sampah dengan baik, alam mereka yang tidak sekaya kita, ternyata malah lebih indah dan lebih menyenangkan bagi sesiapa saja yang memandang. 

Sampah tentu saja momok masa depan untuk generasi kita ke depan. Sampah, bagaimana pun, tetap akan terus ada di antara kehidupan kita. Mengapa orang lain mampu mengelola dengan baik, sementara di tempat kita pengelolaan sampah seolah-olah menjadi sesuatu yang mustahil? Sampai kapankah kita menunggu masyarakat kita menyadari bahayanya sampah untuk lingkungan dan kehidupan kita sendiri? Sudah saatnya Pemkab Pidie Jaya menyosialisasikan bahaya sampah. Menyosialisasikan jenis-jenis sampah dan masa sampah. Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan mengatasi persoalan sampah? Perlukah tiap desa dipasang sejumlah amaran di tempat-tempat strategis slogan: Gampong Bebas Sampah? Perlukah tiap-tiap majelis ta'lim dan mimbar jumat membahas langkah-langkah menertibkan sampah dengan panduan Al-Qur'anul Karim? 

Akan menarik jika seorang teungku membahas; mengapa Islam itu miskin, banyak teungku sekarang yang kaya, tapi sampah tetap merajalela? Mengapa negeri orang kafir lebih bersih dari negeri orang muslim, sementara mck (mandi cuci kakus) meunasah, masjid di Aceh jarang sekali yang bersih?


Saya menawarkan ide pengelolaan sampah ini kepada rekan Komunitas Pijay Gleeh melibatkan kaum sarungan. Datangi Waled Nu, Abi Anwar Kuta Krueng, dan Abi Mudi. Usahakan para ulama Aceh ini sepakat dengan konsep pengelolaan sampah modern. Kerjasama dengan kaum sarungan ini mungkin cukup satu: mereka mau ikut menjadi pelopor Pidie Jaya bebas dari sampah. Karena pemikiran masyarakat menengah ke bawah akan mudah diyakinkan oleh seseorang yang dianggap memiliki ilmu agama yang mumpuni. 

Lalu setiap beberapa bulan sekali, buatlah gebyar perang terhadap sampah. Bisa jadi jalan santai memungut sampah, sepeda santai memungut sampah, bermain ombak sambil mengutip sampah di pantai, dan lainnya. Substansi dari kegiatan ini adalah upaya menghargai sampah: sikap bangga yang dimiliki orang-orang Barat yang merasa menjadi warga negara yang baik ketika memungut sampah, baik di tempat umum maupun di lingkungan sendiri. 

Di samping kerjasama dengan kaum santri Komunitas Pijay Gleeh, Pemkab Pidie Jaya dapat membuat program: Pemilihan Duta Sampah dari tingkat gampong, kecamatan, dan tingkat kabupaten. Berikan mereka uang pembinaan dari dana negara. Setiap setahun sekali pilih duta sampah. Bisa jadi tahun depan ada figur lain yang lebih peduli terhadap sampah di wilayahnya. Tiap peserta harus dapat menceritakan langkah-langkah mereka mengelola sampah di wilayahnya. Mereka harus menunjukkan bukti. Juara sampah tingkat kabupaten hadiahnya umrah. 

Jika penghargaan yang diberikan Pemkab Pidie Jaya setulus itu, saya yakin dalam hitungan tahun tidak ada lagi sampah yang bertebaran di Pidie Jaya. Tidak ada lagi sampah berserakan di sepanjang Jalan Layang Istana Pidie Jaya sampai depan Gedung Dewan Rakyat. Anda dan saya akan sumringah berselfi ria di Jalan Layang dengan latar belakang Perkantoran Pidie Jaya dan perbukitan hijau, pegunungan biru tua. 

Penulis: Edi Miswar, S.Pd.,Gr. 
Jamaah Komunitas Kanöt Bu

logologo
logologo