28 Februari 2024
Opini

Nelayan dan Petani Kita

Oleh: DR. H. Asfifuddin, S.H, M.H

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Aceh sebuah provinsi yang terletak paling ujung barat Republik Indonesia, yang kaya dengan sumber daya alam. Baik baik di darat maupun lautan.

Aceh memiliki garis pantai 2.666,27 km. dikelilingi laut lepas Samudera Indonesia - Hindia di wilayah barat Selatan Aceh. Sementara Selat Malaka serta perairan Andaman berada di wilayah Utara dan Timur Aceh, yang sudah pasti kaya akan hasilnya.

Disisi lain terdapat dataran tinggi bukit barisan yang membentang memberikan sumber daya alam hutan, tanaman, air dan hara tanah yang melimpah bagi kehidupan pertanian. 

Pertanyaannya,  kenapa masyarakat Aceh baik sebagai nelayan atau petani masih belum termanfaatkan sumber daya tersebut secara optimum atau mengambil nilai tambah ini, dan dimana kendalanya?

Nelayan KitaKita tidak bisa memandang Nelayan sebelah mata.  Dasar berfikir untuk pengembangan nelayan sebenarnya sama seperti memikirkan masalah sebuah industri, permasalahan secara umum, diantaranya:

1. Fasilitas atau tempat melakukan kegiatan

Pelabuhan Neleyan, Kuala, Kapal, dan alat tangkap di seluruh pesisir Aceh belum sempurna.

Beberapa Kabupaten belum ada sebuah Pelabuhan Perikanan yang cukup memadai, dalam arti fasilitas pelabuhan sering terjadi pendangkalan, sehingga perahu nelayan sulit mencapai TP atau Dermaga.

Ini adalah faktor utama yang harus dilihat dan difikirkan kembali. Banyak pengusaha Aceh yang berniat untuk mengembangkan Industri Perikanan ini, tetapi tingkat kelayakan pelabuhan daerahnya kurang mendukung.

Apabila pengusaha daerah kabupaten masing-masing mau mengembangkan sektor ini akan terbuka lapangan kerja bagi keluarga nelayan setempat.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh/dinikmati oleh warganya. Hilangkan kendala utama ini, benahi dan siapkan pelabuhan tempat sandar perahu nelayan yang bisa digunakan oleh kapal-kapal nelayan baik kecil maupun besar (5 GT sampai >60 GT).

2. Sumber Daya Manusia

Masyarakat nelayan kita umumnya masih digolongkan sebagai nelayan tradisional yang mengandalkan pengetahuan dari leluhur. 

Peningkatan sumberdaya manusia bukanlah pandai mengharungi lautan, tetapi harus pandai dalam ilmu kenelayanan, pandai menggunakan teknologi penangkapan dan proses penangkapan yang akurat. 

Pandai dalam membaca situasi iklim (musim) dan kendala lain di laut, pandai dalam memprediksi keberadaan ikan, dan masa periode keberadaan ikan (migrasi ikan) di lautan, dan padai dalam menangani (handling) hasil tangkap, sehingga kualitas yang didapat bagus.

3. Teknologi Penangkapan

Minimnya teknologi penangkapan dan penanganan (handling) hasil tangkapan selalu membuat kita tertinggal dalam mendapat hasil  yang maksimal.

Penggunaan peralatan yang modern saat ini masih minim atau upaya modifikasi/inovatif agar selalu mempunyai nilai tambah.  Mengandalkan Rumpon, Pancing Gillnet, dan Jaring lainnya, sangat banyak menggunakan energi, tenaga dan biaya.

Saat ini sudah mulai adanya pengembangan Rumpon Portable yang bisa dipindah pindah, suatu hal baru dalam teknologi penangkapan.  Apabila didukung dengan sumberdaya manusia yang kuat mampu mempridiksi alur migrasi ikan merupakan penting dimana rumpon portable dapat diletakkan di sekitar alur migrasi ikan tersebut, tidak lupa juga didukung dengan kapal dan fasilitas yang memadai.

4. Teknologi pengolahan belum memadai

Bila hasil tangkapan berlimpah,  banyak yang tidak terjual dan membusuk.  Teknologi pengolahan selalu terfokus pada keberadaan Cold Storage, yang paling utama lagi adalah cara menangani hasil tangkapan mulai dari diangkat dipermukaan air yang mengalami perbedaan 2 media (media air dan udara) mempengaruhi kualitas daging ikan.

Produk perikanan sifatnya cepat busuk (protein), volume besar, dan berat.  Disini nelayan perlu tata cara (SOP) penanganan dengan baik sesuai dengan jenis ikan dan tujuan pemasaran.  Untuk memenuhi permintaan export (pasar global) sangat utama kualitas.

5. Managemen dan keuangan

Belum serius dalam mengelola managemen, badan usaha seperti koperasi atau apapun nama lain yang bisa mengelola dan membantu dalam keuangan.

Apapun kita sebagai manusia ada kekurangan dan kelebihan, ada saat kita paceklik, atau beban keuangan.  Namun apabila ada managemen keuangan yang baik dapat memperkecil beban ini.

Nelayan dalam 1 tahun kurang lebih 3-4 tidak efektif menangkap ikan di laut, karena ombak besar (dimusim tertentu) akan tetapi nelayan masih bisa bertahan untuk menghidupi keluarga.

Selain itu, berguna untuk penilaian kelayakan  usaha yang dapat diakui oleh Bank. Dengan adanya lembaga keuangan nelayan (Koperasi atau Paguyuban) dapat memperlihatkan suatu industri yang memadai dalam pengelolaan keuangan.

6. Pemasaran

Pemasaran ikan Aceh masih mengandalkan pasar lokal dan pasar regional, belum dapat terjangkau pasar nasional atau internasional secara besar besaran.  Walaupun ada, hanya usaha pribadi dengan produk spesifik.

Kendala pemasaran selalu ada, dimana saat ikan tidak banyak pasar akan minta dengan harga tinggi, namun ketika berlimpah akan harga turun dan tidak ada permintaan.  Salah satu cara memperluas pasar, tidak tergantung pada satu daerah saja (regional), nasional, dan export ke negara tetangga.

Seain itu pengolahan pasca panen yang dapat dilakukan pengolahan (pengawetan) dapat dimanfaatkan dalam bentuk lain, seperti daging ikan kemasan, ikan olahan, ikan kering, ikan asap, kerupuk ikan, tepung ikan, susu ikan, dan lain seperti dijadikan pakan ternak.  Peran sistim degital dalam pemasaran harus dapat dimanfaatkan.

Petani KitaSama juga dengan nelayan,  kita tidak bisa memandang petani sebelah mata.  Dasar berfikir untuk pengembangan pertanian dari hulu dan hilir serta potensi sektoral secara geo-klimatologi, secara umum diantaranya:

1. Pelestarian sumber daya lokal 

Potensi unggulan sumber daya alam lokal belum mendapat perhatian khusus.  Para petani mengejar produksi dengan bibit unggul yang sering mendapat masalah dalam perawatan, ketergantungan pada pupuk dan obat-obatan yang membuat biaya produksi tinggi.

Sumber daya alam golongan tanaman asli lokal Aceh seperti Padi Lokal, Durian, Rambutan, Mangga, bahkan, banyak lain yang sudah hilang tidak dikembangkan lagi.  Semua ini tahan hama sudah beradaptasi dengan iklim Aceh dan memiliki kualitas organik dan nilai jual yang lebih tinggi.

2. Optimalisasi lahan pertanian yang luas

Mengoptimalkan lahan pertanian di wilyah aceh yang terhampar luas dapat dilaksanakan program unggulan, baik unggulan organik ataupun unggulan pertanian spesifik sektoral lainnya.

Lahan yang luas dapat dikembangkan berbagai tanaman mengikuti kebutuhan pasar. Kita harus berfikir arif,  tanaman adalah makhluk hidup, perlu tempat tumbuh yang nyaman, makanan yang cukup, dan kebutuhan lain juga cukup.

Tempat tumbuh yang nyaman adalah tanah harus dibuat subur, hara tanah sebagai makanan yang dibutuhkan harus cukup dan mudah diambil oleh akar tanaman, dan lain seperti air dan sinar mata hari yang cukup.

3. Tersedia Sumber Air 

Sumberdaya air yang berupa irigasi sudah dikembangkan, namun jangkauan alir yang masih belum merata sampai ke lokasi sawah wilayah tertententu dan terjamin tersedia sepanjang tahun.

Ini menjadi salah satu point penting dalam usaha pertanian,  karena ketersediaan air sepanjang tahun tidak hanya padi yang dapat dibudidayakan, tetapi bisa dikembangkan ikan dan itik dengan pola Tani Terpadu (Mina Tani).  

Sumber air di dataran tinggi baik danau, air terjun, mata air harus diidentifikasi dan dipelihara untuk keberlanjutan pertanian.  Perencanaan jaringan irigasi yang baik,  menjamin ketersediaan air sepanjang tahun dan tidak membuat genangan/banjir di wilayah desa yang rendah. 

4. Membangun Semangat Bertani 

Membangun psikologi masyarakat untuk mau bertani dengan semangat membangun, berkreasi, inovatif, dan modernisasi, misalnya dengan selogan “Gerakan Tani Jaya” atau nama lain yang dapat memotivasi kemauan usaha dan belajar.

Saat ini banyak negara yang sudah melaksanakan gerakan ini dengan berbagai sistem, kenapa kita belum melakukannya.  Mungkin keterbatasan sarana utama seperti irigasi dan/atau motivasi.

5. Penerapan mekasisasi pertanian 

Penggunaan peralatan teknis dapat memudahkan proses pekerjaan selain dapat efisiensi waktu dan resiko kecelakaan pekerja. 

Ini sangat tepat bila membentuk kelompok tani dengan modal bersama yang dapat menyediakan peralatan untuk digunakan bersama, meringankan anggota untuk biaya investasi peralatan.

6. Pengolahan pasca panen

Pengololaan pasca panen dapat meningkatkan keuntungan dari nilai jual dan memperoleh bahan sisa yang bukan sebagai produk tujuan (Waste).

Berbagai keuntungan lain yang dapat diperoleh, termasuk dapat memperkecil volume, tahan lama, atau menjadi makanan yang dapat dikonsumsi langsung.

Teknologi pengolahan pasca panen yang berorientasi industri juga memungkinkan bila sudah ada kelompok Tani yang dapat terkumpul lahan menjadi luas dan hasil panen yang banyak.

7. Mengejar pemasaran

Kendala di pemasaran dengan harga murah, petani sering mengeluh karena biaya produksi tinggi disebabkan oleh penggunaan bibit unggul yang mau tidak mau harus menggunakan pupuk yang mahal.

Produk pertanian organik wilyah tertentu yang berlebel green/organik diminati banyak orang mampu bersaing dipasaran, selain sehat, juga nikmat rasanya.

Menerapkan sistim degital dalam pemasaran untuk mempromosi produk tidak terkontaminasi bahan kimia industri (green) yang bernilai gizi baik, diperlukan milenial yang kreatif, memiliki sifat berkarya (inovatif)  dan mampu bersaing (konpetitif).

8. Pemanfaatan bahan sisa (waste)

Sia produk pertanian, baik batang, daun, buah dan akar juga dapat dijadikan sebagai bahan organis untuk menstabilkan hara tanah.  Banyak cara yang dapat diterapkan dengan mudah dari sisa sumberdaya pertanian yang ada.

Siklus organis dalam sisa batang, daun dan ranting akan dikembalikan ke tanah yang nantinya akan jadi buah kembali.  Demikian juga dengan anti hama, banyak sekali dari sisa tanaman jenis tertentu yang menjadi antibiotik atau anti jamur atau anti hama.  Kita tidak berhak membunuh makhluk lain, tetapi kita punya cara membuat hama tidak menyukai tanaman kita.

Saya DR. H. Asfifuddin, S.H, M.H., melalui Caleg DPR RI – Dapil Aceh-1 dari Partai Hanura No. urut 2 niat untuk membantu memperjuangkan mereka, walupun nanti hanya bagian terkecil yang saya dapat perbuat.

Insya Allah kalau dipercaya sebagai wakil rakyat aceh di DPR RI akan saya perjuangkan sebagai balas jasa.

Harapan yang besar dari kita untuk ada perubahan dimasa yang akan datang.

“Tersenyumlah wahai para nelayan dan petani, Tuhan takkan mengkhianati upaya dan kerja keras mu akan berbuah manis mulai hari ini, besok dan nanti”.

Terima kasih banyak saya ucapkan kepada para pembaca tulisan ini. (Adv)