25 Januari 2022
Daerah

Imbas Pandemi, Harga Kopi Gayo Anjlok

Liputangampongnews.id - Imbas dari Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, berdambak buruk terhadap harga jual biji Kopi Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan di dataran tinggi Gayo lainnya, Sabtu (27/11/2021).

Anjloknya harga biji kopi di tanah Gayo menyebabkan petani kopi di dataran tinggi Gayo resah, selain harganya tidak stabil, tahun ini harga jual biji kopi ditingkat petani menurun drastis, kata Rizal salah seorang Petani Kopi yang berhasil dikonfirmasi pewarta media ini.

Harganya turun drastis, tahun sebelumnya harga jual biji kopi didataran tinggi Gayo mencapai Rp.40.000/kg kini menjadi Rp.30.000/kg, sebut Rizal.

Harga kopi gayo turun dikarenakan permintaan dari pasa nasional dan internasional mulai menurun, adapun penyebab lainnya dikarenakan penundaan ekportir pengiriman keluar negeri ditunda dengan alasan system seleksi keluar masuk antar wilayah.

Mayoritasnya kopi gayo di ekspor ke Brazil dan Amerika Serikat (AS). AS saat ini juga sedang dilanda covid-19 yang membuat pemerintah setempat menerapkan kebijakan pembatasan sosial dan penutup wilayah. Kebijakan ini membuat penjualan kopi tertahan.

“Harga jual biji kopi sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar global," kata Armiyadi Pemerhati Kopi Gayo.

Lagi pula kopi ini bukan kebutuhan pokok, sambungnya, disaat-saat pandemi seperti ini, orang lebih memilih membeli sembako dibandingkan kopi,” kata dia.

Selain itu, juga dipengaruhi oleh Kebijakan Pemerintah yang melakukan pembatasan sehingga kafe-kafe di kota besar tutup lebih awal. Ini juga menjadi salah satu penyebab turunnya harga jual biji kopi dipasar domestik, ungkap Armiyadi.

Banda Aceh, yang merupakan pasar kopi terbesar di Aceh, akibat pandemi covid-19 pertengahan tahun lalu terpaksa melakukan pembatasan terhadap aktifitas di warung kopi.

Armiyadi menyarankan sebaiknya para petani menunda dulu penjualan biji kopi. Biji kopi bisa diolah lalu disimpan dan dijual kembali saat harga dipasar Internasional mulai stabil.

Namun, bagi petani kecil yang bergantung hidup pada hasil penjualan kopi, kondisi ini sangat memukul, kata Armiyadi.

Seperti yang dialami Una Mayanti salah seorang petani kopi di Takengon. Dia terpaksa menjual biji kopi dengan harga murah karena memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Rizka)

logologologologologologo
logologologologologologologo