18 Januari 2026
Daerah
BANJIR ACEH

Gundukan Lumpur Jadi Ruang Bermain, Anak-Anak Pidie Jaya Bangkit dari Trauma

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDDi atas gundukan tanah berlumpur yang belum lama ini menjadi saksi amukan banjir bandang, tawa anak-anak kembali terdengar. Di Gampong Pante Beureune, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Selasa (13/1), ruang yang tersisa dari bencana itu berubah menjadi arena bermain sederhana, tempat anak-anak usia sekolah melepas penat dan merajut keberanian yang sempat terkoyak.

Gundukan material lumpur yang mengering mereka jadikan lintasan, tempat berlari, meluncur, dan saling menyemangati. Tanpa mainan mahal, tanpa alas pengaman, hanya tanah, kaki telanjang, dan kebersamaan. Di sana, permainan bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa pemulihan, cara anak-anak menertawakan kembali hari-hari yang pernah menakutkan.

Banjir bandang yang menghantam Pidie Jaya pada 26 November 2025 silam meninggalkan trauma, terutama bagi anak-anak. Air datang tiba-tiba, menyeret barang, memutus rutinitas sekolah, dan menyisakan ketakutan. Namun, di Pante Beureune, mereka memilih bertahan dengan cara mereka sendiri bermain bersama, saling menggenggam, dan membiarkan waktu menyembuhkan.

Berdasarkan dokumen video yang sempat direkam awak media, momen ini menunjukkan kontras yang kuat. Di satu sisi, jalanan masih basah dan sisa-sisa lumpur belum sepenuhnya hilang. Di sisi lain, anak-anak duduk dan bergerak bebas di atas tanah gundukan, wajah mereka fokus dan riang. Sebuah potret kecil tentang daya lenting dan resiliensi yang tumbuh dari keterbatasan.

Warga setempat menyebut, aktivitas bermain itu tak direncanakan. Ia tumbuh alami, seiring anak-anak kembali keluar rumah dan mencari teman. Tanpa disadari, gundukan lumpur berubah menjadi ruang edukasi informal, tempat mereka belajar berbagi, mengatasi rasa takut, dan menumbuhkan kembali rasa aman.

Di tengah proses pemulihan yang masih berjalan, tawa anak-anak di gampong Pante Beureune menjadi pengingat bagi kita semua, untuķ  membangun kembali pascabencana,  bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang memulihkan trauma. Dari tanah yang pernah membawa duka, harapan kecil itu kini tumbuh pelan, namun pasti. (**)