04 Maret 2026
Kisah

Fairus Alkan, Relawan Cilik dari Puing Banjir yang Menyalakan Harapan

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di tengah duka dan puing-puing yang ditinggalkan banjir bandang akhir November 2025, hadir sosok kecil bernama Fairus Alkan Fakih. Bocah yang akrab disapa Fairus ini adalah siswa SDIT An Nur, sekolah yang kini tinggal kenangan setelah roboh dan terbelah oleh aliran sungai baru di wilayah Gampong Mns. Lhok (Mns. Pante) dan Gampong Dayah Usen. Meski bencana merenggut ruang belajarnya, semangat Fairus tak ikut hanyut bersama derasnya air.

Saat banjir bandang menerjang Gampong Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, tempat ia tinggal, Fairus dan keluarganya diselamatkan Allah SWT. Keselamatan itu tak membuatnya berpaling dari penderitaan orang lain. Justru dari peristiwa itulah, nurani kemanusiaan Fairus tumbuh lebih cepat dari usianya, memanggilnya untuk ikut peduli dan bergerak.

Kini, hari-hari Fairus banyak dihabiskan mengikuti ayahnya yang menjadi koordinator posko dan pengungsian di berbagai gampong terdampak banjir. Ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya membantu warga bangkit, terutama anak-anak disabilitas, para lansia, dan perempuan yang menjadi kelompok paling rentan pascabencana. Dari dekat, Fairus belajar bahwa menolong sesama adalah bahasa kemanusiaan yang paling jujur.

Di Gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, Fairus turut mendampingi ayahnya memfasilitasi ketersediaan air bersih bagi warga pengungsi. Fasilitas air yang rusak parah memaksa banyak keluarga hidup dalam keterbatasan. Berkat kepedulian LSM Gerakan Kawan Baik bersama LSM PKGB, CYDC, dan Posko FARMIDIA, instalasi pipa dan mesin sanyo diperbaiki untuk mengalirkan air dari sumur ke menasah gampong, titik pengungsian warga.

Di sela kesibukan orang-orang dewasa, Fairus mengambil peran kecil dengan makna besar. Ia membantu membagikan bekal sederhana yang dititipkan oleh Lembaga Waqeefa Aceh melalui ayahnya. Bekal itu ia serahkan kepada teman-teman sebayanya dan warga terdampak banjir, dengan senyum polos yang menyimpan ketulusan.

Fairus mungkin masih anak-anak, namun langkahnya telah melampaui batas usia. Di tengah kehilangan dan keterbatasan, ia memilih hadir sebagai penguat, bukan sebagai korban semata. Dari tangan kecilnya, kita belajar bahwa kemanusiaan tak mengenal umur, ia lahir dari hati yang mau peduli dan keberanian untuk berbagi. (**)