05 Juni 2026
Opini

Menguliti Fenomena Survival Mode Anak Muda Masa Kini

Oleh: Alissa Yunda Shani (Mahasiswa Prodi Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh

OPINI - Pernahkah Anda terbangun di pagi hari, menatap langit-langit kamar, dan menyadari bahwa Anda tidak lagi menantikan apa pun dalam hidup? Rutinitas harian terasa seperti sebuah naskah yang harus dijalankan secara otomatis. Kuliah, mengerjakan tugas, bekerja, lalu tidur dalam keadaan lelah. Besoknya, siklus itu berulang tanpa ada rasa antusias, tanpa ada rasa bahagia. Kita tidak sedang menikmati hidup, kita hanya sedang bertahan hidup.

Di media sosial, kondisi ini kerap diistilahkan sebagai survival mode. Survival mode adalah kondisi di mana energi psikologis seseorang telah terkuras habis, hingga ia kehilangan kemampuan dasar manusia untuk menikmati keberadaannya di dunia. Survival mode terjadi ketika seseorang mengalami tekanan psikologis kronis dalam jangka panjang. Kencedrungan itu juga terjadi pada anak muda masa kini, seperti tuntutan akademis yang tinggi, ketidakpastian masa depan, hingga beban ekonomi modern memaksa otak kita terus berada dalam mode siaga. Ketika otak terlalu lama difokuskan untuk "menyelamatkan diri" dari stres, sistem mental kita otomatis menutup pintu untuk emosi-emosi sekunder seperti rasa puas, gembira, atau rasa syukur.

Dampaknya adalah apa yang sering disebut sebagai matinya rasa secara emosional. Orang yang terjebak dalam survival mode tidak memiliki sisa kapasitas mental untuk merasakannya. Hidup bergeser dari yang tadinya tentang "bagaimana berkembang dan mengaktualisasikan diri" menjadi sekadar "bagaimana caranya agar hari ini bisa terlewati tanpa harus tumbang".

Menikmati secangkir kopi, mengobrol dengan teman, atau menjalani hobi tidak lagi terasa menyenangkan karena pikiran selalu terkunci pada mode waspada. Sebagai mahasiswa Psikologi, saya melihat fenomena ini sebagai kritik besar terhadap lingkungan sosial modern kita.

Kita sering kali dituntut untuk terus berlari, berkompetisi, dan menjadi produktif tanpa pernah diajarkan bagaimana caranya menjaga tangki emosional kita agar tetap terisi. Kita membiarkan diri kita berfungsi secara mekanis layaknya robot, hingga lupa bagaimana rasanya menjadi manusia seutuhnya yang bisa merasakan keindahan momen hari ini.

Lantas, bagaimana cara keluar dari jebakan hidup yang sekadar bertahan ini? Langkah awal yang bisa kita lakukan secara mandiri adalah dengan membangun kesadaran diri dan mulai menurunkan ego "harus selalu kuat". Kita perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengakui rasa lelah tersebut secara jujur, bukan malah menutupinya dengan kepura-puraan. Mencoba mengalihkan fokus dari kecemasan masa depan ke apa yang sedang terjadi saat ini, sekecil apa pun itu, bisa menjadi awal yang baik.

Belajarlah untuk menerima bahwa tidak semua hal di dunia ini berada di bawah kendali kita. Menurunkan standar ekspektasi harian yang terlalu mencekik setidaknya bisa memberikan ruang bernapas bagi kesehatan mental kita.
Hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk bertahan dari satu kelelahan ke kelelahan berikutnya. Sudah saatnya kita merebut kembali hak kita untuk menikmati hidup. Namun, perlu ditekankan jika Anda merasa kondisi mati rasa, hilangnya motivasi, dan survival mode ini sudah berlangsung sangat lama hingga mengganggu keberfungsian aktivitas anda sebagai mahasiswa atau pekerja, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional dari Psikolog.