18 Januari 2026
Sosial
BANJIR ACEH

Dukungan Psikososial: Mahasiswi KPM UIN Ar-Raniry Hadirkan Harapan bagi Anak Korban Banjir Pidie Jaya

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -
Hamparan sawah yang tertimbun lumpur di Gampong Buangan, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, sore itu tak lagi sepenuhnya menyimpan luka. Di bawah langit mendung sisa musim  banjir, tawa anak-anak perlahan pecah, mengisi ruang yang sebelumnya sunyi oleh trauma. Di tempat itulah, sekelompok mahasiswi Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menghadirkan harapan melalui sentuhan kemanusiaan.

Gampong Buangan menjadi salah satu wilayah yang terdampak banjir bandang pada 25 November 2025 lalu. Air bah merenggut harta, merusak sawah, dan menyisakan ketakutan mendalam, terutama bagi anak-anak. Sejak hari itu, banyak dari mereka kehilangan ruang bermain, rasa aman, bahkan keceriaan yang seharusnya melekat pada masa kanak-kanak.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KPM UIN Ar-Raniry dari Jurusan Kesejahteraan Sosial (Kessos) yang ditempatkan di gampong itu bergerak melakukan dukungan psikososial. Minggu (18/1), mereka mengajak anak-anak korban banjir untuk bermain dan berinteraksi di alam terbuka, menjadikan sawah warga yang tertimbun lumpur sebagai arena kebahagiaan sementara.

Permainan sederhana seperti pecah piring, bernyanyi, dan berkelompok menjadi media pemulihan. Sawah yang sebelumnya menjadi saksi kehancuran kini berubah bak lapangan bola, tempat tawa kecil kembali menemukan jalannya. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, tertawa lepas, seolah melupakan sejenak rasa takut yang pernah menghantui mereka.

Indah Meidiana Putri, mahasiswi Kessos UIN Ar-Raniry, mengatakan bahwa dukungan psikososial sangat penting bagi anak-anak korban bencana. Menurutnya, bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka batin yang sering kali tak terlihat. “Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk kembali merasa bahagia dan percaya diri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan bermain, bercerita, menggambar, dan bernyanyi menjadi cara efektif untuk membantu anak mengekspresikan perasaan sedih, takut, dan cemas yang mereka pendam pasca banjir. Melalui interaksi hangat dan penuh empati, anak-anak didorong untuk berani membuka diri dan kembali tersenyum.

Bagi para mahasiswi KPM, kegiatan ini bukan sekadar menjalankan program pengabdian, tetapi juga panggilan nurani. Mereka hadir bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai pendamping yang mau mendengar, bermain, dan tumbuh bersama anak-anak di tengah keterbatasan.

Pelukan hangat, tepukan kecil, dan sorak sorai sederhana menjadi terapi tanpa obat. Perlahan, anak-anak mulai berani berinteraksi, tertawa bersama teman-temannya, dan menunjukkan kembali keceriaan yang sempat hilang ditelan bencana.

Dukungan psikososial ini diharapkan mampu menjaga kesehatan mental anak-anak agar proses tumbuh kembang mereka tetap berjalan dengan baik. Trauma yang dibiarkan dapat membekas panjang, namun perhatian yang tulus mampu menjadi jembatan pemulihan menuju masa depan yang lebih cerah.

Anak-anak Gampong Buangan adalah generasi penerus Pidie Jaya. Mereka harus dijaga dan dikuatkan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara hati dan jiwa. Di tengah lumpur dan sisa banjir, para mahasiswi KPM UIN Ar-Raniry telah menanam benih harapan, bahwa dari kepedulian kecil, lahir senyum besar yang menyembuhkan. (TS)