12 Desember 2025
Daerah
BANJIR PIDIE JAYA

Bencana Terparah di Pidie Jaya: 23 Nyawa Melayang, Rumah dan Infrastruktur Ambruk, Rakyat Hidup di Pengungsian

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Pidie Jaya pada 2025 meninggalkan dampak kemanusiaan dan kerusakan yang sangat luas. Berdasarkan Data Rekapitulasi Sementara Dampak Banjir dan Longsor Kabupaten Pidie Jaya 2025 dengan surat pernyataan bencana Nomor: 300.2/402.1, tercatat 23 orang meninggal dunia, 390 orang luka berat, 1.437 orang luka ringan, serta 8 orang dinyatakan hilang. Korban jiwa tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Pante Raja, Meurah Dua, Ulim, Jangka Buya, Bandar Dua, dan Trienggadeng.

Dampak paling mencolok terlihat pada persoalan pengungsian. Data mencatat 67.943 jiwa mengungsi dari 13.648 kepala keluarga (KK). Kecamatan Meurah Dua dan Merdu menjadi daerah dengan angka pengungsi besar, masing-masing mencapai 19.524 jiwa dan 14.711 jiwa. Sementara Bandar Baru mencatat 8.251 jiwa, Ulim 9.340 jiwa, Bandar Dua 9.453 jiwa, Trienggadeng 3.102 jiwa, serta Pante Raja 2.725 jiwa. Total terdapat 109 titik pengungsian yang tersebar di seluruh wilayah terdampak.

Secara wilayah, bencana ini menjangkau 222 desa di delapan kecamatan. Kecamatan Pidie Jaya mencatat desa terdampak terbanyak yakni 222 gampong, disusul Bandar Dua 45 desa, Bandar Baru 43 desa, Ulim dan Merdu masing-masing 30 desa, Trienggadeng 27 desa, Meurah Dua 19 desa, Pante Raja 10 desa, dan Jangka Buya 18 desa. Skala wilayah terdampak ini menunjukkan bahwa hampir seluruh penjuru kabupaten merasakan imbas bencana.

Kerusakan pemukiman warga terbilang masif. Data menyebutkan 789 rumah rusak ringan, 453 rusak sedang, dan 9.174 rumah mengalami rusak berat, serta 114 rumah hilang terseret bencana. Kecamatan Merdu, Meurah Dua, dan Ulim masuk dalam wilayah dengan tingkat kerusakan terparah. Selain itu, tercatat 9.288 unit MCK atau sumur warga mengalami kerusakan, menyebabkan krisis sanitasi di banyak wilayah yang kini sangat bergantung pada bantuan air bersih.

Tak hanya rumah warga, sarana umum juga terdampak. Sebanyak 10.562 kendaraan tercatat rusak. Tempat ibadah pun tidak luput dari terjangan banjir dan longsor, dengan total 14 masjid dan 108 meunasah atau mushalla mengalami kerusakan. Di sektor pendidikan, tercatat 59 SD/MI, 20 SMP/MTs, dan 16 SMA/SMK/MA rusak akibat bencana. Kerusakan ini berdampak serius terhadap keberlangsungan pendidikan ribuan siswa di wilayah terdampak.

Sektor pertanian dan peternakan juga mengalami kerugian besar. Tercatat 734 hektare lahan pertanian, 1.057 hektare tambak, dan 12 hektare perkebunan rusak. Untuk ternak, sebanyak 5.413 ekor hewan (sapi, kerbau, dan kambing) terdampak. Sementara infrastruktur umum turut mengalami kerusakan di berbagai titik, termasuk 70 ruas jalan kabupaten, 1 ruas jalan nasional, 2 ruas jalan provinsi, serta 229 jembatan di ruas jalan kabupaten yang terdampak.

Data ini diperbarui terakhir pada 3 Desember 2025 pukul 12.00 WIB, menunjukkan betapa besar skala kehancuran yang ditinggalkan bencana dan mendesak perlunya percepatan bantuan serta pemulihan menyeluruh. (**)