Tong Sampah Berlapis Emas, Protet Suram Pendidikan Kita
Foto : Ilustrasi | LIPUTAN GAMPONG NEWS
Pawang Beurandeh: "Polem, peu na neu teupeu? Kepala sekolah kita kini memerlukan bantuan dinas hanya untuk menyediakan tong sampah."
Polem Beuransah: "Sungguh ironis, Pawang. Bukankah itu seharusnya hal kecil yang bisa mereka atasi sendiri?"
Pawang Beurandeh: "Lebih parah lagi, dinas mengalokasikan dana tujuh miliar untuk itu."
Polem Beuransah: "Tujuh miliar untuk tong sampah? Betapa mewahnya sampah di negeri kita."
Pawang Beurandeh: "Aku bertanya-tanya, apakah kepala sekolah kita sudah kehilangan daya pikir?"
Polem Beuransah: "Atau barangkali kepala dinasnya sedang kehilangan akal."
Pawang Beurandeh: "Seharusnya, kreativitas dalam mengelola sekolah lahir dari kepala sekolah."
Polem Beuransah: "Tapi yang lahir kini hanyalah ketergantungan dan pemborosan."
Pawang Beurandeh: "Apa sulitnya meminta siswa membawa satu tong bekas dari rumah masing-masing?"
Polem Beuransah: "Atau menggerakkan gotong royong, seperti dulu kala kita membangun balai desa."
Pawang Beurandeh: "Kalau begitu, uang tujuh miliar itu seharusnya bisa digunakan untuk beasiswa."
Polem Beuransah: "Atau memperbaiki perpustakaan sekolah yang atapnya bocor."
Pawang Beurandeh: "Mereka lebih memilih mengelola anggaran berdasarkan proyek, bukan kebutuhan."
Polem Beuransah: "Karena proyek ada uangnya, kebutuhan hanya ada di hati nurani."
Pawang Beurandeh: "Aku merasa malu sebagai orang tua."
Polem Beuransah: "Malu itu tanda hati masih hidup, Pawang. Semoga mereka juga segera malu."
Pawang Beurandeh: "Apakah kita harus mengirim surat protes ke dinas?"
Polem Beuransah: "Lebih baik kita ajak semua rakyat membuka mata dan berbicara lantang."
Pawang Beurandeh: "Aku khawatir, jika tong sampah saja butuh proyek, jangan-jangan nanti proyek sendok nasi pun ada."
Polem Beuransah: "Bisa jadi, Pawang. Negeri ini kadang lebih cepat membuat proyek daripada membuat perubahan."
Pawang Beurandeh: "Jika demikian, jangan heran pendidikan kita makin terpuruk."
Polem Beuransah: "Karena yang dipelihara bukan kecerdasan, melainkan kemalasan."
Pawang Beurandeh: "Di kampung ini, kami mengajari anak-anak bertanggung jawab tanpa menunggu bantuan."
Polem Beuransah: "Sementara di sekolah kota, anak-anak diajari bergantung tanpa batas."
Pawang Beurandeh: "Lucu sekali, tong sampah kini menjadi simbol kemajuan pendidikan."
Polem Beuransah: "Mungkin nanti akan ada lomba tong sampah nasional, siapa tahu."
Pawang Beurandeh: "Apakah daerah kita akan terus seperti ini, Polem?"
Polem Beuransah: "Tidak, Pawang. Selama masih ada orang waras yang mau berbicara."
Pawang Beurandeh: "Maka hari ini, mari kita berjanji: takkan diam melihat kebodohan."
Polem Beuransah: "Setuju, Pawang. Kita lawan, meski hanya dengan kata-kata."