Sisi Gelap Tren Mental Health Awareness di TikTok
Oleh: Chairatul A'fifah - Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
OPINI - Dulu, membicarakan kesehatan mental dianggap hal yang tabu. Orang yang mengaku cemas, stres, atau depresi sering kali dianggap lemah, kurang bersyukur, bahkan dicap berlebihan. Namun sekarang, keadaan mulai berubah. Media sosial, khususnya TikTok, membuat isu kesehatan mental semakin sering dibicarakan oleh banyak orang, terutama remaja dan mahasiswa.
Di satu sisi, hal ini tentu menjadi perkembangan yang baik. Banyak orang mulai sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Orang-orang juga mulai lebih berani mencari bantuan dan terbuka terhadap kondisi psikologis yang mereka alami.
Namun, di balik meningkatnya kesadaran tersebut, muncul fenomena lain yang cukup mengkhawatirkan, yaitu kebiasaan mendiagnosis diri sendiri atau self-diagnosis melalui media sosial. Sedikit merasa cemas langsung dianggap anxiety disorder, sering lupa dianggap ADHD, suasana hati berubah-ubah dianggap bipolar, dan rasa sedih berkepanjangan langsung disebut depresi. Fenomena ini perlahan membuat gangguan mental seperti menjadi bagian dari tren di media sosial.
TikTok memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang generasi sekarang terhadap kesehatan mental. Video-video singkat dengan pembahasan sederhana memang mudah dipahami dan terasa relate dengan kehidupan sehari-hari. Masalahnya, banyak konten yang menyederhanakan gangguan psikologis yang sebenarnya kompleks menjadi hanya beberapa ciri umum saja. Akibatnya, banyak orang merasa dirinya memiliki gangguan tertentu hanya karena mengalami hal yang sebenarnya masih tergolong normal.
Padahal dalam psikologi klinis, diagnosis tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Gangguan mental memiliki kriteria tertentu yang harus dianalisis secara mendalam oleh profesional seperti psikolog atau psikiater. Prosesnya pun tidak singkat karena membutuhkan wawancara, observasi, serta pemahaman terhadap kondisi individu secara menyeluruh. Karena itu, menyimpulkan kondisi psikologis hanya berdasarkan video TikTok tentu bukan langkah yang tepat.
Fenomena ini juga berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk merasa dimengerti dan diterima. Ketika menemukan konten yang sesuai dengan apa yang dirasakan, seseorang merasa memiliki tempat dan komunitas yang memahami dirinya. Tidak sedikit yang akhirnya menjadikan label gangguan mental sebagai identitas diri di media sosial. Tanpa disadari, muncul semacam “FOMO gangguan jiwa”, di mana seseorang takut tertinggal dari tren pembicaraan kesehatan mental yang sedang ramai.
Yang lebih berbahaya, kebiasaan ini bisa membuat seseorang semakin cemas terhadap dirinya sendiri. Orang yang awalnya hanya mengalami stres biasa bisa menjadi takut berlebihan karena merasa memiliki gangguan mental tertentu. Selain itu, penggunaan istilah psikologis secara sembarangan juga membuat makna gangguan mental menjadi kabur di masyarakat.
Padahal, bagi orang yang benar-benar mengalami gangguan psikologis, kondisi tersebut bukan sesuatu yang ringan atau sekadar tren media sosial. Mereka mengalami kesulitan nyata dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan membutuhkan penanganan yang serius.
Kesadaran terhadap kesehatan mental memang penting, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman yang benar. Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk menambah pengetahuan dan mengenali diri, bukan tempat untuk menentukan diagnosis sendiri. Karena pada akhirnya, tidak semua hal yang terasa relate adalah gangguan mental, dan tidak semua rasa sedih berarti depresi.
Generasi sekarang perlu lebih kritis dalam menerima informasi psikologi di media sosial. Sebab kesehatan mental bukan sekadar tren digital yang bisa diikuti siapa saja, melainkan kondisi nyata yang perlu dipahami dengan bijak dan bertanggung jawab.






