19 Februari 2026
Opini

Sering Disamakan, Ternyata Berbeda: Memahami Banjir dan Genangan Secara Tepat

Penulis : Jailani, S.Sos (Jurnalis/Ketua Tagana Pidie Jaya)

OPINI - Setiap musim hujan tiba, dua istilah ini kembali mencuat di ruang publik: banjir dan genangan. Sekilas keduanya tampak sama—air meluap dan menutup daratan. Namun di balik kesamaan visual tersebut, terdapat perbedaan mendasar yang menentukan tingkat risiko, dampak, hingga strategi penanganannya.

Pemahaman yang tepat mengenai perbedaan banjir dan genangan bukan sekadar soal istilah teknis. Ia berkaitan langsung dengan keselamatan warga, kebijakan pemerintah, serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian meningkat intensitasnya akibat perubahan iklim dan tekanan pembangunan.

Perbedaan dari Skala Waktu dan Intensitas

Salah satu pembeda utama antara banjir dan genangan terletak pada durasi kejadiannya.

Banjir umumnya berlangsung dalam waktu yang relatif lama, lebih dari 24 jam, bahkan bisa berhari-hari tergantung kondisi curah hujan dan sistem aliran sungai. Air yang merendam cenderung tidak cepat surut karena volume yang besar dan sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air.

Sebaliknya, genangan bersifat sementara. Air biasanya menggenang kurang dari 24 jam dan akan surut setelah hujan berhenti atau saluran air kembali lancar. Genangan sering muncul di titik-titik tertentu seperti persimpangan jalan, halaman rumah, atau kawasan yang lebih rendah dari permukaan sekitarnya.

Durasi inilah yang menjadi indikator awal untuk menilai tingkat ancaman. Semakin lama air bertahan, semakin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan.

Skala Ruang dan Ketinggian Air

Dari sisi cakupan wilayah, banjir memiliki dampak yang lebih luas. Ketinggian air pada peristiwa banjir umumnya melebihi 40 sentimeter dan dapat mencapai lebih dari satu meter, menenggelamkan rumah, fasilitas umum, lahan pertanian, bahkan akses transportasi utama. Area terdampaknya bisa meliputi ratusan meter hingga beberapa kilometer persegi.

Genangan, di sisi lain, biasanya memiliki ketinggian air di bawah 40 sentimeter dan terkonsentrasi pada area terbatas, dengan radius kurang dari 100 meter. Walaupun tetap mengganggu, genangan jarang meluas hingga menutup kawasan secara menyeluruh.

Perbedaan skala ruang ini sangat penting dalam konteks respons darurat. Banjir membutuhkan mobilisasi bantuan logistik, evakuasi warga, serta dukungan lintas sektor. Sementara genangan lebih sering ditangani melalui perbaikan teknis seperti pembersihan saluran air.

Penyebab: Kombinasi Alam dan Ulah Manusia

Banjir biasanya dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan sungai meluap. Namun, kondisi tersebut sering diperparah oleh kerusakan daerah aliran sungai, berkurangnya kawasan resapan air, alih fungsi lahan, serta tata ruang yang tidak memperhitungkan risiko bencana.

Dengan kata lain, banjir bukan semata peristiwa alam, melainkan juga cerminan tata kelola lingkungan.

Sementara itu, genangan lebih dominan dipicu oleh masalah teknis di tingkat lokal. Drainase yang tersumbat sampah, gorong-gorong yang tidak berfungsi, atau permukaan jalan yang tidak memiliki kemiringan memadai menjadi penyebab umum terjadinya genangan. Dalam banyak kasus, persoalan ini dapat diatasi melalui perawatan rutin dan kedisiplinan menjaga kebersihan lingkungan.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Perbedaan paling signifikan terlihat pada dampak yang ditimbulkan.

Banjir dapat menyebabkan kerugian besar, mulai dari rusaknya rumah dan harta benda, lumpuhnya aktivitas ekonomi, terganggunya layanan pendidikan dan kesehatan, hingga ancaman keselamatan jiwa. Warga sering kali harus mengungsi, meninggalkan tempat tinggal, dan menunggu bantuan distribusi logistik. Trauma psikologis juga menjadi dampak yang tidak jarang muncul, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.

Genangan, meskipun mengganggu aktivitas harian, umumnya tidak menimbulkan kerugian besar. Dampaknya lebih bersifat sementara, seperti kemacetan lalu lintas, keterlambatan aktivitas kerja, atau gangguan kecil pada fasilitas umum.

Namun demikian, genangan yang terjadi berulang-ulang bisa menjadi indikator adanya persoalan tata kota yang perlu segera dibenahi sebelum berkembang menjadi banjir yang lebih besar.

Mitigasi dan Peran Masyarakat

Memahami perbedaan banjir dan genangan menjadi kunci dalam menentukan langkah mitigasi.

Untuk mencegah banjir, dibutuhkan pendekatan menyeluruh:

Penataan ruang berbasis risiko bencana
Perlindungan kawasan resapan air
Normalisasi sungai
Pembangunan sistem drainase terpadu
Edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana

Sementara penanganan genangan dapat dimulai dari langkah sederhana:

Tidak membuang sampah sembarangan
Membersihkan saluran air secara berkala
Memastikan gorong-gorong dan parit berfungsi baik

Kesadaran kolektif menjadi fondasi utama. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam kebijakan dan infrastruktur, tetapi masyarakat memegang peran penting dalam menjaga lingkungan sehari-hari.

Literasi Kebencanaan di Tengah Perubahan Iklim

Dalam konteks perubahan iklim global, intensitas hujan ekstrem cenderung meningkat. Hal ini berpotensi memperbesar risiko banjir di berbagai wilayah, terutama kawasan perkotaan dengan kepadatan tinggi dan minim ruang terbuka hijau.

Karena itu, literasi kebencanaan harus terus diperkuat. Masyarakat perlu memahami kapan suatu peristiwa masih tergolong genangan biasa dan kapan sudah masuk kategori banjir yang membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Air yang datang mungkin terlihat serupa, tetapi dampaknya bisa berbeda jauh. Mengenali perbedaannya adalah langkah awal untuk mengurangi risiko dan membangun ketahanan bersama.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan hanya soal reaksi saat bencana terjadi, melainkan tentang upaya pencegahan yang konsisten sejak dini. Karena dalam menghadapi air yang meluap, pengetahuan adalah perlindungan pertama.