30 Juni 2026
Kisah

Ridwan, Disabilitas Pejuang Nafkah Halal Berjualan Pisang dengan Becak Tua di Pidie Jaya

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPanas matahari siang itu menyelimuti jalan-jalan di Kabupaten Pidie Jaya. Di antara lalu lalang kendaraan, sebuah becak tua rakitan bergerak perlahan menyusuri lorong dan permukiman warga. Di atasnya tersusun tandan-tandan pisang ayam dan beberapa buah labu. Pengemudinya adalah Ridwan (26), warga Gampong Beunot, Kecamatan Meureudu, seorang penyandang disabilitas sejak lahir yang memilih berjuang mencari nafkah dengan keringatnya sendiri.

Sejak pukul 08.00 WIB setiap pagi hingga sekitar pukul 20.00 WIB, Ridwan berkeliling menawarkan dagangannya dari satu kampung ke kampung lainnya. Pisang ayam yang dijualnya diambil dari seorang pedagang di Keude Meureudu. Modal utamanya bukan uang yang melimpah, melainkan kepercayaan. Sang pedagang mempercayakan pisang kepadanya untuk dijual, sebuah kepercayaan yang terus dijaga Ridwan dengan penuh tanggung jawab.

Perjuangan itu tidak pernah mudah. Keterbatasan pada kaki dan tangan membuat setiap gerakan membutuhkan usaha lebih besar dibanding kebanyakan orang. Namun, becak roda dua rakitan yang telah dimodifikasi dengan setang khusus menjadi sahabat setianya. Dengan kendaraan sederhana itulah ia mampu mengarungi jalanan selama berjam-jam setiap hari, menantang panas, hujan, dan kelelahan demi membawa pulang rezeki yang halal.

Dalam sehari, Ridwan rata-rata mampu menjual sekitar 20 tandan pisang. Dari setiap tandan, keuntungan yang diperoleh berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000. Jika dihitung, penghasilannya sekitar Rp90 ribu per hari. Namun, sebagian besar pendapatan itu kembali terpakai untuk biaya operasional, terutama membeli bensin becak yang menghabiskan sekitar Rp40 ribu setiap hari. Meski demikian, ia tetap bersyukur dengan apa yang diperolehnya.

Saat ditemui awak media di Meunasah Gampong Dayah U Paneuk, Selasa (30/6), tepat usai menunaikan salat Zuhur berjamaah, Ridwan menyambut dengan senyum yang sederhana. Tak ada keluhan panjang yang keluar dari lisannya. "Alhamdulillah cukup," ucapnya singkat, namun penuh makna, menggambarkan hati yang menerima setiap ketetapan dengan lapang.

Di tengah kesibukan mencari nafkah, Ridwan tidak pernah melupakan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Setiap kali azan berkumandang, ia menghentikan perjalanan dan mencari masjid atau meunasah terdekat untuk menunaikan salat berjamaah. Baginya, bekerja adalah bagian dari ibadah, tetapi ibadah kepada Allah tetap menjadi prioritas yang tidak boleh ditinggalkan.
Kini, becak rakitan yang selama bertahun-tahun menjadi penopang hidupnya mulai dimakan usia. Mesin sering bermasalah dan kondisinya sudah jauh dari kata layak. Dengan wajah yang sedikit menunduk, Ridwan berharap suatu saat ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya maupun para dermawan yang bersedia membantunya memiliki becak yang lebih aman dan layak digunakan. "Becak ini sudah tidak layak jalan lagi," katanya lirih.

Di balik segala keterbatasannya, Ridwan mengajarkan arti sebuah harga diri. Ia memilih bekerja daripada meminta-minta. Jika ada orang yang dengan ikhlas memberinya sedekah, ia menerimanya dengan rasa syukur, tetapi ia tidak pernah menjadikannya sebagai harapan utama. Baginya, usaha adalah jalan yang harus ditempuh, sedangkan hasil sepenuhnya menjadi urusan Allah. "Bekerja itu ibadah, rezeki urusan Allah," tuturnya. Kalimat sederhana itu menjadi pesan yang kuat, bahwa semangat hidup, keikhlasan, dan rasa syukur sering kali lahir dari mereka yang paling banyak diuji. (TS)