Refleksi Psikologis atas Mimpi Keluarga yang Tersimpan Diam-diam
Oleh: Dimas Segara - Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
OPINI - Sabtu kemarin menjadi salah satu hari yang tidak mudah saya lupakan. Bukan karena ada kejadian besar atau sesuatu yang luar biasa secara fisik, tapi karena di ruangan kecil itu, dalam sebuah kegiatan mini sharing group yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Psikologi UIN Ar-Raniry, saya menyaksikan sesuatu yang jarang sekali bisa kita lihat di kehidupan sehari-hari: orang-orang yang berani jujur tentang keluarganya sendiri. Tema yang diangkat sangat relevan dan dalam "Proyeksi Hati: Bingkai Mimpi Dalam Cinema, Bukan Sekadar Film, Tapi Kisah yang Paling Dekat dengan Hidupmu". Sebuah tema yang terdengar puitis, tapi setelah saya duduk dan benar-benar mengikuti sesinya, saya sadar ini bukan sekadar estetika tema semata. Ini menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu bagaimana setiap dari kita ternyata menyimpan mimpi tentang keluarga, namun sangat jarang punya ruang untuk mengungkapkannya.
Sebagai mahasiswa psikologi, saya sudah cukup banyak membaca teori tentang keluarga. Dalam teori attachment, Bowlby menekankan bahwa kedekatan yang aman antara anak dan figur pengasuh membentuk dasar rasa aman serta memengaruhi perkembangan relasi anak di kemudian hari (Cassidy et al., 2013). Baumrind menjelaskan bahwa pola asuh orang tua, seperti otoritatif, otoriter, permisif, dan tidak terlibat, berperan besar dalam membentuk perilaku dan perkembangan anak (Baumrind, 1966). Sementara itu, Bronfenbrenner menempatkan keluarga sebagai mikrosistem pertama yang paling dekat dengan perkembangan individu, sehingga lingkungan rumah menjadi fondasi awal pembentukan kepribadian dan cara pandang seseorang (Bronfenbrenner, 1979).
Semuanya indah di atas kertas, tetapi kegiatan kemarin menyadarkan saya bahwa teori-teori itu baru benar-benar terasa hidup ketika kita mendengar langsung cerita nyata dari orang-orang di sekeliling kita. Miss Iklima membuka sesi dengan sebuah pernyataan yang sederhana tapi langsung menampar saudara kandung bisa tumbuh di rumah yang sama, namun memiliki pengalaman masa kecil yang sama sekali berbeda. Ini bukan pernyataan baru secara ilmiah. Dalam psikologi, hal ini berkaitan erat dengan apa yang disebut non-shared environment, yaitu lingkungan yang tidak dibagi secara sama antar saudara kandung meskipun mereka tinggal di bawah atap yang sama.
Urutan kelahiran, kondisi ekonomi keluarga saat anak lahir, kondisi emosional orang tua, bahkan jenis kelamin anak, semuanya mempengaruhi bagaimana pola pengasuhan diberikan. Tapi yang saya rasakan dari pengantar itu bukan sekadar pemahaman akademis. Melainkan betapa banyak dari kita yang selama ini diam-diam bertanya dalam hati: kenapa aku diperlakukan berbeda? Kenapa rasanya kakak atau adikku mendapat lebih banyak perhatian? Dan jawaban ilmiahnya mungkin sudah kita tahu, tapi secara emosional, luka itu tidak serta-merta sembuh hanya karena kita paham teorinya. Salah satu sesi yang paling berkesan adalah ketika peserta diminta menuliskan makna dari kata-kata sederhana seperti ibu, ayah, keluarga, dan rumah. Empat kata yang tampaknya mudah, tapi ternyata membuat banyak orang terdiam cukup lama sebelum mulai menulis. Bahkan ada yang tidak bisa menahan air matanya. Dalam perspektif psikologi, aktivitas menulis ekspresif seperti ini dikenal memiliki efek terapeutik yang signifikan.
James Pennebaker, seorang psikolog dari University of Texas, sudah meneliti selama puluhan tahun bahwa menulis tentang pengalaman emosional yang selama ini ditekan dapat meningkatkan kesehatan psikologis seseorang secara nyata. Bukan karena tulisan itu memberikan solusi, tapi karena proses menulis sendiri memaksa kita untuk memberi nama pada perasaan yang selama ini mengambang tidak jelas di dalam dada. Ketika saya melihat teman-teman menangis saat menulis, saya tidak melihat itu sebagai tanda kesedihan yang membebani. Saya melihat itu sebagai sebuah pelepasan, sebuah katarsis dalam pengertian yang paling manusiawi. Tangisan itu bukan tangisan karena merasa kasihan pada diri sendiri, tapi tangisan karena akhirnya perasaan yang sudah lama dibungkam mendapat ruang untuk keluar. Dan menurut saya itu adalah salah satu hal paling sehat yang bisa dilakukan manusia. Yang membuat kegiatan ini begitu intens adalah ketika satu per satu peserta mulai menceritakan potongan film yang mereka pilih untuk mewakili mimpi keluarga mereka di masa depan. Di situlah mulai benar-benar sadar bahwa mimpi seseorang tentang keluarga masa depan sangat dipengaruhi oleh pengalaman keluarganya saat ini atau di masa lalu.
Teman-teman yang memilih adegan film tentang kehangatan makan malam bersama, karena di rumahnya sendiri momen seperti itu nyaris tidak pernah ada. Ada yang memilih adegan seorang ayah yang memeluk anaknya dengan bangga, karena ia tumbuh dengan ayah yang jarang sekali menunjukkan afeksi secara verbal maupun fisik. Dan ada juga yang memilih adegan tentang ibu yang selalu hadir di setiap momen penting, karena kehilangan sosok ibu sebelum sempat merasakannya dengan utuh. Dari sudut pandang psikologi, ini sangat berkaitan dengan konsep kompensasi psikologis. Manusia cenderung menginginkan apa yang selama ini tidak mereka dapatkan.
Mimpi tentang keluarga yang hangat, terbuka, dan penuh kasih sayang bukan sekadar angan-angan kosong. Itu adalah bentuk respons psikologis terhadap kebutuhan dasar yang belum terpenuhi. Hal yang membuat saya tertarik adalah hampir semua orang yang hadir di ruangan itu memiliki inti mimpi yang sama, ingin dicintai dengan cara yang terasa nyata, ingin punya rumah yang aman untuk pulang, dan menginginkan keluarga yang menjadi tempat pertama mereka merasa cukup.
Satu hal yang disampaikan dalam kegiatan ini dan membuatku berpikir panjang setelahnya adalah pengingat bahwa orang tua kita juga pernah menjadi anak. Mereka juga pernah tumbuh dengan luka mereka sendiri, dengan keluarga mereka masing-masing yang mungkin juga tidak sempurna. Cara mereka mengasuh kita seringkali adalah cerminan dari apa yang pernah mereka terima atau tidak terima dulu. Berkaitan dengan psikolog, ini dikenal sebagai intergenerational transmission of trauma, yaitu bagaimana pola luka, pola pengasuhan, bahkan cara seseorang mengekspresikan cinta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa disadari. Seorang ayah yang tidak pernah diajarkan cara menunjukkan kasih sayang secara verbal akan cenderung melakukan hal yang sama kepada anaknya, bukan karena ia tidak mencintai anaknya, tapi karena ia tidak tahu caranya yang lain.
Ini bukan pembelaan untuk semua bentuk pengabaian atau perlakuan yang menyakitkan dalam keluarga. Tapi ini adalah pengingat bahwa menyalahkan orang tua secara habis-habisan pun tidak akan menyelesaikan lukanya. Lebih penting lagi adalah bagaimana kita sebagai generasi yang sudah punya lebih banyak akses pada ilmu psikologi dan kesadaran diri, bisa menjadi orang yang memutus siklus itu. Bisa menjadi orang yang sadar, yang mau belajar, dan yang suatu hari nanti akan memberikan pola pengasuhan yang lebih sehat kepada keluarga yang kita bangun sendiri.
Kegiatan mini sharing group seperti ini menyadarkan kita semua akan satu hal lagi yang seringkali kita anggap sepele, yaitu pentingnya ruang aman untuk bercerita. Di tengah kehidupan perkuliahan yang penuh tekanan akademis, tugas, ujian, dan ekspektasi, kita jarang sekali punya ruang untuk benar-benar duduk dan berbicara tentang perasaan yang lebih dalam, apalagi tentang keluarga yang seringkali menjadi topik paling personal sekaligus paling menyentuh. Ketika seseorang akhirnya berani bercerita tentang ayahnya yang selalu tampak kuat, atau ibunya yang selalu ada meskipun dalam diam, dan kemudian mendapatkan respons berupa tepuk tangan dan pelukan dari orang-orang di sekitarnya, itu bukan hal kecil. Itu adalah validasi emosional. Dan validasi emosional, menurut banyak literatur psikologi klinis, adalah salah satu kebutuhan psikologis paling mendasar manusia yang ketika tidak terpenuhi, bisa menjadi sumber banyak masalah kesehatan mental jangka panjang.
Saya percaya bahwa kegiatan seperti ini, meskipun sederhana dalam format, memiliki dampak yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Karena satu orang yang akhirnya merasa didengar bisa membawa pulang rasa lega yang mempengaruhi cara ia berinteraksi dengan keluarganya, dengan dirinya sendiri, dan dengan orang-orang di sekitarnya. Pulang dari kegiatan itu dengan dada yang terasa penuh. Bukan penuh sesak, tapi penuh dalam artian ada banyak hal yang tiba-tiba terasa lebih bermakna. Teori-teori yang selama ini saya baca di buku teks terasa lebih hidup setelah saya menyaksikan langsung bagaimana manusia sungguhan berjuang dengan keluarganya masing-masing, bagaimana air mata bisa menjadi bahasa yang paling jujur, dan bagaimana mimpi tentang keluarga bisa menjadi motivasi terbesar seseorang untuk terus bertahan. Sebagai mahasiswa psikologi, saya dilatih untuk memahami manusia secara ilmiah.kegiatan kemarin mengingatkan saya bahwa memahami manusia tidak cukup hanya dengan teori. Kita perlu hadir, kita perlu mendengar kita perlu berani dan duduk dalam perasaan orang lain tanpa terburu-buru menawarkan solusi. Karena terkadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan jawaban yang tepat. Tapi seseorang yang mau menemaninya duduk dalam pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab itu.
Dan mungkin itulah yang paling indah dari menjadi calon psikolog bukan kemampuan untuk memperbaiki orang, tapi kapasitas untuk benar-benar hadir bagi mereka. "Semoga setiap mimpi tentang keluarga yang hangat itu suatu hari benar-benar terwujud. Untuk siapapun yang sedang berjuang, kamu tidak sendiri."






