Ratusan Pengendara Terjebak di Kuta Blang, Sistem One Way Tengah Malam Diprotes Warga
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Kebijakan sistem satu arah (one way) di kawasan Jembatan Kuta Blang, Bireuen, menuai protes keras dari para pengguna jalan. Minimnya informasi dan papan petunjuk di lapangan membuat ratusan pengemudi mobil pribadi dari arah Banda Aceh menuju Medan terjebak kemacetan panjang di tengah malam buta.
Ironisnya, para pengendara yang sudah mengantre lama baru mengetahui adanya pengalihan arus setelah tiba di bibir Jembatan Kuta Blang. Mereka dipaksa memutar balik kendaraan untuk melewati jalur alternatif Jembatan Awe Geutah. Rute ini dinilai menyulitkan, terlebih bagi pelintas luar kota yang tidak menguasai medan jalan pada malam hari.
Keluhan Pengendara: Minim Rambu dan Petugas
Mirzan, salah satu pengemudi yang hendak pulang menuju Panton Labu, Aceh Utara, menyayangkan penerapan sistem one way yang dinilainya kurang matang dan tidak tepat sasaran.
Menurut Mirzan, kekesalan warga memuncak karena titik pengalihan arus tidak dijaga oleh petugas di waktu-waktu krusial, seperti di persimpangan masuk Matangglumpang Dua menuju Awe Geutah.
"Seharusnya kendaraan dari arah Medan yang diarahkan ke Awe Geutah sejak awal, jadi petunjuknya jelas. Di simpang masuk arah Awe Geutah yang satu lagi ada Banpol dan warga yang siaga 24 jam mengatur lalu lintas. Sedangkan di Matang (arah masuk ke Awe Geutah) justru kosong, tidak ada yang menjaga," keluh Mirzan.
Ia menambahkan, papan petunjuk yang dipasang di persimpangan jalan juga sama sekali tidak terlihat di malam hari. Selain posisinya yang kurang strategis, papan informasi tersebut kerap tertutup oleh kendaraan lain yang berada di barisan depan.
Sentilan "Selat Hormuz" dan Desakan Evaluasi
Akibat pengalihan arus yang membingungkan ini, para sopir dan warga setempat dengan nada satire menjuluki kawasan Jembatan Kuta Blang laksana "Selat Hormuz"—jalur sempit penuh ketegangan yang dikendalikan penuh oleh otoritas setempat tanpa memikirkan nasib pengguna jalan.
Masyarakat meminta kepada pihak kepolisian, Dinas Perhubungan, serta otoritas terkait selaku "penguasa jalur" untuk segera mengevaluasi skema lalu lintas tersebut.
Para pengguna jalan mendesak agar:
Penempatan Personel Ditata Ulang: Menempatkan petugas aktif di titik masuk Matang menuju Awe Geutah, terutama pada malam hari.
Perbaikan Visibilitas Rambu: Memasang rambu petunjuk yang menyala (fluorescent) atau lampu isyarat jauh sebelum titik persimpangan agar tidak terhalang kendaraan lain.
Masyarakat berharap perubahan sistem ini segera dilakukan agar para pelintas malam dapat menikmati perjalanan dengan aman, nyaman, dan bebas dari jebakan kemacetan yang menguras waktu serta tenaga. (Donaparu)






