20 Februari 2026
Daerah
Daerah

Ramadhan Tanpa Air Bersih, Korban Banjir Pidie Jaya Menanti Setetes Kepedulian

LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Memasuki hari-hari awal Ramadhan 1447 Hijriah, suasana harap dan khusyuk justru dibayangi kegelisahan di sejumlah gampong terdampak banjir di Kecamatan Meureudu dan Kecamatan Meurahdua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Warga yang masih berjuang memulihkan diri dari bencana kini menghadapi persoalan mendasar, yakni krisis air bersih. Di bulan suci yang seharusnya menghadirkan ketenangan, mereka justru harus menghitung setiap tetes air untuk kebutuhan sehari-hari.

Aly, warga Gampong Meunasah Balek, Kecamatan Meureudu menuturkan bahwa pasokan air bersih saat ini hanya datang setiap tiga hari sekali melalui mobil tangki milik BPBD Pidie Jaya. Itupun, setiap rumah tangga hanya memperoleh satu drum kecil karena keterbatasan tempat penampungan. “PDAM rusak total, air sumur berbau dan tidak bisa digunakan. Kebutuhan air bersih sangat mendesak bagi kami warga terdampak,” ujarnya lirih.

Kondisi ini semakin berat karena air bukan sekadar kebutuhan konsumsi, tetapi juga menjadi bagian penting dari ibadah Ramadhan. Untuk memasak sahur dan berbuka, untuk berwudhu dan menjaga kebersihan keluarga, semuanya membutuhkan ketersediaan air yang cukup dan layak. Namun bagi warga yang rumah dan ekonominya terdampak banjir, mengangkut air dengan sepeda motor atau becak menjadi beban tambahan yang tak mudah dipikul.

Keluhan serupa juga disampaikan Zubaidah warga di Kecamatan Meurahdua . Mereka mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Lapangan pekerjaan terganggu, sumber pendapatan menurun, sementara biaya hidup terus berjalan. “Jangankan membeli air bersih, untuk uang jajan anak sekolah saja kami kesulitan. Kami korban tak punya anggaran,” ungkap seorang warga yang ditemui di lokasi terdampak.

Di tengah keterbatasan itu, harapan mereka sederhana, perhatian dan langkah cepat dari pemerintah daerah. Fasilitas negara yang ada diharapkan dapat dioptimalkan untuk memastikan distribusi air bersih lebih rutin dan merata. “Kami mohon dan tolong bantu kami Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati. Kami butuh air bersih. Kalau bisa, suplai jangan tiga hari sekali,” pinta Anto, menyuarakan harapan banyak keluarga.

Ramadan adalah bulan kepedulian dan solidaritas. Sudah selayaknya kebutuhan paling mendasar warga, air bersih menjadi prioritas bersama. Setetes kebijakan yang berpihak hari ini bukan hanya menyelesaikan persoalan logistik, tetapi juga menghadirkan rasa keadilan dan kemanusiaan bagi masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana. (**)