30 Juli 2026
Proh Cakra
Pawang Beurandeh & Polem Beuransah

Politik itu Seperti Kopi, Enak Saat Diracik Bersama, Pahit & Hambar Kalau Diminum Sendirian!

Foto : AI Karikatur | LIPUTAN GAMPONG NEWS

PROHCAKRA - Warung kopi Gampong mulai rame. Pawang Beurandeh sedang menyeruput kopi hitam pancong. Polem Beuransah datang membawa Bada Sueum. Keduanya nyaris setahun tak pernah bertemu empat mata, kini mereka hadir kembali dengan nuansa yang berbeda. Usai salaman dan cipika cipiki, Dua Pokoro Chik Gampong itu mulai berdiskusi tentang perpecahan ditubuh kekuasaan di daerah mereka.

Polem Beuransah:
"Lon hireun ku kalon, Pawang, watei pilkada, dua pimpinan kita terlihat kompak, saling pegangan tangan, rangkul-rangkulan, senyam-senyum, soe yang meurumpok cipika-cipiki, sampai pipi keram. Jinoe pakon ka KREH KROH Pawang?"

Pawang Beurandeh:
"Nyan biasa, Polem. Watei kampanye awai perlei suara rakyat dan kursi kekuasaan. Setelah di dapat, ternyata meja juga harus dibagi. Nah...di situlah mulai KREH KROH."

Polem Beuransah:
"Jadi bukan rebutan kepentingan rakyat lagi Pawang?"

Pawang Beurandeh:
"Rakyat tetap disebut di rapat dan seremoni. Tapi yang bikin syeh syoh itu pembagian kue kekuasaan, siapa pegang proyek ini, siapa pegang pejabat itu. Yang satu bilang, 'Harus ada keseimbangan.' Yang satu lagi kukuh, 'Undang-undang sudah mengatur, ikuti saja.'"

Polem Beuransah:
"Berarti yang satu pakai perasaan, yang satu lagi pakai pasal dan aturan, aturan keu gob, ken keudroe?"

Pawang Beurandeh:
"Kurang lebih begitu. Padahal kalau perasaan dan pasal bisa duduk minum kopi saboh meja, mungkin tak sampai pecah kongsi."

Polem Beuransah:
"Lheuh nyan Pawang, Kiban Teuma?"

Pawang Beurandeh:
"Ya, lheuh nyan kon ka mulai panas. Mula-mula cuma beda pendapat. Lalu beda tafsir. Naik sedikit jadi beda arah. Ujung-ujungnya...PHAAK LUYAAK!...Bicah kongsi."

Polem Beuransah:
"Pawang, itu mirip kehidupan kawan saya, satu rumah ada dua koalisi."

Pawang Beurandeh:
"Koalisi Peu Polem?"

Polem Beuransah:
Koalisi Pecah Kongsi....Gajinya sudah jelas, dicatatan meutuleh breuh lhei kilo, tunjangan istri Rp150 ribe, semuanya sesuai aturan."

Pawang Beurandeh:
"Nah...jadi masalahnya apa?"

Polem Beuransah:
"Masalahnya, anak mereka tiga, yang sulung minta uang sekolah, yang teungoh lakei sepatu, yang bungsu minta susu. Suaminya bilang, 'Sayang, SABAR Ya... di buku gaji Abu tidak ada kolom susu.'"

Pawang Beurandeh:
"Itulah, Polem. Aturan memang penting. Tapi hidup tidak selalu bisa selesai hanya dengan membaca aturan. Kadang perlu komunikasi, saling mengerti, dan sedikit mengalah. Kalau semua merasa paling benar, bukan cuma rumah tangga yang ribut, pemerintahan pun bisa ikut panas."

Polem Beuransah:
"Jadi hikmahnya apa, Pawang?"

Pawang Beurandeh:
"Pilkada itu bukan garis finis. Itu baru pintu masuk ujian. Waktu mengejar jabatan, semua bilang 'kita'. Setelah menang, mulai sibuk menghitung ' ini punya saya' dan ' ini bagian mu."

Polem Beuransah:
"Politik itu seperti makan kuah Beulangong, Pawang. Watei lam kuali semua terlihat sama. Begitu masuk piring, baru sibuk menghitung siapa dapat Sie Kameng, siapa cuma kebagian Boh Panah. 

By: Pawang Beurandeh & Polem Beuransah