Mengapa Hubungan Ayah dan Anak Perempuan Bisa Menjadi Renggang?
Oleh : Andini Ashyfa Ryshanta - Mahasiswi Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
OPINI - Hubungan ayah dan anak perempuan tidak selalu berjalan hangat, terutama setelah perceraian dan berkurangnya komunikasi emosional dalam keluarga.
Hubungan ayah dan anak perempuan merupakan salah satu hubungan emosional yang penting dalam keluarga. Namun setelah perceraian orang tua, banyak anak perempuan mulai mengalami jarak emosional dengan ayahnya sendiri. Perubahan suasana keluarga, komunikasi yang semakin terbatas, dan konflik yang belum selesai sering membuat hubungan tersebut perlahan menjadi renggang.
Tidak semua anak perempuan dapat menjalani hubungan yang hangat dengan ayah setelah perceraian terjadi. Pada beberapa kondisi, anak justru tumbuh dalam hubungan yang dipenuhi tekanan emosional. Ayah yang mudah marah, selalu ingin dianggap benar, dan sulit menerima penolakan sering membuat anak merasa tidak nyaman untuk terbuka.
Akibatnya, banyak anak perempuan menjadi lebih berhati-hati dalam berbicara dan memilih memendam perasaannya sendiri. Mereka takut dianggap melawan atau memicu konflik ketika menyampaikan pendapat yang berbeda. Hubungan ayah dan anak perempuan yang seharusnya menjadi tempat aman perlahan berubahan menjadi hubungan yang penuh jarak emosional.
Sayangnya, lingkungan sekitar sering kali tidak benar-benar memahami kondisi tersebut. Kalimat seperti, "mau bagaimanapun kan tetap ayah", sering diucapkan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan anak. Tidak semua hubungan ayah dan anak perempuan dipenuhi kenyamanan dan rasa aman seperti yang dibayangkan banyak orang.
Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental anak perempuan. Anak menjadi lebih tertutup, sulit mengekspresikan perasaan, dan merasa sendirian menghadapi tekanan dalam keluarga. Dalam jangka panjang, hubungan yang tidak sehat dengan ayah dapat memengaruhi rasa percaya diri dan cara anak membangun hubungan dengan orang lain.
Hubungan ayah dan anak perempuan sebenarnya tidak hanya tentang kehadiran secara fisik, tetapi juga tentang komunikasi, rasa aman, tetapi juga tentang komunikasi, rasa aman, dan dukungan emosional. Anak perempuan membutuhkan sosok ayah yang mampu mendengarkan dan memahami, bukan hanya hadir sebagai figur dalam keluarga.
Pada akhirnya, perceraian tidak selalu menjadi penyebab utama renggangnya hubungn ayah dan anak perempuan. Cara komunikasi, sikap dalam menghadapi anak, dan kemampuan membangun kedekatan emosional juga memiliki pengaruh besar terhadap hubungan tersebut. Karena bagi sebagian anak perempuan, luka terbesar bukan berasal dari perpisahan orang tua, melainkan dari hilangnya rasa aman dalam hubungan dengan ayahnya sendiri.






