Lestarikan Tradisi Membaca Al-Qur'an Ba'da Maghrib: Dr. Safwan Serukan Perjuangan dan Pelestarian Budaya Islami
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Ibadah Shalat Maghrib merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang dilaksanakan setiap hari. Usai menunaikan shalat tersebut, umat Muslim kerap mengisi waktu dengan berbagai aktivitas ibadah, salah satunya membaca Al-Qur'an.
Namun, tradisi membaca Al-Qur'an setelah Shalat Maghrib yang dahulu begitu digalakkan kini kini seolah pudar, ibarat debu diterpa angin.
Dr. Safwan, S.Pd.I., M.Ag., Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Pidie, menyoroti fenomena ini. Melalui media ini, Selasa (26/11) malam WIB mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya budaya tersebut.
Dalam kesempatan berbicara, ia berharap agar tradisi membaca Al-Qur'an ba’da Shalat Maghrib dapat dihidupkan kembali budaya membaca Al-Qur'an ba’da Maghrib, yang pernah menjadi ciri khas religius masyarakat Pidie, Aceh.
"Dulu, ada seorang pemimpin di Kabupaten Pidie yang mencanangkan program one day one ayat setiap selesai Shalat Maghrib. Tradisi itu mengakar kuat di masyarakat.
Sayangnya, sekarang seperti hilang ditelan angin. Kita berharap, pada masa kepemimpinan Bupati Pidie periode 2025-2030 mendatang wajib menghidupkan kembali tradisi ini," ungkap Dr. Safwan dengan nada prihatin.
Dalam konteks pemilihan kepala daerah yang akan datang, Dr. Safwan berharap pemimpin terpilih di periode 2025-2030 dapat menghidupkan kembali budaya membaca Al-Qur'an setelah Maghrib. Menurutnya, tradisi ini tidak hanya sekadar ibadah, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter generasi muda.
Manfaat Spiritual dan Sosial yang Tak Ternilai
Dr. Safwan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an memiliki banyak keutamaan, baik secara spiritual maupun sosial. "Membaca Al-Qur'an adalah ibadah yang mendatangkan pahala besar.
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk membaca dan mengamalkannya setiap hari. Ini bukan hanya soal pahala, tetapi juga menciptakan ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah SWT," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya program ini untuk anak-anak dan remaja, khususnya usia 7 hingga 17 tahun. Menurutnya, membaca Al-Qur'an ba'da Maghrib bisa menjadi alternatif yang positif untuk mencegah anak-anak berkeliaran di luar rumah pada malam hari.
"Orang tua harus memastikan anak-anak sudah di rumah dan terlibat dalam kegiatan ini. Pemerintah pun harus mengambil peran dalam memastikan program ini berjalan," tegasnya.
Dukungan Penuh dari MAA Kabupaten Pidie
Dr. Safwan menambahkan bahwa MAA Kabupaten Pidie siap mendorong pemerintah agar serius melestarikan budaya ini. Ia optimistis, dengan dukungan masyarakat dan pemimpin yang peduli, tradisi membaca Al-Qur'an ba'da Maghrib dapat kembali menjadi kebanggaan daerah.
"Menghidupkan budaya ini bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga investasi untuk masa depan generasi yang lebih baik. Kami di MAA akan terus mendorong program ini agar menjadi prioritas pemerintah ke depan," pungkas Dr. Safwan.
Tradisi membaca Al-Qur'an ba’da Maghrib adalah warisan berharga yang tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga menjadi benteng moral bagi masyarakat. Dengan komitmen bersama, tradisi ini dapat terus lestari dan menjadi inspirasi bagi daerah lain. (**)