Fenomena Ikutan Budaya Asing yang Kebablasan : Refleksi untuk Masyarakat Aceh
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia, terutama masyarakat Aceh yang dikenal religius dan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam—tampak semakin mudah terpengaruh oleh tren dan budaya asing, khususnya yang berkembang di media sosial. Dari cara berpakaian, gaya bicara, hingga bentuk ekspresi dalam hari raya, banyak yang tanpa sadar telah mengadopsi simbol, kebiasaan, bahkan budaya yang tidak berasal dari nilai-nilai lokal maupun syariat Islam.
Aceh, sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam dan memiliki identitas keislaman yang kuat, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi penjaga budaya islami di Indonesia. Namun, arus globalisasi dan media digital yang tanpa filter kini menjadi tantangan nyata bagi pelestarian nilai-nilai tersebut.
Budaya asing yang masuk seringkali dibungkus dalam bentuk hiburan, tantangan TikTok, tren Instagram, atau gaya selebriti dunia. Tanpa disadari, generasi muda Aceh mulai meniru tanpa mengkaji asal-usul dan maknanya. Simbol tangan, gaya menari, hingga cara berbicara dalam konteks ibadah dan hari besar keagamaan pun tercemar oleh tren yang belum tentu sejalan dengan Islam.
Sebagian besar masyarakat mungkin hanya menganggap ini sebagai “gaya baru” atau bentuk ekspresi kebahagiaan. Namun, bagi umat Islam yang memahami pentingnya tasyabbuh, hal ini patut diwaspadai. Bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman, tetapi perlu ada filter nilai agar budaya yang masuk tidak mengikis akar identitas dan iman.
Masyarakat Aceh membutuhkan peran aktif dari para tokoh agama, pendidik, dan pemuda dakwah untuk memberi pencerahan, bukan dengan marah atau mencaci, tetapi dengan pendekatan hikmah dan kasih sayang. Generasi muda harus diajak berpikir kritis: apakah budaya yang mereka ikuti membawa keberkahan, atau malah menjauhkan dari nilai Islam?
Kita tak anti tren, tetapi kita harus pro nilai.
Kita tak benci perubahan, tetapi kita ingin arah yang benar.
Dan sebagai bangsa yang besar, terutama masyarakat Aceh yang punya warisan ulama dan syariat, kita seharusnya tidak hanya menjadi pengikut tren, tetapi pencipta peradaban. (Tgk.Mulyadi)