11 September 2026
Kisah

Jejak Sayidina Ali di Madinah, Merajut Rindu di Kota Rasulullah

LIPUTANGAMPONGNEWS.IDPerjalanan menuju Kota Madinah dimulai dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, sekitar pukul 17.30 WIB. Dengan pesawat Garuda Indonesia Airbus, rombongan jamaah menembus malam menuju Jeddah dan tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz sekitar pukul 20.00 waktu Arab Saudi. Dari Jeddah, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Madinah. Pagi sekitar pukul 09.00 waktu setempat, rombongan akhirnya memasuki kota yang sejak berabad-abad silam menjadi tempat bersemayamnya kerinduan umat Islam kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Belum lama menginjakkan kaki di Madinah, jamaah Travel Mitra Hasanah di bawah bimbingan muthawif Abi Saidi langsung mempersiapkan diri menuju Masjid Nabawi. Rasa lelah setelah perjalanan panjang seakan luruh ketika kaki mulai melangkah menuju masjid yang namanya selalu hadir dalam doa jutaan umat Islam. Disana, jamaah berkesempatan menunaikan salat Jumat, berziarah dan menyampaikan salam kepada Baginda Rasulullah SAW serta kepada dua sahabat utama beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Saat itulah perjalanan terasa bukan lagi sekadar perpindahan dari satu negeri ke negeri lain, melainkan perjalanan hati menyusuri jejak sejarah Islam.

Kesempatan memasuki Raudhah semakin membuat perjalanan spiritual itu terasa istimewa. Raudhah merupakan bagian dari Masjid Nabawi yang memiliki kedudukan khusus berdasarkan hadis Nabi. Di tempat itu, jamaah berusaha menundukkan hati, memperbanyak doa, zikir dan shalawat. Ditengah langkah manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia, ada perasaan yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata, betapa kecilnya manusia ketika berdiri di hadapan sejarah, tetapi betapa besar harapan yang dibawanya ketika kedua tangan terangkat memohon kepada Allah SWT.

Namun, diluar kemegahan Masjid Nabawi, perhatian penulis kemudian tertuju kepada sejumlah bangunan bersejarah di kawasan Madinah. Di antaranya terdapat Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Masjid Umar bin Khattab dan Masjid Ali bin Abi Thalib. Nama-nama tersebut bukan sekadar nama yang melekat pada bangunan masjid. Ia mengingatkan kita kepada para sahabat Rasulullah SAW yang hidup bersama Nabi, berjuang membela Islam dan turut meletakkan dasar peradaban Islam. Masjid Ali termasuk salah satu bangunan bersejarah di kawasan yang dikenal sebagai Masjid Tujuh, yang berkaitan erat dengan kawasan Khandaq atau Perang Ahzab.

Menurut keterangan sejarah yang tercantum pada papan informasi di lokasi, tempat Masjid Ali berada merupakan salah satu lokasi tempat Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan salat di kawasan Al-Mushalla. Masjid tersebut kemudian dinamai Masjid Ali karena Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah memimpin salat Idul Adha di tempat itu pada tahun 35 Hijriah, pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Masjid ini diperkirakan dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz ketika menjabat sebagai gubernur Madinah pada era Dinasti Umayyah, sekitar tahun 87–93 Hijriah.

Sejarah masjid itu ternyata tidak berhenti disana. Pada tahun 881 Hijriah, Zainuddin al-Manshuri, penguasa Madinah, membangun kembali masjid tersebut setelah mengalami kerusakan. Bangunan yang ada kemudian mengalami sejumlah renovasi dan pemeliharaan. Pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, masjid tersebut kembali direnovasi dan diperluas pada tahun 1411 Hijriah. Perawatan juga dilakukan pada masa pemerintahan Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada tahun 1434 Hijriah, sebelum kembali mendapatkan pemeliharaan pada masa Raja Salman bin Abdul Aziz sebagai bagian dari proyek perawatan masjid dan situs-situs bersejarah di Madinah Al-Munawwarah.

Dari halaman hotel tempat jamaah menginap, tepatnya kawasan Al Andalus Dar Alsalam Hotel, pemandangan burung-burung merpati menjadi sesuatu yang menarik perhatian. Merpati beterbangan dan berkerumun di sekitar pelataran masjid. Burung-burung itu seolah menjadi bagian dari keseharian Kota Madinah. Ditengah pemandangan itu, mata penulis justru tertuju kepada sebuah bangunan berwarna putih yang tampak tenang di antara hiruk-pikuk kehidupan kota, yakni Masjid Ali bin Abi Thalib.

Ada cerita menarik yang disampaikan Abi Fakhrurrazi, salah seorang jamaah asal Aceh. Ia mengaku memperhatikan bahwa merpati seakan tidak hinggap di atas bangunan Masjid Ali. Bagi sebagian jamaah, pemandangan tersebut kemudian dimaknai sebagai sesuatu yang mengandung pesan spiritual. Bahkan berkembang cerita bahwa hal itu berkaitan dengan kesucian hati Sayidina Ali bin Abi Thalib.

Namun, cerita tersebut bukan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti secara ilmiah maupun berdasarkan sumber sejarah yang kuat.
Terlepas dari cerita tentang merpati itu, Masjid Ali tetap menghadirkan renungan yang dalam. Sayidina Ali bin Abi Thalib dikenang dalam sejarah Islam sebagai salah seorang sahabat utama Rasulullah SAW. Sosok yang dekat dengan Nabi, dikenal karena keberanian, ilmu, pengorbanan dan keteguhannya dalam membela kebenaran. Maka, kekaguman kepada Sayidina Ali semestinya tidak berhenti pada kisah-kisah yang menyentuh hati, tetapi diterjemahkan menjadi kecintaan terhadap ilmu, keberanian menegakkan kebenaran serta keteguhan dalam menjalankan ajaran Islam.

Dari kejauhan, Masjid Ali mungkin hanya tampak sebagai sebuah bangunan putih di antara bangunan-bangunan lain di Kota Madinah. Tetapi bagi seorang musafir yang datang membawa kerinduan, tempat itu mampu membuka ruang perenungan yang panjang. Di kota ini, nama Abu Bakar, Umar dan Ali bukan sekadar nama dalam lembaran sejarah. Para sahabat adalah generasi yang pernah berjalan bersama Rasulullah SAW, menghadapi ujian, mengorbankan harta dan jiwa demi agama, lalu meninggalkan keteladanan yang terus dikenang hingga lebih dari seribu tahun kemudian.

Pada akhirnya, perjalanan ke Madinah bukanlah semata-mata tentang berapa banyak tempat yang dapat dikunjungi atau berapa banyak foto yang berhasil diabadikan. Ia adalah perjalanan untuk memperbaiki cara memandang kehidupan. Di hadapan Masjid Nabawi, hati belajar mencintai Rasulullah SAW. Di Raudhah, hati belajar memohon dengan penuh kerendahan diri. Dan di kawasan Masjid Ali, hati kembali diingatkan bahwa sejarah Islam bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cahaya keteladanan yang semestinya dibawa pulang ke tanah air.

Sebab ketika kaki akhirnya meninggalkan Kota Nabi, yang seharusnya ikut pulang bukan hanya oleh-oleh dari Tanah Suci. Yang lebih berharga adalah hati yang lebih lembut, doa yang lebih panjang, kecintaan yang semakin dalam kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya, serta tekad untuk menjadi manusia yang lebih baik. Barangkali itulah makna terdalam sebuah perjalanan ke Madinah, tubuh kembali ke tanah air, tetapi hati selalu meninggalkan sebagian rindunya di Kota Nabi. (TS)