Feature
Dibalik Kepulangan Empat ODGJ Pulih dari RSJ Aceh, Ada Kisah Farhan Menjadi Cermin Kepedulian Bersama
Foto : Farhan (baju biru tua) kedua dari kiri tersenyum lepas saat tiba di Pidie Jaya. | LIPUTAN GAMPONG NEWS
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa yang menggema di sudut-sudut Kota Banda Aceh, menuntut pencabutan Pergub Aceh terbaru tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), ada kisah lain yang berjalan sunyi di balik riuhnya jalanan. Sebuah kisah tentang tangan-tangan kemanusiaan yang tetap bekerja tanpa sorotan, menjaga harapan bagi mereka yang nyaris dilupakan.
Pagi yang cerah pada Jumat, 15 Mei 2026, sebuah minibus Hiace milik PT Bahtera melaju meninggalkan Banda Aceh menuju Sigli dan Meureudu. Di dalam kendaraan itu, sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh mendampingi delapan mantan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang hendak dipulangkan ke kampung halaman mereka.
Ada empat orang berasal dari Kabupaten Pidie Jaya, sementara empat lainnya dari Kabupaten Pidie, duduk tenang menanti tiba dan berkumpul kembali bersama keluarganya.
Perjalanan panjang itu bukan sekadar perpindahan jarak. Ia adalah perjalanan pulang menuju kehidupan yang perlahan ingin dirajut kembali.
Menjelang sore, langit Pidie Jaya seolah menyimpan harapan baru ketika empat warga tersebut tiba di tanah kelahiran mereka.
Kepulangan mereka disambut langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial P3A Kabupaten Pidie Jaya, Azhariyadi, S.Pi., MM. (Ari Khan) sosok yang tak pernah lelah hadir orang-orang yang butuh rehabilitasi sosial (Rehsos).
Kehadiran pemerintah di tengah proses pemulihan itu menjadi simbol bahwa negara tidak boleh absen bagi warganya yang sedang berjuang bangkit dari luka batin.
Keempat mantan ODGJ tersebut sebelumnya telah melewati proses panjang perawatan medis dan rehabilitasi sosial di Rumah Sakit Jiwa Aceh hingga dinyatakan stabil untuk kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Pemulangan ini menjadi bukti bahwa mereka tidak sendiri. Negara (Pemerintah Daerah) hadir memastikan warga yang pernah mengalami gangguan kejiwaan tetap mendapatkan pendampingan hingga benar-benar kembali diterima di tengah masyarakat,” ujar Ari Khan yang sebelumnya menjabat Kepala Bidang (Kabid) Rehsos di Dinsos P3A.
Di antara empat warga yang dipulangkan, terdapat satu kisah yang begitu menyentuh hati, adalah Farhan (17), remaja yatim piatu asal Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua. Ia merupakan anak asuh Dinas Sosial P3A Kabupaten Pidie Jaya.
Sejak bayi, ia hidup dalam bayang-bayang kekerasan rumah tangga. Luka masa kecil yang tak pernah benar-benar sembuh perlahan tumbuh menjadi tekanan batin yang berat di usia remajanya.
Sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Aceh, Farhan sempat menjalani rehabilitasi aecara agama islam di Panti Asuhan Bustanul Aitam, Ulim.
Namun kondisi emosinya semakin sulit dikendalikan. Ia kerap bertindak agresif, melempari rumah warga hingga kendaraan yang melintas, sehingga membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.
Melihat kondisi itu, pihak panti meminta bantuan Kabid Rehsos, Ari Khan di Dinas Sosial P3A Kabupaten Pidie Jaya untuk melakukan evakuasi dan penanganan medis. Dengan segala keterbatasan, Farhan akhirnya dibawa ke RSJ di Kota Banda Aceh untuk mendapatkan perawatan intensif.
Selama sekitar satu setengah bulan menjalani pengobatan dan pendampingan, perubahan perlahan mulai terlihat. Tatapan remaja itu kini tampak lebih tenang.
Kemarahannya tak lagi meledak-ledak seperti sebelumnya. Di balik sorot matanya, tumbuh harapan baru untuk kembali menjalani hidup dengan lebih baik.
Setibanya di Pidie Jaya, Farhan disambut hangat oleh jajaran Dinas Sosial P3A sebelum kembali diantar ke Panti Asuhan Bustanul Aitam guna melanjutkan pendampingan dan pengasuhan.
Kisah Farhan menjadi pengingat bahwa gangguan kejiwaan sering kali bukan sekadar persoalan medis. Di baliknya, tersembunyi luka panjang, kehilangan, kesepian, dan trauma yang kerap tak terlihat oleh mata.
Masih banyak anak yang tumbuh tanpa pelukan keluarga. Masih ada lansia yang menjalani masa tua dalam keterlantaran. Masih banyak penyandang disabilitas yang belum mendapatkan perlindungan dan perhatian yang layak.
Karena itu, Dinas Sosial P3A Kabupaten Pidie Jaya mengajak masyarakat agar tidak menutup mata terhadap persoalan sosial di lingkungan sekitar. Warga yang menemukan anak terlantar, lansia terlantar, maupun penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan diminta segera melapor agar dapat ditangani lebih cepat.
“Insya Allah atas dukungan penuh Bupati Sibral Malasyi dan Wakil Bupati Hasan Basri, kami akan terus bergerak menjemput, memfasilitasi, memberikan pendampingan, serta membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” kata Ari Khan.
Tambahnya menjelaskan, menurut keterangan Nakes pendamping, bahwa seluruh pasien/ klien yang dipulangkan telah melalui asesmen menyeluruh sebelum kembali ke keluarga masing-masing.
“Pihak RSJ telah memastikan kondisi fisik dan mental klien dalam keadaan stabil serta keluarga benar-benar siap menerima. Pendekatan yang dilakukan berfokus pada kepentingan terbaik bagi klien,” jelasnya.
Setiap pasien juga dibekali obat-obatan untuk kebutuhan satu bulan serta surat kontrol sebagai bagian dari proses pemulihan lanjutan.
Di bumi Japakeh ini, langkah-langkah kemanusiaan mungkin tak selalu terdengar riuh seperti suara demonstrasi di jalanan Kota Banda Aceh. Namun dari tangan-tangan yang bekerja dalam senyap, harapan terus dijaga.
Sebab bagi mereka yang pernah jatuh dalam gelapnya kehidupan, pulang dan kembali diterima adalah bentuk kesembuhan yang paling berarti. (**)






