Beginilah Perjuangan Petani Pidie Jaya Menjaga Sepiring Nasi
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika hamparan persawahan di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, mulai dipenuhi aktivitas petani. Diantara petak-petak sawah yang digenangi air, sejumlah petani terlihat membungkuk, tangan mereka sibuk memisahkan dan mengangkat bibit padi dari persemaian.
Air yang menggenang hingga mata kaki bukan menjadi penghalang. Lumpur menjadi bagian dari keseharian. Dengan tangan yang sudah terbiasa bekerja, bibit-bibit padi dicabut perlahan, dikumpulkan dalam ikatan kecil, kemudian dipindahkan ke petakan sawah yang telah disiapkan.
Dari tempat itulah perjalanan panjang sebatang padi dimulai. Sebelum turun ke sawah, benih terlebih dahulu disemai. Persemaian harus dirawat dengan baik agar menghasilkan bibit yang sehat dan cukup kuat untuk dipindahkan. Ketika waktunya tiba, bibit dicabut satu per satu untuk kemudian ditanam pada lahan yang telah dibajak dan diratakan.
Proses menanam padi membutuhkan ketelitian sekaligus kesabaran. Bibit ditanam secara teratur dengan jarak yang disesuaikan. Satu per satu rumpun kecil ditancapkan ke tanah berlumpur. Pekerjaan yang tampak sederhana itu sesungguhnya membutuhkan tenaga besar, terlebih ketika harus dilakukan berjam-jam di bawah terik matahari.
Usai ditanam, pekerjaan petani belum selesai. Justru perjalanan paling panjang baru dimulai. Sawah harus dijaga ketersediaan airnya, gulma dibersihkan, hama dikendalikan, serta pertumbuhan tanaman terus diperhatikan. Setiap perubahan pada warna dan kondisi daun menjadi perhatian karena sedikit kelalaian dapat memengaruhi hasil ketika musim panen tiba.
Hari demi hari, bibit yang semula hanya berupa rumpun kecil perlahan menghijaukan sawah. Hamparan yang sebelumnya didominasi air dan tanah berubah menjadi permadani hijau. Di balik pemandangan indah itu tersimpan rutinitas panjang petani yang tak selalu terlihat, mereka turun ke sawah, membersihkan gulma, mengatur air, memupuk, hingga mengantisipasi serangan hama.
Waktu kemudian membawa tanaman memasuki fase pembentukan bulir. Warna hijau perlahan berubah kekuningan. Bulir-bulir padi semakin berisi dan batang mulai merunduk. Bagi petani, perubahan itu menjadi tanda bahwa penantian berbulan-bulan mulai mendekati ujungnya.
Panen menjadi saat yang paling dinanti, setelah berbulan-bulan mengeluarkan tenaga, biaya dan waktu, padi yang menguning dipotong, dikumpulkan, kemudian dirontokkan untuk memisahkan gabah dari jerami. Gabah selanjutnya dijemur hingga kadar airnya sesuai sebelum disimpan atau dijual.
Namun, di balik setiap butir beras yang tersaji di meja makan, ada cerita panjang tentang lumpur, air, keringat dan kesabaran. Ada tangan-tangan petani yang sejak pagi bekerja di tengah sawah, memastikan benih kecil yang ditanam hari ini kelak berubah menjadi bulir-bulir padi yang menghidupi keluarga.
Perjalanan petani ditengah hamparan sawah Gampong Meunasah Bie, mereka berada pada salah satu mata rantai, mulai memindahkan bibit dari persemaian menuju lahan tanam. Dari tangan mereka, sebuah musim tanam kembali dimulai, dengan satu harapan sederhana, kelak pulang membawa hasil panen yang cukup untuk menghidupi keluarga. (**)







