BANJIR PIDIE JAYA
Huntara Kelas 1 vs Kipah Situek dan Tika Iboh: Cerita Ketimpangan Hunian Korban Banjir di Pidie Jaya
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya beberapa waktu lalu tidak hanya menyisakan duka dan kerugian materi, tetapi juga menghadirkan cerita baru tentang kehidupan para korban di hunian sementara (huntara). Di balik upaya pemulihan yang terus berjalan, muncul perbedaan fasilitas antara huntara yang ditempati para penyintas.
Sebagian kecil korban banjir diketahui menempati huntara yang tergolong “kelas 1”. Hunian sementara ini dibangun dengan fasilitas yang relatif lengkap. Di dalamnya terdapat pembagian ruang yang lebih layak, kamar tidur yang tertata, serta beberapa perlengkapan yang membuat penghuni merasa sedikit lebih nyaman meski masih berada dalam situasi darurat.
Namun kondisi berbeda dialami oleh ratusan kepala keluarga lainnya yang tinggal di huntara dengan fasilitas jauh lebih sederhana. Bangunan yang mereka tempati hanya berupa ruangan seadanya, dengan pembagian kamar yang terbatas dan minim perlengkapan pendukung. Struktur bangunan pun terasa panas di siang hari karena tidak dilengkapi pelapis atau peredam suhu.
Seorang korban banjir yang kini menempati huntara sederhana itu mengungkapkan keluh kesahnya dengan nada bercampur canda. “Na yang payah ba kipah situek,” ucapnya sambil tersenyum pahit, menggambarkan bagaimana mereka harus mengipasi diri sendiri agar tidak kepanasan di dalam ruangan yang pengap.
Keluhan serupa juga datang dari korban lainnya yang tinggal di lokasi yang sama. Ia menyebut kondisi atap dan bagian loteng yang belum dilapisi dengan baik membuat hawa panas dan tetesan hujan mudah masuk ke dalam ruangan. “Na yang payah ba tika iboh, keu loteng ngon top, bek tireh,” celotehnya, menggambarkan harapan sederhana agar hunian tersebut bisa sedikit lebih nyaman.
Bagi para korban, huntara memang hanya bersifat sementara. Namun dalam kondisi kehilangan rumah dan sebagian harta benda akibat banjir bandang, tempat tinggal darurat itu menjadi satu-satunya ruang untuk memulai kembali kehidupan bersama keluarga.
Di tengah berbagai keterbatasan, para penyintas tetap berusaha bertahan. Mereka saling membantu, berbagi cerita, dan mencoba menjalani hari-hari dengan penuh kesabaran, sembari berharap perhatian dan perbaikan fasilitas dapat segera menyentuh semua penghuni huntara secara merata.
Kisah para korban banjir di Pidie Jaya ini menjadi potret kecil dari perjuangan masyarakat yang sedang bangkit dari bencana. Di balik bangunan sederhana itu, tersimpan harapan agar suatu hari nanti mereka bisa kembali memiliki rumah yang layak dan kehidupan yang lebih baik. (**)









