26 Tahun Menunggu! Mahasiswa ALA Se-Indonesia Nyatakan Perlawanan: Aceh Kaya, Rakyat Wilayah Tengah Menderita
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID - 26 Tahun Menunggu! Mahasiswa ALA Se-Indonesia NyatGelombang dukungan terhadap pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali menguat. Dalam diskusi virtual bertema “Aceh Leuser Antara: Jalan Baru Kesejahteraan atau Tantangan Baru Tata Kelola”, ratusan semangat perjuangan disatukan oleh mahasiswa, pemuda, aktivis, dan tokoh masyarakat ALA dari berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan strategis ini diprakarsai oleh Tiro Irawan selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Gayo Lues (IMGL) Jabodetabek, bekerja sama dengan Ikatan Pemuda Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT), Ikatan Mahasiswa Subulussalam dan Aceh Singkil, BEMPes DKI Jakarta, serta Aliansi Pemuda Aceh Leuser Antara (ALA).
Forum yang digelar Aliansi Pemuda Aceh Leuser Antara (ALA) tersebut menjadi ruang konsolidasi moral sekaligus pernyataan sikap bahwa masyarakat kawasan tengah Aceh sudah terlalu lama hidup dalam ketimpangan pembangunan, meski Aceh dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam.
Tiga narasumber utama, yakni Prof. Rahmad Salam, Armen Desky, dan Zam Zam Mubarok, secara tegas menyampaikan bahwa perjuangan ALA bukan gerakan pemecah Aceh, melainkan upaya menyelamatkan masa depan masyarakat pedalaman Aceh yang selama puluhan tahun dinilai tertinggal dari sisi infrastruktur, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga pemerataan ekonomi.
Prof. Rahmad Salam menegaskan bahwa ALA memiliki potensi besar menjadi provinsi maju apabila dikelola secara serius, modern, dan berbasis kekuatan sumber daya daerah. Menurutnya, perjuangan ALA harus dipahami sebagai gerakan intelektual dan demokratis demi menghadirkan pemerataan pembangunan yang nyata bagi masyarakat Aceh kawasan tengah.
“ALA bukan ancaman bagi perdamaian Aceh. Ini adalah hak demokratis rakyat untuk memperjuangkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih adil,” tegasnya.
Sementara itu, Armen Desky menyoroti keras ironi Aceh yang kaya sumber daya alam namun masih berada dalam kategori provinsi miskin di Sumatera. Ia menyebut pemekaran ALA sebagai solusi strategis untuk memutus rantai ketimpangan pembangunan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
“Sudah 26 tahun aspirasi ALA diperjuangkan. Ini bukti bahwa suara rakyat tidak pernah mati. ALA bukan untuk memecah Aceh, tetapi mempercepat pembangunan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Armen.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat kawasan tengah Aceh tidak boleh terus menjadi penonton di tanahnya sendiri, sementara kekayaan alam daerah terus mengalir tanpa dampak signifikan terhadap kesejahteraan rakyat.
Di sisi lain, Zam Zam Mubarok menyampaikan bahwa aspirasi pembentukan ALA telah melewati berbagai fase sejarah Aceh, mulai dari masa konflik hingga pasca-tsunami. Menurutnya, pemerintah pusat semestinya mulai melihat ALA sebagai kawasan strategis nasional yang memiliki kekuatan geografis, ekonomi, dan sumber daya alam untuk berkembang menjadi daerah otonom baru.
“Masa depan Aceh tidak boleh terus dikurung dalam narasi konflik dan Helsinki semata. Sudah saatnya berbicara tentang pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Aceh,” tegas Zam Zam.
Melalui forum ini, mahasiswa dan pemuda ALA se-Indonesia menyatakan sikap untuk terus mengawal perjuangan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara melalui gerakan intelektual, konsolidasi nasional, diskusi publik, serta perjuangan konstitusional yang damai dan bermartabat.
“Mahasiswa ALA Se-Indonesia Bangkit Berjuang bukan untuk memecah Aceh, tetapi untuk melawan ketimpangan dan menghadirkan keadilan pembangunan bagi masyarakat kawasan tengah Aceh.” (**)






