BANJIR PIDIE JAYA
150 Hektare Sawah Diterjang Banjir, Pidie Jaya Terancam Kehilangan Status Lumbung Padi
LIPUTANGAMPONGNEWS.ID -Banjir besar yang menerjang Kabupaten Pidie Jaya bukan hanya merendam permukiman dan memutus akses jalan nasional akibat ambruknya jembatan Sp. 4 Meuredu, tetapi juga meluluhlantakkan lahan pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga. Laporan sementara menunjukkan sekitar 150 hektare sawah siap panen rusak total, angka yang cukup untuk mengguncang swasembada pangan yang selama ini menjadi kebanggaan daerah tersebut. Dampaknya terasa begitu telak, karena Pidie Jaya dikenal sebagai salah satu lumbung padi utama di Aceh.
Di Kecamatan Meureudu, air bah menghantam areal pertanian paling produktif. Dayah Timue kehilangan 30 hektare lahan panen, Bunot 10 hektare, Geuleudah 20 hektare, serta Teupin Peuraho dan Rambong masing-masing 5 hektare. Rhing Mancang dan Rhing Blang turut menambah daftar kerusakan dengan total 5 hektare. Para petani menyebut bahwa hasil panen tahun ini “seperti direbut dalam semalam”.
Kecamatan Meurah Dua juga tak luput dari kerusakan besar. Gampong Geunteng melaporkan 3 hektare sawah terdampak, Meunasah Bie 15 hektare, Lueng Bimba 3 hektare, serta Beringen 2 hektare. Petani di wilayah ini khawatir bukan hanya kehilangan panen, tetapi juga kehilangan modal tanam berikutnya, mengingat sebagian lahan tertimbun lumpur tebal.
Kecamatan Ulim menjadi wilayah dengan kerusakan terparah. Pulo Lhok kehilangan 5 hektare, Dayah Lubue 20 hektare, Siblah Coh 4 hektare, dan Dayah Baroh 4 hektare. Bale Ulim, Nanggro Timur, dan Nanggro Barat menyumbang angka terbesar dengan total 110 hektare lahan tenggelam. Di lapangan, terlihat banyak petani hanya bisa berdiri memandangi hamparan padi yang rebah dan membusuk.
Di Jangka Buya, kerusakan menyebar di Jurong Ara (20 ha), Jurong Teungoh (10 ha), dan Jurong Binjei (6 ha). Kecamatan Bandar Dua menambah daftar kerugian dengan 40 hektare sawah di Babah Krueng yang lenyap diterjang banjir. Jika dijumlahkan, total kerusakan mendekati 150 hektare, angka yang cukup besar untuk mengancam rantai ketersediaan beras daerah.
Selain merusak ratusan hektare sawah siap panen, banjir kali ini juga mengancam keberlanjutan musim tanam berikutnya. Daerah Irigasi (DI) Meureudu yang selama ini mengairi hampir 2.000 hektare sawah dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat terjangan air bah. Jika jaringan irigasi ini tidak segera dipulihkan, ribuan hektare sawah berpotensi gagal tanam pada musim berikutnya, memperburuk ancaman hilangnya swasembada pangan di Pidie Jaya.
Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Pidie Jaya, drh. Muzakkir, mengatakan bahwa kondisi ini merupakan ancaman serius bagi ketahanan pangan. “Pidie Jaya selama ini adalah sentra produksi beras. Jika kerusakan mencapai ratusan hektare, swasembada pangan bisa runtuh,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa data ini masih bersifat sementara karena sejumlah wilayah masih tidak dapat diakses dan petugas lapangan kesulitan memberi laporan akibat hilangnya jaringan komunikasi. (**)






